Angka Kematian Ibu Masih Tinggi, POGI Luncurkan SPRIN Jadi Gerakan Nasional Penyelamat Perempuan

Navaswara.com – Kemajuan bagi perempuan Indonesia,  bukan hanya dalam hal kesempatan berkarier atau berpendar di ruang publik, tetapi juga hak untuk sehat dan berdaya atas tubuh sendiri. Di momen refleksi Hari Kartini tahun ini, sebuah langkah besar diambil oleh Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) dengan meluncurkan SPRIN (Selamatkan PeRempuan INdonesia) sebagai sebuah Gerakan Nasional.

Langkah ini menjadi kado penting bagi para puan di tengah realitas kesehatan yang masih menantang. Data menunjukkan bahwa angka kematian ibu di Indonesia masih menyentuh 189 per 100.000 kelahiran hidup—angka yang menempatkan kita pada posisi yang cukup mengkhawatirkan di Asia Tenggara.

Konferensi pers yang digelar POGI Selasa (21/4/2026) ini dihadiri oleh sosok-sosok perempuan inspiratif, salah satunya Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka. Dalam pesannya, Isyana menyebutkan kesehatan menjadi modal utama untuk melangkah lebih jauh.

“Saat ini kita melihat perempuan Indonesia bisa berkontribusi lebih, terutama di luar lingkup domestik. Kita melihat banyak perempuan yang bisa mengambil peran di ranah publik. Hal ini tentu saja merupakan perkembangan yang diinginkan oleh R.A. Kartini,” tutur Isyana.

Isyana mengingatkan bahwa untuk mencapai mimpi besar Indonesia Emas 2045, pondasinya dimulai dari kesehatan para ibu. Dukungan pemerintah pun terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor dan program konkret seperti Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk deteksi dini.

Menjadikan Kesehatan sebagai Fondasi Kekuatan Bangsa

Ketua Umum Pengurus Pusat POGI, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, SpOG, Subsp. FER, menegaskan bahwa SPRIN hadir untuk mengubah cara pandang kita semua. Kesehatan perempuan bukan lagi isu sampingan, melainkan fondasi kekuatan bangsa.

“SPRIN bukan sebatas program, tetapi gerakan kolektif untuk mendorong perubahan. Jika perempuan sehat dan berdaya, keluarga menjadi lebih kuat dan generasi yang lahir pun lebih berkualitas,” ungkap Prof. Budi.

POGI mencatat tantangan besar yang masih dihadapi para perempuan, mulai dari akses layanan yang belum merata hingga literasi kesehatan yang perlu ditingkatkan. Melalui SPRIN, POGI ingin memastikan tidak ada lagi perempuan yang merasa sendirian dalam menghadapi masalah kesehatan reproduksinya.

Sebagai wujud cinta bagi perempuan Indonesia, SPRIN mengusung 10 fokus utama yang sangat dekat dengan kebutuhan harian, antara lain:

  • Vaksinasi & Skrining DNA HPV demi membebaskan puan dari ancaman kanker serviks.

  • Edukasi Reproduksi yang menyasar remaja hingga dewasa agar lebih paham mengenai kesehatan diri.

  • Pendampingan Kehamilan melalui pemberian suplemen nutrisi dan pengawalan medis yang ketat.

  • Perhatian bagi Puan Menopause agar tetap berkualitas di usia senja.

  • Rumah Perempuan Indonesia (R-PRIN) yang akan menjadi wadah edukasi dan pemberdayaan terpadu bagi kita semua, dan lainnya.

Bergerak Bersama untuk Masa Depan

Gerakan ini juga menjadi bukti nyata kekuatan kolaborasi pentahelix. POGI menggandeng berbagai pihak mulai dari pemerintah, dunia usaha seperti Pegadaian dan Kadin, hingga komunitas untuk memastikan kampanye ini sampai ke telinga setiap perempuan di pelosok negeri.

Momen ini juga akan diperkuat melalui forum tahunan SPRIN Summit 2026 sebagai wadah bagi perempuan untuk mengevaluasi dan memperkuat komitmen bersama.

Seperti semangat yang dibawa SPRIN, “When we educate a woman, we educate a nation”, menyelamatkan kesehatan seorang puan hari ini adalah langkah pasti untuk menyelamatkan masa depan generasi Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *