Navaswara.com – Semangkuk soto hangat menjadi salah satu menu yang kerap dicari saat berkunjung ke Semarang. Di tengah populernya lumpia, wingko babat, dan tahu gimbal, soto khas kota ini tetap memiliki tempat tersendiri di hati warga maupun wisatawan.
Sekilas, tampilannya mungkin tidak jauh berbeda dengan soto dari daerah lain di Jawa Tengah. Namun, soto Semarang memiliki karakter kuah yang khas. Jika dibandingkan dengan soto Kudus atau soto Lamongan, kuah soto Semarang cenderung lebih bening dan ringan, tetapi tetap menyimpan cita rasa gurih yang kuat.
Rasa tersebut berasal dari kaldu ayam kampung yang dimasak bersama berbagai rempah, seperti bawang putih, bawang merah, jahe, dan serai. Aroma rempah yang menguar dari kuah panas menjadi salah satu daya tarik utama hidangan ini.
Dalam satu mangkuk, soto Semarang biasanya berisi suwiran ayam kampung, bihun, dan taoge. Taburan daun bawang serta bawang goreng menambah aroma sekaligus tekstur pada setiap suapan. Beberapa penjual juga menyertakan telur rebus sebagai pelengkap.
Porsi yang relatif kecil membuat hidangan ini kerap disantap bersama nasi putih atau lontong. Tak sedikit pula yang menambahkan lauk pendamping seperti perkedel, tempe mendoan, sate kerang, atau kerupuk udang.
Bagi masyarakat Semarang, soto bukan sekadar menu sarapan atau makan siang. Hidangan ini telah menjadi bagian dari keseharian yang mudah ditemukan di berbagai sudut kota, mulai dari warung sederhana hingga rumah makan yang telah berdiri puluhan tahun.
Karena itu, mencicipi soto langsung di kota asalnya menjadi pengalaman yang banyak dicari wisatawan. Menyantap semangkuk soto hangat di tengah aktivitas Kota Semarang yang ramai menghadirkan cara sederhana untuk mengenal budaya kuliner setempat.
Sejumlah warung soto yang cukup dikenal di Semarang antara lain Soto Ayam Pak Man, Soto Ayam Bang Ali, dan Soto Ayam Bokoran. Masing-masing memiliki racikan kuah dan pelengkap yang menjadi ciri khas tersendiri.
Salah satu yang legendaris adalah Soto Ayam Bokoran yang telah berdiri sejak 1949. Nama “Bokoran” diambil dari nama kampung tempat warung tersebut pertama kali dibuka. Hingga kini, warung itu masih menjadi salah satu tujuan para pencinta kuliner yang ingin menikmati soto khas Semarang.
Keberadaan warung-warung soto yang tetap bertahan selama puluhan tahun menunjukkan bahwa hidangan sederhana ini masih menjadi bagian penting dari identitas kuliner Semarang. Di tengah berkembangnya berbagai tren makanan baru, semangkuk soto hangat tetap menjadi pilihan yang sulit tergantikan.
