Navaswara.com – Di banyak rumah hari ini, televisi tetap menyala, lampu ruang tamu tak pernah benar-benar padam, dan ponsel seolah menjadi benda paling setia dalam genggaman. Namun ada satu hal yang pelan-pelan menghilang: suara anak-anak di dalam rumah sendiri.
Bukan karena mereka tak lagi ada, tetapi karena perhatian kita telah berpindah arah.
Ayah pulang membawa penat, namun masih menyisakan energi untuk menggulir layar. Ibu menyiapkan makan malam sembari membalas pesan-pesan yang tak selalu mendesak. Anak-anak pun tumbuh di ruang yang penuh cahaya, tetapi miskin tatap mata.
Kita hidup di zaman paradoks: teknologi mempercepat komunikasi, tetapi memperpendek kehadiran.
Padahal Al-Qur’an menempatkan keluarga sebagai amanah yang besar. Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6). Ayat ini bukan sekadar peringatan spiritual, tetapi juga seruan agar orang tua benar-benar hadir dalam kehidupan anak-anaknya.
Di meja makan, tubuh berkumpul, tetapi jiwa tak selalu menyatu. Percakapan tentang sekolah, tentang mimpi-mimpi kecil, tentang keresahan yang sederhana, tak lagi menemukan ruangnya. Rumah menjadi tempat singgah, bukan lagi tempat pulang.
Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan, “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Kepemimpinan dalam keluarga bukan hanya soal memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga keberanian untuk meletakkan gawai, lalu mendengarkan.
Yang kian jarang kita sadari, kesunyian paling dalam bukan berada di sudut rumah, melainkan di hati anak-anak yang belajar bahwa dunia digital lebih layak diperjuangkan daripada suara mereka sendiri.
Padahal Rasulullah ﷺ telah memberi teladan paling sederhana, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya.” (HR. Tirmidzi). Kebaikan itu sering kali hadir dalam bentuk yang sangat manusiawi: waktu, perhatian, dan kehangatan.
Seorang anak tidak menuntut orang tua yang sempurna. Mereka hanya membutuhkan orang tua yang sungguh-sungguh hadir—dengan mata yang menatap, telinga yang mendengar, dan hati yang tak terbagi.
Mungkin kita tak mampu menghentikan laju teknologi. Namun kita selalu bisa mematikan layar selama tiga puluh menit setiap malam, demi menyalakan kembali percakapan yang sempat padam.
Sebab kelak, yang akan mereka kenang bukan kecanggihan gawai di rumahnya, melainkan seberapa hangat rumah itu pernah memeluk mereka.
