Navaswara.com – Kecerdasan buatan makin hadir dalam keseharian, tetapi bersamaan dengan itu, risiko digital ikut bergerak lebih cepat. Ancaman siber tidak lagi bertumpu pada teknik lama, melainkan memanfaatkan AI untuk menyamar, menipu, dan menyerang dengan cara yang semakin sulit dikenali. Bagi banyak pengguna dan perusahaan, tantangannya kini bukan sekadar mengikuti inovasi, tetapi memahami bahaya yang tumbuh di baliknya.
Laporan terbaru Kaspersky mengungkap delapan masalah utama yang akan membentuk lanskap keamanan siber sepanjang 2026.
Masalah pertama datang dari deepfake yang kian menjadi arus utama. Konten palsu berbasis AI tidak lagi muncul sesekali, tetapi hadir dalam berbagai format dan semakin sering ditemui. Perusahaan mulai memasukkan isu ini ke dalam pelatihan internal, sementara pengguna umum juga semakin akrab dengan video atau suara yang ternyata tidak pernah terjadi.
Masalah kedua adalah kualitas deepfake yang terus meningkat. Jika visual sudah terlihat meyakinkan, audio kini menyusul dengan tingkat realisme yang jauh lebih tinggi. Hambatan untuk membuat konten palsu pun menurun drastis, karena alat pembuat deepfake semakin mudah digunakan bahkan oleh orang tanpa latar belakang teknis.
Ketiga, belum adanya sistem pelabelan konten AI yang benar-benar andal. Upaya memberi tanda pada konten sintetis masih terpecah dan mudah dilewati, terutama pada model sumber terbuka. Kondisi ini membuka ruang abu-abu yang membuat pengguna kesulitan membedakan mana konten buatan dan mana yang asli.
Keempat, deepfake real-time memang belum digunakan secara massal, tetapi risikonya meningkat pada serangan yang sangat terarah. Teknologi pertukaran wajah dan suara secara langsung semakin realistis, meski masih membutuhkan keahlian tinggi. Serangan jenis ini berpotensi lebih meyakinkan dalam skenario penipuan tertentu.
Masalah kelima muncul dari model AI sumber terbuka yang kian mendekati kemampuan model tertutup. Tanpa pembatasan yang ketat, model ini beredar luas dan dapat dimanfaatkan untuk tujuan berbahaya. Perbedaan antara sistem berpemilik dan sumber terbuka pun semakin tipis dalam konteks penyalahgunaan.
Keenam, batas antara konten AI yang sah dan palsu semakin kabur. Email penipuan, identitas visual, hingga situs phishing kini dibuat dengan kualitas tinggi. Di sisi lain, merek besar juga menggunakan konten sintetis secara terbuka, membuat tampilan konten AI terasa normal dan familier.
Lalu masalah ketujuh adalah penggunaan AI di hampir seluruh rantai serangan siber. Pelaku memanfaatkannya untuk menulis kode, membangun infrastruktur, hingga mengotomatisasi komunikasi. Jejak keterlibatan AI pun berupaya disamarkan, sehingga serangan makin sulit dianalisis.
Terakhir, AI juga mengubah cara kerja tim keamanan. Sistem berbasis agen mulai memindai infrastruktur secara terus-menerus dan menyajikan konteks ancaman, mendorong pergeseran peran analis dari pekerjaan manual ke pengambilan keputusan.
“AI digunakan untuk menyerang dan bertahan secara bersamaan. Siapa pun yang mampu mengelolanya dengan aman akan menentukan arah keamanan siber ke depan,” kata Vladislav Tushkanov dari Kaspersky.
Dengan penggunaan AI yang semakin meluas, inovasi digital dan risiko siber kini bergerak seiring. Kesiapan menghadapi ancaman menjadi sama pentingnya dengan kemampuan memanfaatkan teknologi baru.
Managing Director Kaspersky Asia Pasifik, Adrian Hia, mengatakan kawasan ini telah menetapkan laju global adopsi AI. “Momentum ini membuka peluang besar, sekaligus mengubah cara ancaman siber muncul dan berkembang. Bisnis perlu bergerak seiring inovasi, sambil memastikan pertahanan digital tetap kuat,” ujarnya.
Dengan adopsi AI yang terus meluas, Asia Pasifik kini berada di titik krusial. Kecepatan inovasi harus diimbangi kesiapan keamanan, karena celah sekecil apa pun dapat dimanfaatkan di lanskap digital yang semakin kompleks.
