Navaswara.com — Di tengah hamparan padi yang menguning dan senyum petani yang merekah, suasana panen raya terasa berbeda. Riuh tepuk tangan pecah saat Kepala Negara berdiri di hadapan para petani, membawa kabar yang telah lama dinanti. Dari sawah yang basah oleh keringat kerja keras, Indonesia kembali menulis sejarah baru tentang kemandirian pangan.
Presiden Prabowo Subianto pada Rabu, 7 Januari 2026, secara resmi mengumumkan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan nasional, ditandai dengan produksi beras tertinggi sepanjang sejarah dan penghentian impor beras.
Pengumuman tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat kegiatan Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan di Desa Kertamukti, Kecamatan Cilebar, Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
“Hari ini kita telah mencatat suatu kemenangan yang penting. Dengan mengucap bismillah pada 7 Januari 2026, saya Presiden Prabowo Subianto mengumumkan telah tercapainya swasembada pangan bagi rakyat Indonesia,” ujar Presiden di hadapan ribuan petani.
Berdasarkan Kerangka Sampel Area amatan November 2025, Badan Pusat Statistik memprediksi produksi beras nasional tahun 2025 mencapai 34,71 juta ton, melampaui kebutuhan konsumsi dalam negeri.
Presiden mengingatkan bahwa Indonesia pernah mencapai puncak kejayaan pangan pada 1984, ketika cadangan beras nasional mencapai 2 juta ton dan Indonesia mendapat pengakuan dunia dari Food and Agriculture Organization. “Hari ini sejarah itu terulang. Satu tahun kita sudah swasembada, satu tahun kita berdiri di atas kaki sendiri,” tegasnya.
Keberhasilan tersebut berdampak langsung pada pasar global. Penghentian impor oleh Indonesia menurunkan harga beras dunia dari sekitar USD 660 per metrik ton menjadi USD 368 per metrik ton atau turun 44,2 persen.
Pemerintah menempuh berbagai langkah terintegrasi, mulai dari penguatan benih unggul, pompanisasi, modernisasi alat mesin pertanian, hingga percepatan cetak sawah baru. Terobosan juga dilakukan melalui Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 dan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 15 Tahun 2025 yang menyederhanakan 145 regulasi pupuk serta menurunkan harga eceran tertinggi pupuk bersubsidi hingga 20 persen.
Di sisi hilir, Perum BULOG ditugaskan menyerap gabah petani dengan skema any quality seharga Rp6.500 per kilogram. Kebijakan ini mendorong cadangan beras pemerintah mencapai rekor 4,2 juta ton pada Juni 2025 dan saat ini berada di kisaran 3,24 juta ton.
Dampak ekonomi juga dirasakan langsung petani. Nilai Tukar Petani Desember 2025 tercatat 125,35, tertinggi sepanjang sejarah, sementara Produk Domestik Bruto sektor pertanian tumbuh 10,52 persen pada triwulan I 2025.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan capaian ini merupakan hasil kerja kolektif. “Swasembada pangan bukan hanya kerja kami, tapi sinergi seluruh putra bangsa. Atas nama petani Indonesia, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden. Harga gabah naik, harga pupuk turun, dan pupuk tersedia,” ujarnya.
