Cyberdeck, Komputer Rakitan Ala Cyberpunk yang Digandrungi Gen Z

Navaswara.com — Sebuah papan sirkuit Raspberry Pi, layar mini bekas tablet lama, keyboard mekanis, dan casing hasil cetak 3D atau bahkan kaleng biskuit bekas. Dari kombinasi komponen yang terkesan asal-asalan itu, lahir sebuah perangkat yang belakangan ramai diperbincangkan Gen Z: cyberdeck.

Berbeda dari laptop pabrikan yang seragam dan siap pakai, cyberdeck adalah komputer portabel yang dirakit sendiri dari berbagai komponen yang sering kali tidak senada satu sama lain. Perangkat ini umumnya dibangun di atas komputer papan tunggal (single-board computer) seperti Raspberry Pi, dipadukan dengan layar kecil, keyboard, baterai portabel, dan casing buatan tangan yang biasanya memanfaatkan bahan daur ulang atau barang bekas.

Berakar dari Novel Fiksi Ilmiah Tahun 1984

Istilah cyberdeck sebenarnya bukan hal baru. Menurut catatan Wikipedia, kata ini merupakan bentuk pendek dari “cyberspace deck” yang pertama kali muncul dalam novel Neuromancer karya William Gibson terbitan 1984. Dalam novel tersebut, cyberdeck digambarkan sebagai konsol komputer portabel canggih yang dipakai tokoh-tokoh peretas untuk menembus jaringan virtual global bernama cyberspace. Istilah ini kemudian menjadi rujukan umum di berbagai medium cyberpunk lain, dari game tabletop Cyberpunk dan Shadowrun hingga video game yang lahir dari waralaba tersebut.

Versi nyatanya sudah lama digarap komunitas maker di internet. Wikipedia mencatat, Hackaday.io sempat menggelar kontes cyberdeck pada 2022 yang diikuti lebih dari 100 kreasi, lalu berlanjut lagi pada 2023. Namun momentum terbaru datang tahun ini. TechCrunch melaporkan komunitas cyberdeck mengalami lonjakan popularitas berkat kreator perempuan di media sosial yang membuat karya-karya bernuansa artistik dan sangat feminin.

Kenapa Gen Z Tertarik

Ada beberapa alasan yang berulang muncul di sejumlah laporan mengenai tren ini. Yang pertama adalah kejenuhan terhadap perangkat pabrikan yang terasa makin seragam, tertutup, dan sarat pelacakan data. Sebuah ulasan dari Made-in-China Insights menyebut cyberdeck muncul dari dua arus budaya yang bertemu: kelelahan terhadap perangkat serbaguna yang terus menambah distraksi dan sistem pelacakan, serta nostalgia yang lebih luas terhadap perangkat keras yang terasa taktil, mudah diperbaiki, dan mudah dipahami.

Alasan kedua adalah faktor ekspresi diri. Kreator TikTok bernama ubeboobey, sebagaimana dikutip Kompas.com dari Newsweek, menyebut cyberdeck dibuat agar unik bagi pemiliknya dan dirancang sesuai tujuan masing-masing pembuat, dengan penekanan pada kreativitas ketimbang produksi massal. Karena setiap komponen bisa ditukar, dimodifikasi, atau dirancang ulang, tidak ada dua cyberdeck yang benar-benar identik.

Faktor ketiga bersifat teknis, harga komponen yang makin terjangkau. Panel IPS berukuran kecil, printer 3D, keyboard mekanis hot-swap, papan Raspberry Pi 5, hingga baterai kompak kini jauh lebih mudah diakses dibanding beberapa tahun lalu, sehingga jarak antara ide dan perangkat jadi lebih pendek.

Bukan Sekadar Gaya-gayaan

Meski tampil dengan estetika futuristik ala film cyberpunk, cyberdeck punya fungsi yang cukup beragam tergantung tujuan pembuatnya. Ada yang menjadikannya konsol game retro untuk menjalankan gim klasik era 1980-1990an, ada yang memakainya sebagai server pribadi atau perangkat coding, dan ada pula “writerdeck” yang sengaja dirancang tanpa koneksi internet supaya penggunanya bisa menulis tanpa distraksi.

Di kalangan komunitas keamanan siber, cyberdeck bahkan punya kegunaan praktis. Perusahaan keamanan siber Eclypsium, menyoroti cyberdeck bisa berfungsi sebagai platform peretasan atau pengujian sistem yang portabel, sekaligus menawarkan fleksibilitas tanpa harus mempertaruhkan komputer utama penggunanya.

Simbol Perlawanan terhadap Keseragaman Gadget

Di luar fungsi teknisnya, daya tarik utama cyberdeck sebenarnya terletak pada proses pembuatannya sendiri. Banyak pembuat cyberdeck menganggap perangkat ini sebagai simbol kebebasan dari standar industri teknologi yang seragam, sekaligus cara mengembalikan kendali atas teknologi yang mereka pakai sehari-hari.

Cyberdeck memang tidak dirancang untuk menggantikan laptop atau ponsel pintar dalam kegiatan sehari-hari, mengingat tingkat kerumitan perakitannya. Namun bagi Gen Z yang tumbuh di tengah gempuran perangkat pabrikan yang nyaris tak bisa dibedakan satu sama lain, merakit komputer sendiri dari nol menjadi cara baru untuk membuat teknologi terasa personal kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *