Navaswara.com – Di tengah dinamika pasar keuangan yang kian kompleks, Bank Indonesia (BI) kembali bersiap mengambil langkah strategis. Lembaga bank sentral itu berencana menerbitkan surat berharga baru yang disebut BI Floating Rate Note (BI-FRN), instrumen berperingkat tinggi yang digadang menjadi underlying asset baru, atau aset dasar bagi transaksi keuangan turunan (derivatif).
Langkah ini menjadi bagian dari upaya BI memperkaya portofolio instrumen keuangan domestik. Selama ini, bank sentral mengandalkan dua instrumen utama: Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN). Kini, BI tampak ingin melangkah lebih jauh.
“Selama ini underlying asset BI itu kan bisa berupa SRBI atau SBN. Sekarang kita akan perluas ke surat berharga lain yang berkualitas tinggi,”
ujar Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, dalam Pelatihan Wartawan Bank Indonesia di Bukittinggi, Sumatera Barat, Jumat (24/10).
Ramdan belum mengungkapkan detail teknis BI-FRN, namun arah kebijakan ini sudah jelas: memperdalam pasar keuangan domestik. Dengan memperluas variasi aset dasar, BI ingin menciptakan pasar yang lebih likuid, efisien, dan tangguh terhadap gejolak global.
“Bentuknya seperti apa nanti akan disampaikan, tapi tujuannya adalah memperdalam pasar keuangan domestik agar bisa mendukung sektor riil melalui peningkatan penyaluran kredit,” tambahnya.
Kehadiran BI-FRN tak berarti menghapus peran SRBI. BI memastikan surat berharga berdenominasi rupiah itu tetap diterbitkan, meski volumenya akan disesuaikan secara lebih selektif.
Ramdan menegaskan, SRBI tetap menjadi bagian penting dari kebijakan moneter, khususnya dalam menjaga keseimbangan likuiditas di sistem keuangan. Ketika pasar mengalami kelebihan dana, SRBI berfungsi menyerap likuiditas. Sebaliknya, saat kebijakan moneter longgar, instrumen ini dapat menjadi pintu masuk tambahan likuiditas.
“Yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana BI secara kontinu menakar jumlah SRBI agar tetap mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, sekaligus menjaga likuiditas di pasar uang untuk mendorong pertumbuhan kredit,” jelas Ramdan.
Data Bank Indonesia menunjukkan, hingga 21 Oktober 2025, nilai SRBI yang beredar mencapai Rp707,05 triliun, turun cukup tajam dibanding awal tahun yang sempat menyentuh Rp916,97 triliun. Penurunan ini bukan sekadar angka, tetapi cerminan kebijakan moneter yang semakin selektif dan terukur.
Rencana penerbitan BI-FRN mencerminkan arah baru kebijakan moneter Indonesia, yakni membangun fondasi pasar keuangan yang lebih dalam dan modern. Dalam konteks global, pasar keuangan yang kuat adalah syarat utama bagi stabilitas ekonomi dan pertumbuhan sektor riil.
Dengan menambah jenis underlying asset berkualitas tinggi, BI tak hanya memperkuat instrumen kebijakan moneter, tetapi juga memperluas kesempatan bagi pelaku pasar untuk berinovasi dari perbankan hingga korporasi.
Langkah ini adalah bagian dari transformasi berkelanjutan menuju ekosistem keuangan yang lebih adaptif, stabil, dan produktif.
“Kebijakan moneter yang efektif bukan hanya soal mengendalikan suku bunga atau inflasi, tetapi juga menciptakan ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,”
begitu pesan yang seolah ingin ditegaskan BI melalui BI-FRN.
Dan seperti halnya setiap langkah baru yang diambil Bank Indonesia, kebijakan ini adalah bagian dari narasi panjang menjaga stabilitas hari ini, sekaligus menyiapkan pondasi bagi masa depan ekonomi Indonesia yang lebih kokoh.
