Konflik Timur Tengah Ganggu Logistik Global, Banyak Penerbangan Kargo Dihentikan

Navaswara.com – Konflik yang memanas di Timur Tengah mulai berdampak pada sektor logistik global. Sejumlah maskapai menghentikan sementara penerbangan kargo setelah sejumlah ruang udara di kawasan tersebut ditutup.

Situasi ini masih terus berkembang dan operator penerbangan memantau kondisi keamanan sebelum kembali mengoperasikan layanan mereka.

Maskapai Timur Tengah seperti Qatar Airways, Emirates, dan Etihad termasuk yang menghentikan sementara operasional penerbangannya.

Qatar Airways melalui laman resminya menyampaikan operasional Qatar Airways Cargo untuk sementara dihentikan akibat penutupan wilayah udara Qatar.

Maskapai tersebut menyatakan penerbangan kargo akan kembali beroperasi setelah Otoritas Penerbangan Sipil Qatar mengumumkan pembukaan kembali ruang udara secara aman.

Sementara itu, Emirates SkyCargo menyebut ketidakpastian situasi keamanan serta pembatasan ruang udara membuat penerbangan mereka dihentikan hingga pukul 15.00 waktu Uni Emirat Arab pada Selasa, 3 Maret.

Maskapai tersebut juga memberlakukan pembatasan sementara untuk pemesanan dan penerimaan pengiriman baru selama 24 jam.

Etihad Airways juga menyatakan penutupan ruang udara di kawasan tersebut memengaruhi operasional mereka. Seluruh penerbangan dari dan menuju Abu Dhabi ditangguhkan hingga pukul 14.00 waktu setempat pada Selasa, 3 Maret.

Maskapai lain di kawasan, Oman Air Cargo, juga melaporkan gangguan operasional.

Meski begitu, layanan pengiriman kargo umum masih berjalan normal. Namun, pengiriman barang mudah rusak atau perishables untuk sementara dibatasi.

Oman Air juga menyebut layanan menuju Eropa dan Asia Pasifik masih beroperasi sesuai jadwal dengan beberapa penyesuaian rute dan kemungkinan keterlambatan.

Tidak hanya maskapai Timur Tengah, sejumlah operator dari luar kawasan juga menghentikan sementara penerbangan mereka.

Lufthansa Cargo bersama Lufthansa Group menyatakan menghentikan penerbangan ke sejumlah kota, seperti Tel Aviv, Beirut, Amman, Erbil, Dammam, dan Teheran hingga 8 Maret.

Turkish Cargo juga melaporkan pembatalan sejumlah penerbangan menuju beberapa negara di kawasan, termasuk Bahrain, Arab Saudi, Iran, Irak, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Suriah, dan Uni Emirat Arab.

IAG Cargo menyatakan penerbangan antara London dan Jeddah serta Riyadh masih beroperasi normal.

Namun, rute lain seperti London menuju Abu Dhabi, Amman, Bahrain, Doha, Dubai, dan Tel Aviv dihentikan sementara hingga 4 Maret 2026.

Rute London–Larnaca juga dihentikan pada 2 Maret. Sementara penerbangan Madrid–Doha ditangguhkan hingga 4 Maret dan Madrid–Tel Aviv hingga 10 Maret 2026.

Gangguan operasional ini turut memengaruhi kapasitas kargo udara global.

Perusahaan analitik Rotate mencatat kapasitas kargo udara dunia turun sekitar 18 persen dalam 24 jam terakhir dibandingkan pekan sebelumnya.

Penurunan ini dipicu oleh penghentian penerbangan oleh maskapai Timur Tengah, maskapai lain yang menghentikan layanan ke kawasan Teluk, serta pengalihan rute pesawat kargo.

Pengalihan rute tersebut bahkan membuat kapasitas pada jalur Asia–Eropa meningkat sekitar 22 persen karena sejumlah maskapai memilih rute alternatif melalui Asia Tengah atau terbang langsung tanpa transit di kawasan Teluk.

Penelitian perusahaan logistik Aevean juga menunjukkan penutupan ruang udara berdampak besar pada jalur Asia–Timur Tengah–Eropa.

Kapasitas kargo udara pada beberapa rute di koridor tersebut tercatat turun lebih dari 40 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

Secara keseluruhan, kapasitas di jalur tersebut turun sekitar 26 persen.

Di sisi lain, kapasitas penerbangan langsung Asia–Eropa justru meningkat sekitar 13 hingga 14 persen.

Untuk rute China dan Hong Kong menuju Eropa, kapasitas penerbangan langsung naik 34 persen. Sebaliknya, rute tidak langsung melalui kawasan Teluk turun hingga 75 persen.

Sejumlah bandara di luar kawasan Teluk juga mengalami lonjakan kapasitas transit.

Bandara Almaty di Kazakhstan mencatat peningkatan hingga 211 persen, Tbilisi di Georgia naik 51 persen, dan Istanbul di Turki meningkat 23 persen.

Sementara itu, Bandara Baku di Azerbaijan justru mengalami penurunan kapasitas sekitar 69 persen karena lokasinya yang dekat dengan perbatasan Iran.

Konflik di kawasan tersebut juga berdampak pada harga bahan bakar penerbangan.

Penutupan sejumlah fasilitas minyak dan gas di Timur Tengah membuat harga avtur melonjak. Sekitar 20 persen pasokan bahan bakar jet dunia melewati Selat Hormuz.

Akibat situasi ini, premi pengiriman bahan bakar jet untuk pengiriman jangka pendek dilaporkan meningkat dua kali lipat.

Gangguan operasional juga merembet ke sektor pelayaran.

Perusahaan pelayaran MSC dilaporkan menghentikan seluruh pemesanan kargo menuju Timur Tengah.

CMA CGM juga meminta seluruh kapal di wilayah Teluk mencari tempat perlindungan. Jalur pelayaran melalui Terusan Suez juga ditangguhkan hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Sejumlah kapal dialihkan melalui rute Tanjung Harapan di Afrika Selatan.

Maersk juga mengambil langkah serupa dengan menghentikan pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb dan mengalihkan sejumlah rute layanan melalui Tanjung Harapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *