Navaswara.com — Frekuensi perjalanan Gen X, Milenial, dan Gen Z mungkin tidak jauh berbeda. Namun cara mereka memilih destinasi, menyusun rencana perjalanan, hingga menyiapkan anggaran menunjukkan pendekatan yang berbeda.
Jika melihat antrean di bandara, sulit menebak seseorang berasal dari generasi mana hanya dari koper atau tas yang dibawanya. Namun ketika memperhatikan cara mereka merencanakan perjalanan, perbedaannya mulai terlihat. Ada yang menyusun jadwal secara rinci jauh hari sebelumnya. Ada pula yang masih mencari rekomendasi tempat makan atau destinasi menarik sesaat sebelum berangkat.
Data studi perilaku perjalanan konsumen Indonesia 2026 menunjukkan bahwa Gen X yang lahir pada 1965 hingga 1980, Milenial yang lahir pada 1981 hingga 1996, serta Gen Z yang lahir pada 1997 hingga 2012 rata-rata melakukan satu hingga dua perjalanan sepanjang 2025. Frekuensinya relatif serupa. Meski demikian, cara mereka memaknai dan mempersiapkan liburan menunjukkan perbedaan yang cukup jelas.
Frekuensinya Mirip, Cara Merencanakannya Berbeda
Persamaan paling mencolok di antara ketiga generasi tersebut terletak pada frekuensi perjalanan. Rata-rata mereka bepergian satu hingga dua kali dalam setahun. Temuan ini menunjukkan bahwa liburan masih menjadi kebutuhan yang diprioritaskan banyak orang meski harus disesuaikan dengan waktu dan kemampuan finansial masing-masing.
Perbedaannya mulai terlihat saat membahas proses perencanaan.
Gen X yang kini berada pada rentang usia pertengahan 40-an hingga awal 60-an cenderung menyiapkan perjalanan secara matang. Mereka umumnya memilih destinasi yang ramah keluarga serta memiliki reputasi yang sudah dikenal luas. Kepastian dan efisiensi menjadi pertimbangan utama karena banyak di antara mereka masih aktif bekerja sekaligus memiliki tanggung jawab keluarga.
Rencana perjalanan biasanya sudah disusun dengan cukup rinci. Hotel, transportasi, hingga lokasi makan telah ditentukan sejak awal sehingga waktu liburan dapat dimanfaatkan secara optimal. Bukan berarti mereka tidak menyukai spontanitas, namun mereka cenderung menghindari ketidakpastian yang dapat mengganggu agenda perjalanan.
Milenial memiliki pendekatan yang berada di tengah. Mereka tetap membuat rencana perjalanan dan menentukan tujuan utama yang ingin dikunjungi. Namun ruang untuk perubahan masih terbuka selama perjalanan berlangsung.
Ketika menemukan rekomendasi kuliner dari warga lokal atau mengetahui adanya acara menarik yang belum masuk agenda, mereka cukup fleksibel untuk menyesuaikan rencana. Karakter ini sejalan dengan pengalaman mereka yang tumbuh bersama perkembangan internet dan mengalami perubahan cara mencari informasi perjalanan dari masa ke masa.
Gen Z menunjukkan pola yang paling fleksibel. Media sosial dan rekomendasi teman memiliki pengaruh besar terhadap keputusan perjalanan mereka. Video pendek di media sosial maupun ulasan perjalanan di platform digital dapat menjadi sumber inspirasi utama dalam menentukan destinasi.
Mereka cenderung menyesuaikan jadwal dengan karakter destinasi yang dikunjungi. Jika sebuah kota dikenal dengan aktivitas pagi harinya, mereka siap memulai kegiatan sejak dini hari. Sebaliknya, jika kehidupan malam menjadi daya tarik utama, jadwal perjalanan pun ikut menyesuaikan. Pendekatan ini dilakukan untuk memperoleh pengalaman yang terasa lebih dekat dengan kehidupan lokal.
Destinasi Favorit yang Tetap Diminati
Meski memiliki kebiasaan yang berbeda saat merencanakan perjalanan, pilihan destinasi ketiga generasi ternyata cukup serupa.
Untuk perjalanan domestik, lima destinasi yang paling banyak dipilih adalah Magelang, Labuan Bajo, Yogyakarta, Bali, dan Lombok. Nama-nama tersebut menunjukkan bahwa wisata budaya, alam, maupun rekreasi masih memiliki daya tarik yang kuat bagi wisatawan Indonesia.
Magelang dengan daya tarik utama Candi Borobudur menawarkan kombinasi sejarah, budaya, dan akses yang relatif mudah dijangkau. Labuan Bajo tetap menjadi pilihan bagi wisatawan yang mencari pengalaman alam dan petualangan.
Yogyakarta mempertahankan posisinya sebagai destinasi yang relevan bagi berbagai kelompok usia. Kota ini dapat memenuhi kebutuhan wisata keluarga, perjalanan bersama teman, maupun perjalanan individu.
Sementara itu, Bali dan Lombok tetap menjadi tujuan favorit karena memiliki infrastruktur pariwisata yang matang serta pilihan aktivitas yang beragam. Kedua destinasi tersebut mampu mengakomodasi wisatawan dengan kebutuhan yang berbeda-beda.
Untuk perjalanan internasional, Jepang, Tiongkok, Thailand, Singapura, dan Eropa menjadi destinasi yang paling diminati. Jepang masih menempati posisi teratas berkat kombinasi budaya, kemudahan transportasi, serta pengalaman wisata yang beragam.
Tiongkok kembali menarik perhatian wisatawan setelah aktivitas perjalanan internasional kembali pulih. Thailand dan Singapura tetap menjadi pilihan populer karena akses yang relatif mudah serta jarak tempuh yang tidak terlalu jauh. Adapun Eropa menunjukkan bahwa minat terhadap perjalanan lintas negara masih cukup tinggi di kalangan wisatawan Indonesia.
Cara Tiap Generasi Menyiapkan Anggaran Liburan
Temuan menarik lainnya terlihat dari pola persiapan anggaran. Lebih dari separuh responden mengaku mulai menyiapkan dana perjalanan sekitar tiga bulan sebelum keberangkatan.
Data tersebut menunjukkan bahwa liburan kini semakin sering masuk ke dalam perencanaan keuangan yang disusun secara sadar. Perjalanan tidak lagi semata-mata dilakukan karena adanya promosi mendadak atau keputusan spontan.
Meski demikian, setiap generasi memiliki pendekatan yang berbeda dalam mengelola anggaran perjalanan.
Gen X umumnya memastikan dana tersedia sebelum mengambil keputusan untuk bepergian. Kepastian finansial menjadi pertimbangan utama sebelum tiket atau akomodasi dipesan.
Milenial cenderung lebih adaptif. Mereka menyiapkan anggaran terlebih dahulu lalu menyesuaikan pilihan destinasi dengan dana yang tersedia. Pendekatan ini membuat mereka memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan bentuk perjalanan yang dianggap paling sesuai.
Sementara itu, Gen Z cenderung berusaha mengumpulkan dana sebanyak mungkin sebelum berangkat. Tujuannya agar mereka memiliki ruang yang lebih luas untuk menikmati berbagai aktivitas saat berada di destinasi tanpa harus terlalu banyak melakukan penyesuaian di tengah perjalanan.
Makna di Balik Perbedaan Cara Berlibur
Data tersebut menunjukkan bahwa setiap generasi memiliki prioritas yang berbeda saat bepergian. Sebagian mengutamakan waktu bersama keluarga dan kenyamanan perjalanan. Sebagian lainnya mencari keseimbangan antara perencanaan dan kebebasan menjelajah.
Ada pula yang lebih tertarik pada pengalaman baru yang sesuai dengan minat pribadi dan karakter destinasi yang dikunjungi. Perbedaan itu mencerminkan fase kehidupan, kebutuhan, serta cara pandang masing-masing generasi terhadap perjalanan.
Meski memiliki pendekatan yang berbeda dalam merencanakan liburan, ketiga generasi memiliki kesamaan dalam satu hal. Liburan dipandang sebagai aktivitas yang layak dipersiapkan dan direncanakan sejak jauh hari. Perjalanan tidak lagi dianggap sebagai pengeluaran spontan, melainkan bagian dari gaya hidup yang masuk ke dalam prioritas banyak orang Indonesia.
