Navaswara.com — Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menilai kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan Indonesia tetap terjaga pada triwulan IV 2025, meskipun volatilitas pasar keuangan global meningkat memasuki awal 2026.
Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Berkala KSSK I Tahun 2026 yang digelar belum lama ini. KSSK yang terdiri dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, dan Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimayu, menegaskan komitmen untuk terus memperkuat koordinasi kebijakan di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut.
“KSSK akan terus mencermati perkembangan perekonomian global secara forward looking serta melakukan langkah mitigasi risiko secara terkoordinasi, baik antaranggota KSSK maupun dengan kementerian dan lembaga terkait,” demikian pernyataan resmi KSSK.
KSSK mencatat ketidakpastian global meningkat akibat ketegangan perang dagang, eskalasi geopolitik, serta dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat. Pada triwulan IV 2025, The Federal Reserve memangkas Fed Funds Rate sebesar 50 basis poin ke kisaran 3,50–3,75 persen seiring perlambatan ekonomi dan melemahnya pasar tenaga kerja AS. Meski demikian, ruang penurunan suku bunga ke depan dinilai semakin terbatas karena masih tingginya imbal hasil US Treasury dan defisit fiskal AS.
Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook Januari 2026 merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,3 persen untuk 2025 dan 2026. Namun, pertumbuhan ekonomi sejumlah negara utama seperti Jepang, China, dan India diperkirakan melambat akibat melemahnya permintaan domestik dan ekspor.
Di tengah dinamika global tersebut, KSSK menilai perekonomian Indonesia tetap menunjukkan ketahanan yang kuat. Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 diperkirakan lebih tinggi, didorong oleh permintaan domestik yang meningkat, perbaikan keyakinan pelaku usaha, serta stimulus kebijakan fiskal dan moneter.
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan pada 2025 diprakirakan berada di kisaran 5,2 persen dan meningkat menjadi sekitar 5,4 persen pada 2026, ditopang sinergi kebijakan Pemerintah dan otoritas di KSSK,” terang KSSK.
Dari sisi eksternal, ketahanan ekonomi Indonesia dinilai tetap terjaga. Cadangan devisa pada akhir Desember 2025 tercatat sebesar USD156,5 miliar atau setara 6,3 bulan impor. Nilai tukar rupiah sempat tertekan akibat arus keluar modal asing, namun Bank Indonesia menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar.
“Bank Indonesia akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi terukur di pasar NDF, DNDF, dan spot, serta memperkuat operasi moneter yang pro-market,” ujar Perry.
Inflasi sepanjang 2025 juga tercatat tetap terkendali dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen. Inflasi Desember 2025 berada di level 2,92 persen secara tahunan, dengan inflasi inti tetap rendah. Ke depan, inflasi pada 2026–2027 diprakirakan tetap terjaga seiring konsistensi kebijakan moneter dan penguatan koordinasi pengendalian inflasi pusat dan daerah.
Dari sisi fiskal, APBN 2025 dinilai berperan strategis dalam meredam tekanan global. Hingga akhir 2025, realisasi belanja negara mencapai Rp3.451,4 triliun, sementara pendapatan negara tercatat Rp2.756,3 triliun, dengan defisit sebesar 2,92 persen terhadap PDB. Belanja negara difokuskan pada perlindungan daya beli masyarakat, pelayanan publik, stabilisasi harga, serta pembangunan infrastruktur.
Stabilitas sektor jasa keuangan juga tetap terjaga. Kredit perbankan tumbuh 9,6 persen secara tahunan pada Desember 2025 dengan rasio kredit bermasalah yang rendah. Likuiditas dan permodalan perbankan berada pada level kuat, sementara pasar saham mencatat kinerja positif hingga awal 2026.
Anggito menegaskan, sinergi kebijakan akan terus diperkuat. “KSSK berkomitmen menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah tantangan global,” ujarnya.
KSSK menyatakan akan terus meningkatkan koordinasi kebijakan untuk mengantisipasi risiko dari dinamika ekonomi global dan domestik. Rapat berkala KSSK berikutnya dijadwalkan berlangsung pada April 2026.
