Dari Davos untuk Indonesia: Elektrifikasi sebagai Jalan Kesejahteraan Bangsa

Navaswara.com — Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie menegaskan bahwa elektrifikasi menjadi kunci utama bagi pertumbuhan ekonomi, inovasi industri, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Anindya dalam diskusi panel bertajuk “Rise of Electro States” pada rangkaian World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026) waktu setempat.

Menurut Anindya, dengan jumlah penduduk sekitar 285 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi rata-rata 5 persen selama tiga dekade terakhir, elektrifikasi menjadi fondasi penting pembangunan nasional.

Saat ini, kapasitas listrik terpasang Indonesia telah mencapai sekitar 100 gigawatt dengan tingkat konektivitas jaringan listrik sebesar 99 persen di lebih dari 17.000 pulau. Namun, sekitar 1 persen wilayah atau sekitar 10.000 desa dan satu juta rumah tangga masih belum menikmati akses listrik yang andal.

Anindya menyebut tantangan jaringan listrik tersebut sekaligus membuka peluang besar, mengingat Indonesia memiliki keunggulan demografi dan sumber daya alam strategis, seperti cadangan nikel terbesar dunia serta tembaga dan silika yang melimpah.

Kondisi tersebut dinilai mendukung agenda hilirisasi industri dan penguatan posisi Indonesia dalam rantai pasok global, khususnya di sektor kendaraan listrik dan energi bersih.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam penguasaan teknologi dan pengembangan talenta, dengan tetap menjaga prinsip kerja sama yang setara dan tidak menimbulkan ketergantungan.

Selain itu, konsistensi kebijakan pemerintah dinilai menjadi faktor penting, termasuk rencana penambahan 75 gigawatt kapasitas listrik baru dalam 15 tahun ke depan, dengan 75 persen bersumber dari energi terbarukan.

Anindya menilai pendekatan elektrifikasi berbasis energi surya dan angin menjadi solusi relevan, terutama bagi wilayah kepulauan dan kawasan timur Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menekankan pentingnya kemitraan pemerintah dan sektor swasta, mengingat sekitar 65 persen aktivitas ekonomi nasional digerakkan oleh sektor swasta.

“Bagi 285 juta rakyat Indonesia, elektrifikasi bukan sekadar isu energi, tetapi menyangkut keadilan, pemerataan, dan kesejahteraan masyarakat,” pungkas Anindya.

Diskusi panel tersebut turut menghadirkan Presiden dan CEO Vestas Henrik Andersen, CEO dan Chair TenneT Belanda Manon van Beek, CEO Eskom Holdings Afrika Selatan Daniel Marokane, serta dimoderatori pakar kebijakan energi Universitas Oxford Jan Rosenow.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *