SBY: Kembalinya Seniman yang Hilang

Navaswara.com – Malam itu (23/12), di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berdiri tenang. Rambutnya memutih, tubuhnya tidak lagi tegap seperti ketika mengenakan seragam. Ia tidak hadir sebagai jenderal atau presiden. Ia hadir sebagai pelukis.

Sejak Januari 2025, setelah mendirikan SBY Art Community, karya-karya SBY mulai muncul di berbagai pameran, dari Panen Raya hingga ICAD. Salah satu lukisannya, God’s Day, dilelang dengan harga Rp311 juta. Seluruh hasilnya disumbangkan untuk korban banjir di Aceh dan Sumatra.

SBY tidak berbicara tentang teknik melukis. Ia menyebut dirinya pemula. “Banyak yang menyebut saya mualaf di dunia seni,” katanya, diselingi senyum tipis yang akrab.

Ia menoleh ke belakang, pada lorong waktu di masa mudanya di Pacitan. Ia bercerita tentang masa sekolah yang karib dengan matematika, namun hari-harinya diisi dengan memetik dawai gitar, menulis puisi, cerpen, hingga mencintai wayang dan gamelan.

Namun, pengabdian pada negara memaksa sisi artistik itu terkubur di bawah seragam loreng selama tiga dekade, lalu tersita oleh hiruk-pikuk politik selama 15 tahun. Kini, setelah semua tugas negara usai, ia merasa jiwanya memanggil untuk pulang.

“Barangkali sebutan mualaf itu kurang tepat,” ujarnya pelan, “Saya lebih suka disebut sebagai return of the lost artist. Kembalinya si seniman yang hilang. Saya sedang kembali ke rumah saya sendiri.”

Tawa kecil hadirin pecah, menghangatkan suasana. SBY, dengan gaya bicaranya yang tertata, memohon agar ia diterima dengan tangan terbuka oleh Dewan Kesenian Jakarta dan para seniman lainnya.

Baginya, jika politik adalah tentang menang dan kalah, dan bisnis adalah tentang untung dan rugi, maka seni adalah tentang kebahagiaan yang melampaui segala sekat.

Ia memandang kesenian sebagai embun yang mendinginkan suasana bangsa. Baginya, seni adalah rumah bagi kedamaian, keteduhan, dan kasih sayang.

Ia tak ingin pameran hanya sebatas pameran, tetapi sebuah panggilan moral untuk berempati, terutama kepada mereka yang kehilangan segalanya dalam bencana di Aceh dan Sumatera.

“Kesenian itu makes everybody happy,” katanya menutup pidato.

Sebelum turun dari mimbar, ia sempat melempar undangan terbuka bagi para budayawan dan sastrawan untuk singgah ke kediamannya di Cikeas pada awal tahun depan.

Ia ingin berbicara dari hati ke hati, murni tentang budaya, jauh dari intrik politik yang melelahkan. Ia ingin membangun jembatan rasa, memastikan bahwa di negerinya sendiri, para seniman dan budayawan benar-benar menjadi tuan rumah.

Lelaki dari Pacitan itu kini telah pulang. Bukan ke tampuk kekuasaan, melainkan ke haribaan kuas dan warna, tempat di mana jiwanya yang sempat “hilang” itu akhirnya menemukan kembali jalan pulang.

 

Dok. Akbar Linggaprana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *