Navaswara.com – Sekolah Riset Disabilitas membuka ruang baru bagi penyandang disabilitas untuk hadir sebagai peneliti dan penghasil pengetahuan. Melalui program ini, riset tidak lagi ditempatkan sebagai proses yang jauh dari pengalaman hidup, tetapi sebagai alat advokasi yang berangkat dari realitas sehari-hari. Sebanyak 21 penyandang disabilitas terlibat dalam rangkaian pembelajaran yang membentuk kemampuan mereka untuk melakukan dan memimpin penelitian.
Program yang digagas Sentra Advokasi Perempuan, Difabel, dan Anak dengan dukungan KONEKSI ini menunjukkan bagaimana bukti yang dihasilkan langsung oleh penyandang disabilitas dapat memperkuat kebijakan yang lebih inklusif. Riset diposisikan sebagai sarana untuk membaca persoalan secara utuh, sekaligus menjembatani pengalaman personal dengan kebutuhan sistemik di tingkat layanan publik dan pemerintahan.
Sepanjang proses pembelajaran, peserta dibekali pemahaman untuk mengidentifikasi isu disabilitas, merumuskan pertanyaan riset, dan menggunakan perspektif GEDSI serta berbasis hak. Tahap berikutnya membawa peserta berinteraksi langsung dengan komunitas, penyedia layanan, dan pemangku kewajiban. Dari proses tersebut, data lapangan diolah menjadi berbagai bentuk publikasi, seperti kertas kebijakan, artikel jurnal, tulisan populer, hingga video singkat yang mudah diakses publik.
Bagi Dewi, salah satu peserta, program ini mengubah cara ia memandang advokasi. “Dulu saya tidak tahu akomodasi yang layak apa yang saya butuhkan, tetapi SAPDA membantu saya menyadari dan menyuarakan kebutuhan saya,” ujarnya. Pengalaman ini memperkuat kapasitas riset sekaligus kepercayaan diri dalam memperjuangkan hak aksesibilitas.
Perubahan serupa dirasakan Yohana, yang memandang riset advokasi sebagai proses jangka panjang. “Menjadi peneliti adalah memahami konteks, membangun konsep, dan terjun dalam isu. Dan sebagai peneliti advokasi, yang kita tuju adalah perubahan,” katanya. Pandangan ini mencerminkan tujuan inti Sekolah Riset Disabilitas, yakni menempatkan penyandang disabilitas sebagai pembuat pengetahuan yang berakar pada pengalaman hidup.
Beragam tema muncul dari hasil riset para peserta. Topiknya mencakup metode komunikasi bagi Tuli Rungu Ganda, pembelajaran digital yang aksesibel, rekrutmen inklusif, partisipasi politik, hingga layanan kesehatan ramah disabilitas. Keragaman ini menunjukkan luasnya persoalan yang dihadapi penyandang disabilitas serta kemampuan peserta meresponsnya melalui pendekatan riset yang kontekstual.
Para peserta juga menyadari bahwa hasil riset perlu menjangkau audiens yang lebih luas. Mira menekankan bahwa riset tidak harus berhenti pada dokumen teknis. “Riset bisa menjadi konten media sosial, policy brief, leaflet, infografik, atau dokumen yang memengaruhi kebijakan,” ujarnya. Pendekatan ini memperkuat posisi riset sebagai alat advokasi yang praktis dan komunikatif.
Dampak riset mulai terlihat dalam ruang kebijakan daerah. Teguh, peserta dari Bogor, mengungkapkan temuannya tentang aksesibilitas digital di sebuah puskesmas yang kemudian dibawa ke pemerintah daerah sebagai bahan advokasi. Pengalaman ini menunjukkan bagaimana riset yang dipimpin penyandang disabilitas dapat langsung masuk ke proses dialog kebijakan.
Program ini juga memengaruhi jalur akademik peserta. Tarsisius, seorang dosen teknologi informasi, menyebut perspektif GEDSI mengubah arah risetnya secara signifikan. “Sekarang GEDSI menjadi persyaratan riset di fakultas. Saya bahkan memasukkannya dalam proposal S3 saya,” ujarnya.
Tantangan lapangan menjadi bagian penting dari pembelajaran. Maria, pengguna kursi roda, menceritakan pengalamannya menghadapi keterbatasan akses saat mengumpulkan data. Meski demikian, interaksi dengan pemimpin lokal dan apresiasi atas riset yang dilakukan menguatkan keyakinannya bahwa pengalaman hidup memiliki nilai pengetahuan yang penting.
Apresiasi terhadap kualitas riset juga datang dari perwakilan pemerintah dan mitra program. Bagi Kementerian PPN Bappenas, kehadiran penyandang disabilitas sebagai peneliti memberikan perspektif baru dalam penguatan kebijakan. “Saya tidak menyangka para penelitinya adalah penyandang disabilitas sendiri. Dengan fasilitas terbatas, mereka menunjukkan komitmen kuat dan menghasilkan karya yang luar biasa,” ujar Muniha dari Bappenas.
Ke depan, KONEKSI mengembangkan platform daring untuk memprofilkan lulusan Sekolah Riset Disabilitas dan menghubungkan mereka dengan universitas, lembaga pemerintah, LSM, serta mitra di Indonesia dan Australia. Inisiatif ini memperluas jejaring kolaborasi berbasis bukti inklusif.
Melalui Sekolah Riset Disabilitas, penyandang disabilitas ditempatkan sebagai peneliti dan penghasil pengetahuan. Pengetahuan yang lahir dari proses inklusif ini memperkuat institusi, mengubah cara publik memahami disabilitas, dan membuka jalan bagi kebijakan yang lebih relevan bagi seluruh warga.
