Menyusuri Pesisir Mandar dengan Sandeq, Perahu Layar Legendaris Sulawesi Barat

Navaswara.com – Bagi masyarakat Suku Mandar di Sulawesi Barat, laut bukan bentang alam semata, melainkan bagian tak terpisahkan dari kehidupan. Di pesisir inilah wisatawan dapat menemukan Sandeq, perahu layar tradisional yang tak hanya menjadi alat transportasi nelayan, tetapi juga daya tarik budaya maritim yang unik dan memikat.

Sandeq dikenal melalui bentuknya yang ramping dan runcing. Nama “Sandeq” sendiri berasal dari bahasa Mandar yang berarti runcing, merujuk pada desain lambungnya yang tajam dan aerodinamis. Berkat bentuk tersebut, Sandeq kerap disebut sebagai salah satu perahu layar tradisional tercepat di dunia, dengan kecepatan yang dapat mencapai 20–30 knot hanya mengandalkan angin.

Bagi wisatawan yang berkunjung ke pesisir Mandar, melihat Sandeq berlayar di atas laut biru menjadi pengalaman visual yang sulit dilupakan. Layar putih segitiganya menjulang kontras dengan cakrawala, menghadirkan suasana khas kawasan pesisir Sulawesi Barat.

Keistimewaan Sandeq tidak hanya terletak pada kecepatannya, tetapi juga pada filosofi di balik proses pembuatannya. Lambung utama perahu, yang disebut balakang, dibuat dari satu batang pohon utuh yang dikeruk bagian tengahnya. Proses ini dilakukan dengan ketelitian tinggi dan sarat nilai budaya.

Bagian depan perahu atau panccong dimaknai sebagai simbol doa dan harapan kepada Tuhan. Di bagian tengah terdapat petaq yang dibagi menjadi beberapa ruang, melambangkan keseimbangan antara rezeki, aktivitas hidup, dan kepemimpinan. Sementara, sanggilang atau sanggar kemudi mencerminkan harmoni peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan masyarakat Mandar. Nilai-nilai ini menjadikan Sandeq bukan sebatas perahu, melainkan cerminan cara pandang orang Mandar terhadap alam dan kehidupan.

Sebelum mesin modern dikenal luas, Sandeq menjadi tulang punggung pelayaran Mandar. Perahu ini digunakan untuk menjelajah wilayah yang luas, mulai dari Selat Malaka hingga perairan timur Nusantara. Berdasarkan kebutuhan, masyarakat Mandar mengenal beberapa jenis Sandeq, dari yang berukuran kecil untuk melaut harian hingga tipe besar yang sanggup berlayar selama berpekan-pekan di tengah laut.

Kini, fungsi Sandeq ikut berkembang seiring meningkatnya minat wisata budaya. Salah satu momen terbaik untuk menyaksikan Sandeq adalah saat digelarnya Sandeq Race, ajang lomba layar tahunan yang biasanya berlangsung pada Agustus dalam rangka peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Perlombaan ini menempuh rute antarpesisir di Sulawesi Barat dan menjadi magnet wisata yang menarik perhatian pengunjung dari berbagai daerah.

Bagi wisatawan, Sandeq Race bukan hanya ajang kecepatan perahu. Festival ini menghadirkan suasana pesisir yang hidup, mulai dari aktivitas nelayan, pertunjukan budaya, hingga kuliner khas Mandar. Sandeq pun menjelma sebagai ikon wisata bahari yang memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi Barat kepada publik yang lebih luas.

Saat berlayar mengikuti arah angin, Sandeq membawa cerita tentang kearifan lokal, hubungan manusia dengan laut, serta identitas maritim Suku Mandar yang masih terjaga hingga kini. Mengunjungi pesisir Mandar dan mengenal Sandeq berarti menyusuri salah satu jejak penting sejarah bahari Indonesia.

Foto: Istimewa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *