Navaswara.com – Di sekitar kita, tidak sedikit orang merasa bangga bisa mengerjakan banyak hal sekaligus. Membalas pesan sambil rapat virtual, membaca laporan sambil mendengarkan penjelasan atasan, atau menyelesaikan tugas sambil menonton video di media sosial. Multitasking sering dianggap sebagai tanda produktivitas tinggi.
Namun neurosains membawa kabar yang cukup mengejutkan. Otak manusia sebenarnya tidak dirancang untuk bekerja seperti itu. Apa yang selama ini dianggap kemampuan luar biasa ternyata lebih mendekati ilusi yang cukup mahal.
Hal yang sering disebut multitasking menurut riset Joshua Rubinstein dan David Meyer sebenarnya adalah task switching. Otak berpindah dari satu tugas ke tugas lain dengan sangat cepat, bukan mengerjakannya secara bersamaan. Ini bukan persoalan kurang latihan atau kurang pintar.
Lobus prefrontal dan parietal, bagian otak yang bertanggung jawab atas tugas-tugas berat seperti membaca, menulis, dan menganalisis, tidak dapat bekerja paralel untuk dua pekerjaan kognitif sekaligus. Sistem ini pada dasarnya hanya mampu fokus pada satu hal dalam satu waktu.
Setiap kali kita beralih tugas, otak memerlukan waktu sejenak untuk melepas konteks sebelumnya lalu memuat konteks yang baru. Jeda ini dalam ilmu kognitif disebut switch cost, dan muncul setiap kali perpindahan terjadi.
Tingkat Kesalahan Meningkat
Sebuah studi yang terbit di jurnal PMC pada 2024 menemukan bahwa multitasking digital dapat menggerus produktivitas hingga 40 persen akibat switch cost yang terus menumpuk sepanjang hari kerja.
Penelitian lain pada tahun yang sama menunjukkan bahwa semakin berbeda dua tugas yang dikerjakan secara bergantian, semakin besar biaya kognitif yang harus dibayar otak. Dampaknya terlihat jelas pada waktu respons yang lebih lambat dan tingkat kesalahan yang meningkat, bahkan untuk tugas yang sebenarnya sudah familiar.
Efeknya tidak berhenti di situ. Studi tahun 2025 tentang task switching dan fungsi korteks prefrontal menunjukkan bahwa berpindah-pindah tugas membutuhkan aktivasi otak yang jauh lebih tinggi dibanding mengerjakan satu pekerjaan sampai selesai.
Kondisi ini lazim dirasakan oleh mereka yang bekerja di tengah kepungan gangguan. Akibatnya, kelelahan mental muncul lebih cepat, konsentrasi mendalam kian sulit dipertahankan, hingga penurunan kualitas kerja meski waktu yang dihabiskan sudah cukup panjang.
Dan yang lebih mengkhawatirkan adalah efek jangka panjangnya. Kebiasaan multitasking terus-menerus dapat melatih otak terbiasa dengan input yang serba cepat dan terputus-putus. Perlahan kemampuan untuk duduk dan fokus dalam waktu lama mulai terkikis tanpa disadari.
Cara Kerja yang Lebih Masuk Akal
Solusinya bukan bekerja lebih lambat atau menghindari tanggung jawab. Cara kerja yang lebih sehat justru jauh lebih sederhana dari yang dibayangkan.
Salah satunya adalah monotasking, kebalikan dari multitasking. Fokus pada satu tugas utama dalam blok waktu tertentu, misalnya 25 hingga 50 menit, sebelum berpindah ke pekerjaan berikutnya secara sadar dan terencana. Tidak ada notifikasi yang masuk di tengah sesi, dan tidak ada tab chat yang terus terbuka di layar.
Mengelompokkan tugas yang serupa dalam satu sesi juga membantu mengurangi switch cost secara signifikan. Daripada membalas pesan setiap kali notifikasi muncul, lebih efektif menjadwalkan waktu khusus untuk itu, misalnya beberapa kali sehari di jam tertentu.
Micro-break juga memiliki peran penting yang sering dianggap remeh. Jeda singkat satu hingga tiga menit di antara blok fokus membantu otak menurunkan beban kognitif yang menumpuk sehingga sesi berikutnya bisa dimulai dengan kapasitas yang lebih segar.
Saat switch cost berkurang, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan justru bisa lebih singkat. Otak tidak cepat terkuras di tengah hari dan hasil kerja yang dihasilkan terasa lebih tajam.
Multitasking selama ini sering dipromosikan sebagai gambaran orang sibuk yang produktif. Ironisnya, semakin keras kita mencoba terlihat produktif dengan multitasking, semakin jauh kita dari kerja yang benar-benar efektif. Cara kerja otak tidak berjalan seperti itu. Intinya, otak manusia bekerja paling baik ketika memberi perhatian penuh pada satu hal dalam satu waktu.
