Navaswara.com – Laut selalu hadir dalam keseharian Suku Bajo, tak hanya sebagai latar, melainkan sebagai ruang hidup utama. Dari aktivitas mencari ikan hingga menentukan waktu berangkat, banyak keputusan diambil berdasarkan pengalaman yang diwariskan lintas generasi. Jauh sebelum teknologi navigasi modern dikenal luas, tanda-tanda alam menjadi rujukan utama untuk membaca arah dan cuaca. Pola hidup inilah yang membentuk hubungan panjang antara Suku Bajo dan laut.
Bagi mereka, laut selalu menjadi ruang utama dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas melaut, membaca cuaca, hingga menentukan waktu berangkat tidak pernah terpisah dari pengalaman panjang yang diwariskan antar generasi. Jauh sebelum teknologi navigasi modern digunakan secara luas, mereka sudah mengandalkan tanda-tanda alam untuk menentukan arah dan waktu. Dari kebiasaan inilah hubungan dengan laut terbentuk sebagai bagian yang melekat dalam cara hidup.
Kedekatan ini tidak berhenti pada aktivitas melaut. Cara mereka membangun ruang tinggal juga mengikuti logika laut, bukan logika darat. Rumah, jalur penghubung, hingga pola kampung disusun agar selaras dengan pergerakan air dan kebutuhan mencari nafkah.
Kampung di Atas Air
Di banyak wilayah pesisir, kampung Suku Bajo tampak seperti perpanjangan dari laut itu sendiri. Rumah-rumah panggung berdiri di atas perairan dangkal dan dihubungkan oleh jembatan kayu yang menjadi jalur utama aktivitas harian. Di ruang inilah kehidupan sosial, ekonomi, dan keluarga berlangsung dalam jarak yang sangat dekat dengan laut.
Pola ini terlihat jelas di Desa Bajo Mola di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, juga di Torosiaje di Teluk Tomini, Gorontalo, serta Pulau Bungin di Nusa Tenggara Barat. Kampung-kampung ini bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga pusat interaksi yang membuat laut selalu hadir dalam setiap kegiatan, dari pagi hingga malam.

Jejak Perjalanan yang Membentuk Penyebaran
Kebiasaan hidup yang menyatu dengan laut membuat pergerakan Suku Bajo sejak lama mengikuti jalur perairan. Mobilitas ini meninggalkan jejak yang luas di berbagai wilayah, terutama di Indonesia Timur. Dari Kalimantan Utara seperti Nunukan, Tana Tidung, Tarakan, dan Bulungan, hingga Kalimantan Timur di Berau, Bontang, dan Balikpapan, komunitas Bajo tumbuh mengikuti jalur ekonomi laut.
Jejak yang sama juga terlihat di Kalimantan Selatan di Kotabaru, di Sulawesi Selatan seperti Selayar, di Sulawesi Tenggara, hingga Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur termasuk Pulau Boleng, Seraya, Longos, dan kawasan Komodo. Hubungan historis dengan perairan Filipina dan Malaysia memperkuat gambaran bahwa identitas Bajo terbentuk melalui jaringan laut, bukan batas daratan.
Tubuh yang Menyatu dengan Laut
Kedekatan yang berlangsung lama ini tercermin pada kemampuan menyelam yang dikenal luas. Bagi Suku Bajo, menyelam bukan keterampilan tambahan, melainkan bagian dari cara hidup. Mereka terbiasa menahan napas selama beberapa menit dan menjangkau kedalaman yang bagi banyak orang terasa ekstrem, tanpa bantuan alat modern.
Sejak kecil, anak-anak sudah belajar membaca arus, mengenali tanda-tanda alam, dan menyesuaikan tubuh dengan kondisi laut. Pengetahuan ini tidak diajarkan melalui kelas, tetapi melalui praktik yang terus diulang. Dari situlah muncul pemahaman yang meresap tentang laut sebagai ruang yang harus dikenali, bukan dilawan.
Pemahaman ini kemudian membentuk cara mereka memperlakukan ekosistem. Mengambil hasil laut tidak pernah dilepaskan dari kesadaran akan siklus alam. Pantangan adat dan aturan yang hidup dalam komunitas mengatur waktu serta cara melaut, termasuk wilayah yang perlu dijaga.
Terumbu karang, mangrove, dan area pemijahan dipahami sebagai penyangga kehidupan. Jika bagian ini rusak, dampaknya akan langsung terasa pada keberlangsungan kampung. Dari logika inilah praktik-praktik menjaga laut tumbuh sebagai bagian dari keseharian, bukan sebagai wacana terpisah.
Menetap tanpa Melepaskan Identitas
Perubahan zaman membawa Suku Bajo pada pola hidup yang lebih menetap. Banyak komunitas kini tinggal di pesisir secara permanen dan berbaur dengan masyarakat sekitar. Mobilitas laut tidak lagi seintens dulu, tetapi profesi sebagai nelayan tetap menjadi poros utama kehidupan ekonomi.
Di tengah tekanan modernisasi, perubahan iklim, dan degradasi ekosistem, identitas maritim tetap terjaga melalui cara mereka bekerja dan membaca laut. Dari kampung-kampung di atas air hingga generasi muda yang masih belajar menyelam, Suku Bajo terus membawa pengetahuan yang lahir dari hubungan panjang dengan perairan. Tak heran mereka akan tetap menganggap laut sebagai ruang hidup yang membentuk arah di tengah perubahan.
