Refleksi 21 Tahun Transjakarta: Dari Gagasan Besar Menjadi Layanan Publik Andalan

Navaswara.com – Inisiatif Strategis Transportasi (INSTRAN) bersama Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Jakarta, KPBB, serta Suara Transjakarta menggelar Dialog Refleksi 21 Tahun Transjakarta di Jakarta, Senin (19/1/2026).

Dialog ini diselenggarakan sebagai upaya menggali kembali sejarah lahirnya Transjakarta sekaligus mengevaluasi perjalanan layanan angkutan umum berbasis bus tersebut selama lebih dari dua dekade. Sejak pertama kali beroperasi pada 15 Januari 2004 dengan satu koridor, yakni Blok M–Kota, Transjakarta kini telah berkembang pesat dengan 232 rute, mencakup 14 koridor utama, layanan nonkoridor, angkutan pengumpan Mikrotrans (Jaklingko), serta total armada lebih dari 4.600 unit yang melayani Jakarta hingga wilayah Bodetabek.

Hadir dalam dialog tersebut antara lain Sutiyoso, Gubernur DKI Jakarta periode 1997–2007 yang dikenal sebagai penggagas awal sistem Bus Rapid Transit (BRT) di Jakarta. Welfizon Yuza, Direktur Utama PT Transjakarta, David Tjahjana dari Komunitas Suara Transjakarta, serta Prof. Dr. Bambang Susantono, pakar transportasi nasional.

Gubernur DKI Jakarta periode 1997–2007, Sutiyoso, menceritakan gagasan membangun sistem Bus Rapid Transit (BRT) lahir dari kegelisahan terhadap pertumbuhan kendaraan pribadi yang tidak sebanding dengan kapasitas jalan. Ia kemudian mengumpulkan para pakar transportasi dari kampus dan melakukan studi banding ke berbagai kota dunia.

“Saya sadar, latar belakang militer tidak membuat saya otomatis paham menyelesaikan masalah transportasi. Karena itu saya kumpulkan profesor dan doktor transportasi, kita hitung pertumbuhan kendaraan, lalu mencari model yang paling realistis. Dari situlah konsep transportasi makro Jakarta lahir,” ujar Sutiyoso.

Keputusan paling strategis saat itu adalah memulai dari moda busway, karena dapat dijalankan tanpa investasi besar dan memanfaatkan infrastruktur jalan yang sudah ada.

“Pertanyaan saya waktu itu, moda mana yang bisa dimulai tanpa investor. Jawabannya busway, karena jalannya sudah ada, tinggal pasang separator. Enam bulan saya minta koridor pertama harus jalan,” katanya.

Meski sempat mendapat penolakan keras dari masyarakat, Sutiyoso menegaskan bahwa seorang pemimpin tidak boleh mundur ketika kebijakan dibuat demi kepentingan publik.

“Pemimpin boleh dapat perlawanan, boleh dicaci, tapi jangan pernah mundur kalau itu untuk kepentingan masyarakat,” tegasnya.

Direktur Utama PT Transjakarta Welfizon Yuza, menjelaskan bahwa dalam 21 tahun perjalanannya, Transjakarta telah tumbuh signifikan. Jika pada 2014 jumlah pelanggan harian masih sekitar 300 ribu orang, kini layanan Transjakarta melayani hingga 1,4 juta perjalanan per hari dengan 233 rute aktif. Bahkan, armada bus listrik telah mencapai lebih dari 470 unit.

“Kami menyebut fase 2014–2020 sebagai fase transformasi, lalu 2021 sampai sekarang fase integrasi dan scaling up. Fokus ke depan bukan hanya ekspansi, tapi peningkatan kualitas layanan dan infrastruktur halte,” jelas Welfizon.

Ia juga menjelaskan pentingnya digitalisasi dan inovasi, termasuk pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk memantau keselamatan pengemudi serta pengembangan Transjakarta Academy guna meningkatkan profesionalisme pramudi.

“Keselamatan pramudi risikonya sangat besar. Karena itu kami membangun Transjakarta Academy agar profesi pengemudi diperlakukan setara dengan profesi transportasi lain seperti pilot atau masinis,” tambahnya.

Dari sisi pengguna, data menunjukkan mayoritas pelanggan Transjakarta berasal dari generasi milenial dan Gen Z, dengan komposisi 66 persen perempuan. Hal ini memperkuat kebutuhan layanan yang aman, inklusif, dan ramah bagi semua kelompok masyarakat.

Pakar transportasi dan perkotaan Bambang Susantono menekankan bahwa keberhasilan transportasi publik tidak hanya soal teknologi, tetapi juga keberanian politik dan konsistensi kebijakan.

“Di mana pun, rencana bagus tidak akan berarti tanpa kekuatan politik untuk mewujudkannya. Transportasi publik adalah kewajiban negara kepada warganya,” ujarnya.

Sementara itu, Daryono, perwakilan pengemudi angkutan umum, membagikan dampak sosial dari hadirnya Transjakarta bagi kesejahteraan pengemudi.

“Dulu kami kejar setoran, tidak ada kepastian penghasilan. Sekarang ada sistem gaji, ada kepastian hidup. Ini perubahan besar bagi kami para pengemudi,” ungkapnya.

Refleksi 21 tahun ini juga menyoroti tantangan ke depan, mulai dari revitalisasi halte, peningkatan kenyamanan pelanggan, integrasi antarmoda, hingga perluasan jangkauan pengguna yang saat ini baru sekitar 22–25 persen dari total potensi warga Jakarta dan sekitarnya.

Menutup forum refleksi, manajemen Transjakarta menegaskan komitmen menjadikan Transjakarta sebagai integrator transportasi publik sekaligus milik bersama masyarakat.

“Refleksi ini bukan hanya melihat ke belakang, tetapi menjadi modal untuk mempercepat perbaikan ke depan. Transjakarta harus terus bertransformasi agar benar-benar menjawab kebutuhan warga,” tutup Dirut Transjakarta. (Rtm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *