Butter Baby, Karakter Alien yang Lahir di Jakarta dan Bersiap Mendunia

Navaswara.com — Linimasa Instagram dan TikTok belakangan diramaikan oleh kemunculan sosok unik berbentuk alien bulat berwarna kuning. Dengan ekspresi polos, karakter itu tampak berendam santai di bak penuh mentega. Namanya Butter Baby, maskot dari gerai donat artisan yang tengah menarik perhatian banyak orang.

Di balik popularitas karakter tersebut, ada Nick Burch dan Henry Burch, dua bersaudara asal Amerika Serikat,putra kembar desainer Tory Burch, yang membangun Butter Baby bersama CEO Shane Lewis.

“Butter Baby berawal dari keinginan sederhana untuk menghadirkan sesuatu yang bisa diterima dan dinikmati banyak orang,” ujar Nick Burch. Menurutnya, kisah Butterlandia lahir di Jakarta dan berkembang bersama komunitas yang menyambut kehadiran Butter Baby sejak hari pertama.

Baru-baru ini, Butter Baby mengambil langkah tidak lazim bagi sebuah merek dessert dengan menggelar pemutaran perdana film animasi pendek orisinal berjudul “The Story of Butterlandia” di CGV FX Sudirman, Jakarta. Inisiatif berani ini sekaligus menjadi terobosan segar yang jarang ditemui dalam lanskap industri dessert Tanah Air.

Melalui film tersebut, penonton diajak memasuki Butterlandia, planet asal Butter Baby yang diceritakan tengah berada di ambang kehancuran. Dalam kisah itu, Butter Baby menjalankan misi untuk mengumpulkan 500 triliun ton mentega demi menyelamatkan dunianya.

Kota yang Memberi Ruang Berkarya

Hubungan Nick dan Henry dengan Jakarta berawal dari pengalaman yang sangat personal. Kota ini tidak mereka lihat sebagai tempat menjalankan usaha semata, tetapi lingkungan yang memberi rasa nyaman sekaligus ruang untuk tumbuh.

“Rasanya kami tidak pernah secara khusus memilih Jakarta. Tapi seolah ada hubungan yang terjalin dengan sendirinya,” tutur Nick Burch.

Nick mengingat kesan yang muncul saat pertama kali datang ke Jakarta. Ia merasakan ketenangan yang belum pernah ditemuinya di kota lain. Keramahan masyarakat dan suasana yang membuatnya merasa aman perlahan mengurangi kecemasan yang selama ini sering ia rasakan.

Perasaan serupa juga dirasakan Henry. Menurutnya, Jakarta memberi kebebasan yang sulit ditemukan di tempat lain.

“Di sini kami merasa bisa berkarya tanpa banyak batasan. Energinya berbeda dan itu sangat membantu proses kreatif kami,” ujarnya.

Shane Lewis pun memiliki kedekatan tersendiri dengan Indonesia. Ia pertama kali datang sekitar 15 tahun lalu saat bekerja di Bali. Pengalaman tersebut membuatnya jatuh hati pada budaya maupun kuliner Indonesia.

“Saya sampai membeli buku masak Indonesia dan mencoba memasaknya sendiri di rumah,” kata Shane sambil tertawa.

Berawal dari Eksperimen di Dapur

Antrean panjang yang hampir selalu terlihat di gerai Butter Baby di Blok M dan Central Park membuat banyak orang mengira bisnis ini tumbuh besar dengan mudah. Padahal, perjalanan mereka berawal dari proses yang penuh percobaan dan pembelajaran.

“Kami benar-benar belajar dari nol. Masuk dapur sendiri, mencoba berbagai resep, bahkan mencari tutorial membuat donat di TikTok,” kenang Nick sambil tertawa.

Secercah harapan muncul ketika Shane berhasil mengajak Chef Dedy bergabung. Koki yang pernah berkarier di Dubai, Bali, dan Jakarta itu bahkan sudah menunjukkan antusiasmenya sejak sebelum resmi menjadi bagian dari Butter Baby.

“Saat itu saya sebenarnya belum bergabung dengan Butter Baby. Mereka mengajak saya bertemu lalu bercerita tentang konsep yang sedang mereka siapkan. Mereka bertanya apakah saya bisa membuat produk seperti yang mereka bayangkan. Saya bilang, bisa,” kenang Chef Dedy.

Sejak saat itu, berbagai gagasan terus berkembang di dalam tim. Diskusi bisa berlangsung kapan saja dan ide baru kerap muncul di luar jam kerja, termasuk saat sebagian besar orang masih terlelap.

“Kami ingin setiap dessert di Butter Baby menghadirkan rasa hangat dan nyaman, seperti pulang ke rumah. Menurut saya, itulah juga yang Indonesia bawa melalui Butter Baby, bukan hanya cita rasa, tetapi perasaan diterima,” ujar Chef Dedy.

Mengolah Kenangan dalam Setiap Gigitan

Kedekatan dengan Indonesia tercermin dalam banyak aspek bisnis mereka, mulai dari komposisi tim hingga bahan baku yang digunakan.

Di dapur, pengembangan menu dipimpin oleh Chef Dedi yang memiliki pengalaman bekerja di berbagai kota, termasuk Dubai, Bali, dan Jakarta. Berbekal pengalaman tersebut, ia banyak mengambil inspirasi dari makanan yang akrab dengan keseharian masyarakat Indonesia.

Salah satunya hadir melalui varian Banana Crunch. Ide tersebut lahir dari keinginannya menghadirkan rasa yang terasa dekat bagi konsumen lokal.

“Ketika diminta membuat roti crunch, saya langsung teringat pisang goreng. Akhirnya dua hal itu saya gabungkan,” ujar Chef Dedi.

Mereka juga menggunakan vanili asal Sulawesi yang dikenal luas di industri kuliner internasional, serta cokelat produksi Indonesia.

“Cokelat Indonesia punya kualitas yang sangat baik dan dikenal di berbagai negara. Itu yang kami pakai dalam produk kami,” tambahnya.

Rencana Ekspansi dan Pengembangan Lini

Meski kini telah berkembang menjadi bisnis yang lebih terstruktur, suasana kreatif di dalam tim tetap dipertahankan. Ide baru bisa muncul kapan saja, termasuk pada tengah malam, sebelum kemudian diseleksi dan disempurnakan bersama tim.

Tak hanya itu, hampir seluruh anggota tim Butter Baby merupakan talenta Indonesia. Head of Marketing and Business Development Karen Tjahja turut memaparkan kebanggaannya. “99% tim kami adalah orang Indonesia, dari kreator, desainer, hingga operasional. Dari sini, kami tidak berhenti. Ini baru permulaan,” tegasnya.

Ke depan, Butter Baby tidak ingin berhenti sebagai merek makanan penutup. Karakter Butter Baby disiapkan untuk berkembang ke berbagai kategori lain.

“Kami memulainya dari dessert. Sekarang kami juga sedang mengembangkan lini mainan dan permen,” kata Henry.

Dalam cerita yang mereka ciptakan, karakter Butter Baby yang berasal dari planet fiktif bernama Butterlandia ini digambarkan sebagai sosok yang ingin memahami berbagai emosi manusia. Harapannya, setiap orang bisa menemukan sisi dirinya sendiri saat melihat Butter Baby.

Dalam waktu sekitar sepuluh bulan, Butter Baby telah membuka beberapa gerai di Jakarta dan tengah menyiapkan langkah berikutnya.

Sebagai lompatan besar, jenama ini bersiap membuka gerai kelima di Area Keberangkatan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta pada 19 Juni 2026. Sebuah instalasi landmark setinggi delapan meter akan berdiri di salah satu bandara tersibuk di Asia. Simbol ini menegaskan kesiapan membawa cerita manis Indonesia ke panggung dunia.

Thailand serta Malaysia masuk dalam daftar mereka. Meski demikian, Indonesia akan tetap menjadi rumah utama.

“Kami akan selalu berbasis di sini. Kami ingin membawa a piece of Jakarta ke mana pun kami pergi,” tutup Shane.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *