Putri Bungsu Bill Gates Bangun Startup Fesyen Berkelanjutan di Usia Muda

Navaswara.com – Nama Phoebe Adele Gates selama ini kerap dikaitkan dengan sosok ayahnya, Bill Gates, pendiri Microsoft, dan sang ibu, Melinda French Gates. Namun, alih-alih mengikuti jejak keluarga di dunia teknologi murni atau filantropi, Phoebe memilih jalannya sendiri melalui kewirausahaan fesyen berkelanjutan berbasis kecerdasan buatan.

Belakangan, Phoebe mencuri perhatian lewat Phia, sebuah platform berbasis artificial intelligence (AI) yang dirancang untuk membantu konsumen berbelanja fesyen secara lebih cerdas dan ramah lingkungan.

Perjalanan Phoebe di dunia startup berangkat dari latar akademik yang kuat. Ia menempuh pendidikan di Stanford University dan meraih gelar Human Biology hanya dalam waktu tiga tahun. Phoebe lulus pada 2024.

Saat masih berstatus mahasiswa, ia sudah menyampaikan gagasan bisnisnya kepada Bill dan Melinda Gates. Keduanya mendukung rencana tersebut dengan satu syarat utama, yakni pendidikan tetap menjadi prioritas. Untuk menyeimbangkan kuliah dan bisnis, Phoebe sempat menjalani night school di New York sebelum akhirnya lulus dan fokus mengembangkan startup-nya.

Langkah penting dalam karier Phoebe adalah mendirikan Phia bersama sahabatnya, Sophia Kianni. Platform ini berfungsi sebagai asisten belanja cerdas yang membantu pengguna menemukan produk fesyen secondhand dari berbagai marketplace besar, seperti eBay dan Poshmark.

Phia lahir dari kegelisahan Phoebe terhadap industri fesyen yang dinilai terlalu konsumtif dan berdampak besar terhadap lingkungan. Dengan memanfaatkan AI, platform ini membantu pengguna membandingkan harga dan menemukan alternatif produk bekas yang lebih berkelanjutan.

Startup tersebut mendapat respons positif dari industri. Phia berhasil mengamankan pendanaan awal (seed funding) sebesar US$8 juta atau sekitar Rp126 miliar. Sejumlah figur publik, termasuk Hailey Bieber dan Kris Jenner, juga disebut turut memberikan perhatian terhadap platform ini.

Selain mengembangkan bisnis teknologi, Phoebe juga aktif di dunia media dan advokasi sosial. Bersama Sophia Kianni, ia menjadi pembawa acara podcast The Burnouts yang berada di bawah jaringan Unwell Network. Podcast ini membahas ambisi, kesehatan mental, dan kepercayaan diri perempuan muda, dengan menghadirkan tokoh-tokoh seperti Whitney Wolfe Herd, pendiri Bumble, dan Sara Blakely, pendiri Spanx.

Di luar itu, Phoebe dikenal vokal memperjuangkan hak reproduksi perempuan. Pada 2024, ia dianugerahi gelar Rising Reproductive Freedom Champion oleh organisasi Reproductive Freedom for All atas kiprahnya di bidang tersebut.

Melalui bisnis, media, dan aktivisme, Phoebe Gates berupaya membangun identitasnya sendiri. Ia menjadi representasi generasi muda yang memadukan teknologi, kesadaran sosial, dan pengaruh digital untuk mendorong perubahan, jauh dari label anak miliarder.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *