Segera Ditandatangani, Mendag Budi Santoso Dorong Ekspansi Dagang ke Kawasan Eurasia

Navaswara.com — Pemerintah Indonesia semakin memantapkan langkah ekspansi perdagangan global dengan merampungkan seluruh proses perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement/Indonesia–EAEU FTA). Kesepakatan strategis ini diproyeksikan menjadi gerbang baru bagi produk nasional untuk menembus pasar Eurasia yang beranggotakan Belarusia, Rusia, Kazakhstan, Armenia, dan Kirgizstan.

Momentum penting tersebut mengemuka dalam pertemuan bilateral antara Menteri Perdagangan RI Budi Santoso dan Wakil Perdana Menteri Belarusia Viktor Karankevich di Jakarta. Dalam pertemuan itu, kedua pihak menegaskan komitmen memperkuat hubungan dagang sekaligus memaksimalkan peluang yang akan terbuka melalui implementasi Indonesia–EAEU FTA.

Mendag Budi Santoso menyampaikan bahwa proses telaah hukum (legal scrubbing) perjanjian telah tuntas, sehingga Indonesia–EAEU FTA siap memasuki tahap penandatanganan dalam waktu dekat. Penandatanganan dijadwalkan berlangsung pada sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi Uni Ekonomi Eurasia di St. Petersburg, Rusia.

Menurut Mendag, perjanjian ini bukan sekadar kesepakatan dagang, melainkan instrumen strategis untuk mendorong diversifikasi pasar ekspor Indonesia. Dengan populasi EAEU yang mencapai ratusan juta jiwa, peluang produk nasional untuk memperluas penetrasi pasar dinilai sangat besar, terutama di tengah tantangan ketidakpastian ekonomi global.

“Indonesia–EAEU FTA diharapkan menjadi katalis bagi pelaku usaha kedua negara untuk meningkatkan volume dan nilai perdagangan. Kami mendorong penjajakan produk-produk potensial agar manfaat perjanjian ini dapat dirasakan secara maksimal,” ujar Mendag Budi Santoso.

Dalam konteks bilateral Indonesia–Belarusia, Mendag menyoroti sejumlah komoditas unggulan Indonesia yang berpeluang besar menembus pasar negara tersebut, antara lain kendaraan bermotor, kopi, minyak kelapa sawit, alas kaki, serta perangkat elektronik. Sebaliknya, Indonesia juga membuka peluang impor strategis dari Belarusia seperti pupuk potasium, produk susu, bubur kayu kimia, hingga produk setengah jadi besi dan baja.

Wakil PM Belarusia Viktor Karankevich menyambut baik penyelesaian perundingan FTA dan menyatakan optimismenya terhadap peningkatan ekspor negaranya ke Indonesia. Ia menilai Indonesia–EAEU FTA akan menciptakan hubungan dagang yang lebih seimbang, terbuka, dan saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Dari sisi kinerja perdagangan, hubungan dagang Indonesia dan Belarusia menunjukkan tren positif. Sepanjang Januari hingga Oktober 2025, total perdagangan kedua negara mencapai USD 191,7 juta, meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Indonesia bahkan tercatat sebagai mitra dagang terbesar Belarusia di kawasan ASEAN.

Pemerintah Indonesia menilai capaian tersebut menjadi fondasi kuat untuk memperluas kerja sama ekonomi pasca-implementasi FTA. Ke depan, Kementerian Perdagangan akan fokus menyosialisasikan manfaat dan peluang Indonesia–EAEU FTA kepada pelaku usaha, asosiasi, dan pemerintah daerah agar perjanjian ini dapat diimplementasikan secara optimal.

Dengan telah dirampungkannya 20 perjanjian perdagangan internasional hingga saat ini, Indonesia menegaskan posisinya sebagai negara yang semakin terbuka dan adaptif dalam perdagangan global. Indonesia–EAEU FTA pun diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat daya saing produk nasional, memperluas akses pasar nontradisional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *