Desa Penglipuran Bali: Rahasia Desa Terbersih Dunia yang Bertahan dengan Tradisi Leluhur

Navaswara.com – Desa Penglipuran di Kabupaten Bangli, Bali, dikenal luas sebagai salah satu desa terbersih di dunia. Namun, daya tarik desa adat ini bukan semata soal jalanan yang rapi tanpa sampah. Di balik predikat tersebut, Penglipuran menyimpan rahasia tentang bagaimana tradisi leluhur tetap dijaga di tengah arus modernisasi.

Berada di kaki Gunung Batur, desa seluas 112 hektare ini kerap menjadi rujukan desa wisata lain di Indonesia. Penglipuran bahkan masuk dalam daftar Top 100 Sustainable Destinations versi Green Destinations Foundation, sekaligus dinobatkan sebagai salah satu desa terbersih dunia oleh media internasional.

Lantas, bagaimana Penglipuran mempertahankan reputasi itu hingga kini?

Kebersihan yang Berakar dari Falsafah Hidup

Bagi masyarakat Penglipuran, kebersihan bukan sebatas kewajiban, melainkan bagian dari cara hidup. Warga memegang teguh falsafah Tri Hita Karana, yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.

Nilai tersebut diterjemahkan dalam aturan adat atau awig-awig yang mengatur kehidupan sehari-hari warga, termasuk kewajiban menjaga lingkungan. Tak ada sanksi fisik yang keras, namun kesadaran kolektif dan rasa hormat pada leluhur membuat aturan ini dijalankan secara konsisten lintas generasi.

Pengelolaan sampah dilakukan bersama-sama. Sampah organik diolah menjadi pupuk, sementara sampah anorganik dikumpulkan melalui bank sampah. Area merokok pun dibatasi ketat demi menjaga kualitas udara dan kebersihan desa.

Tata Ruang Tradisional yang Menjaga Keseimbangan

Rahasia lain kebersihan dan keteraturan Penglipuran terletak pada tata ruang desa yang masih memegang konsep Tri Mandala. Desa dibagi menjadi tiga zona utama yang memiliki fungsi dan makna berbeda.

Di bagian hulu terdapat Utama Mandala, kawasan suci tempat beribadah. Madya Mandala di bagian tengah menjadi area permukiman warga dengan rumah-rumah berarsitektur seragam yang berjajar rapi. Sementara Nista Mandala di bagian hilir digunakan sebagai area pemakaman.

Pembagian ruang ini bukan hanya simbolis, tetapi juga membantu menjaga ketertiban, kebersihan, dan keseimbangan lingkungan desa.

Pariwisata yang Dikelola Warga

Di tengah popularitasnya sebagai destinasi wisata, Penglipuran memilih tetap berpijak pada konsep Community Based Tourism. Artinya, pariwisata dikelola langsung oleh masyarakat desa, bukan oleh investor besar.

Sebanyak 277 kepala keluarga terlibat aktif dalam pengelolaan wisata, mulai dari pemandu lokal, pengelola tiket, hingga pecalang yang menjaga keamanan dan ketertiban. Sekitar 30 warga bertugas setiap hari mengatur operasional desa wisata.

Meski kental dengan adat, Penglipuran tidak menutup diri terhadap teknologi. Sistem tiket masuk kini menggunakan barcode sehingga pendataan pengunjung menjadi lebih transparan dan efisien.

Tradisi Leluhur yang Tetap Dijaga

Penglipuran juga dikenal memiliki tradisi kematian yang berbeda dengan kebanyakan desa di Bali. Jika prosesi Ngaben umumnya dilakukan dengan pembakaran jenazah, warga Penglipuran memilih menguburkan jenazah.

Pilihan ini dilakukan untuk menjaga kesucian lingkungan pegunungan sekaligus menyesuaikan kondisi geografis desa yang jauh dari laut. Tradisi tersebut menjadi bukti bahwa kearifan lokal di Bali sangat beragam dan kontekstual.

Cita Rasa Lokal yang Menguatkan Identitas

Selain budaya dan tata kelola desa, Penglipuran juga mempertahankan kuliner khasnya. Salah satunya adalah Loloh Cemcem, minuman herbal dari daun kloncing dengan rasa segar, asam, dan sedikit pedas.

Minuman ini kerap dinikmati bersama Tipat Cantok, ketupat dengan sayuran dan bumbu kacang khas Bali, yang banyak dijajakan warga di sepanjang desa. Kuliner lokal ini tak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga sumber ekonomi bagi masyarakat.

Menjaga Predikat di Tengah Tantangan

Dengan jumlah kunjungan yang mencapai ratusan ribu wisatawan setiap tahun, tantangan terbesar Penglipuran adalah menjaga agar identitas desa tidak terkikis oleh pariwisata massal. Namun, kuatnya tradisi musyawarah dan peran aktif warga membuat desa ini tetap optimistis.

Penglipuran membuktikan bahwa predikat desa terbersih dunia bukan hasil pencitraan sesaat. Melainkan lahir dari konsistensi menjaga tradisi leluhur, kebersamaan warga, dan kesadaran bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan nilai-nilai budaya.

Foto: Istimewa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *