Melukis Ingatan di Kaki Tangkuban Parahu, Sumbangsih Presiden RI Ke-6 untuk ITB

Navaswara.com — Di tengah semarak Adicitra Ganesha: Bakti Karya Seni, Kriya, dan Desain yang digelar di Aula Barat ITB, terselip sebuah kisah yang datang perlahan, senyap, dan penuh makna. Di antara karya-karya muda yang memamerkan warna dan bentuk, hadir satu kanvas yang membawa napas masa lalu. Di hadapan lukisan itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bukan lagi tampak sebagai Presiden ke-6 Republik Indonesia atau jenderal. Ia hadir sebagai seorang lelaki yang menyimpan kenangan dan kali ini ia menumpahkannya dengan warna.

Lukisan akrilik di atas kanvas itu diberi judul The Legend and the Beauty. Lukisan ini bukan sekadar pemandangan alam, melainkan sebuah fragmen batin, rekaman panjang tentang keindahan dan ingatan SBY pada Gunung Tangkuban Parahu. Gunung itu bukan hanya bentang geografi di utara Bandung, tapi juga penjaga kenangan masa muda seorang prajurit.

“Pertama kali saya bertugas sebagai prajurit selama 30 tahun, 15 tahun di antaranya saya habiskan di Bandung. Jadi saya mengetahui banyak keindahan, legenda, mitos, dan warisan budaya yang ada di Bandung dan Jawa Barat,” tutur SBY.

SBY mengaku menyelesaikan lukisan itu hanya dalam beberapa jam sebelum acara berlangsung. “Memori saya hidup kembali, lalu Bismillah saya lukis… Makanya dalam beberapa jam bisa saya selesaikan, tentu dengan segala kekurangannya,” ujarnya pelan.

Di kanvas itu, lembayung senja memeluk punggung gunung dengan tenang. Warna-warna yang ia tuang seolah membawa kembali napas masa lalu: antara legenda, warisan budaya, dan keindahan alam yang abadi. The Legend and the Beauty menjadi jembatan antara kenangan dan pengharapan, antara masa yang pernah hidup dan masa yang akan datang.

Melting Horizons, Tentang Warna dan Keheningan

Sebelum menyampaikan orasi kebudayaan, SBY bersama anggota SBY Art Community dan para dosen seni rupa ITB menyempatkan diri menelusuri pameran Melting Horizons di Galeri Soemardja. Di ruang itu, percakapan tentang politik menghilang. Yang terdengar hanya dialog warna, cahaya, dan keheningan. Di hadapan karya-karya itu, SBY lebih banyak diam seperti seseorang yang sedang mendengar bisikan lama dari dalam dirinya sendiri.

Pameran Melting Horizons menyoroti hubungan pelukis dengan alam melalui kepekaan personal. Para seniman melukis langsung di alam terbuka (plein air), membiarkan angin, cahaya, dan kesunyian menjadi bagian dari proses kreatif. Pameran ini tak semata soal hasil akhir, melainkan tentang perjalanan batin: usaha memahami bahwa untuk menangkap kedalaman semesta, seorang pelukis harus berdiri langsung di bawah langit yang ia lukis.

Bagi SBY, pameran ini adalah cermin. Ia menemukan kembali kesadaran bahwa seni bukan sekadar keterampilan, tetapi cara memaknai hidup. Melting Horizons melarutkan batas antara diri dan alam, menghadirkan keindahan yang tumbuh dari kedekatan bukan dari jarak.

Merajut Budaya untuk Dana Lestari

Lukisan The Legend and the Beauty kemudian didonasikan untuk dilelang dalam sistem silent auction sebagai bagian dari acara Adicitra Ganesha. Dari situ, mengalir niat mulia: memperkuat Dana Lestari ITB (Endowment Fund).

Bagi SBY, langkah ini bukan sekadar amal seni, melainkan ikhtiar nyata untuk membangun kemandirian pendidikan. Ia percaya, lembaga-lembaga pendidikan harus mampu menumbuhkan sumber daya sendiri dengan cara yang halal, bersih, dan berkelanjutan.
Tujuannya satu, agar ilmu dan kebudayaan dapat terus bersemi, tanpa tergantung sepenuhnya pada negara.

Dalam kesempatan yang sama, ia menyerahkan buku puisinya, Garis Waktu Tak Bertepi, menegaskan dirinya sebagai seniman yang bergerak di dua ranah, visual dan sastra. Di titik itu, batas antara seniman dan negarawan pun lenyap; yang tersisa hanyalah manusia yang sedang belajar menyampaikan rasa.

Budaya adalah Jantung Peradaban

Pesan paling dalam dari SBY hari itu bukan tentang politik, melainkan tentang peradaban. Ia menolak pandangan yang menempatkan budaya semata sebagai peninggalan masa lalu.

“Budaya itu hidup. Peradaban hidup dan berkembang,” ujarnya tegas, namun bening.

Bagi SBY, kebudayaan bukan hanya seni atau adat. Ia mencakup pendidikan, teknologi, ilmu pengetahuan, pemikiran yang jernih, dan nilai-nilai kemanusiaan. Dalam pandangannya, banyak masalah global dari krisis lingkungan hingga ketimpangan sosial, berakar dari krisis moral: keserakahan, keborosan, dan kehilangan rasa.

“Meskipun teknologi penting, ITB punya kekuatan di bidang itu… Akan tetapi tanpa diimbangi oleh revolusi sikap mental, nilai-nilai, dan perilaku, kita tidak akan berhasil mengatasi masalah global,” tuturnya.

Seni, baginya, bukan hiasan di dinding ruang publik. Ia adalah cermin nurani, pendidikan hati, dan penuntun arah di tengah derasnya arus kemajuan. Karena tanpa budaya, kemajuan hanya akan menjadi langkah panjang tanpa jiwa.

Foto: Dok. Akbar Linggaprana

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *