Navaswara.com – Sering mendengar pepatah yang mengatakan bahwa masih ada banyak ikan di laut? Sayangnya, frasa pelipur lara tersebut perlahan mulai kehilangan maknanya. Perubahan iklim telah membuat stok ikan global kian menipis dari hari ke hari.
Sebuah pemodelan terbaru dari Monash University membunyikan alarm bahaya bagi sektor kelautan. Mereka memprediksi perubahan iklim akan memukul telak hasil tangkapan nelayan di berbagai penjuru dunia. Jika dibiarkan berlarut, ketahanan pangan, nasib nelayan, hingga masa depan ekosistem laut sebagai lumbung pangan berkelanjutan berada di ujung tanduk.
Ancaman Baru di Balik Evolusi Spesies
Berbeda dari riset-riset terdahulu yang hanya memotret respons ikan terhadap suhu panas, studi yang dipublikasikan dalam jurnal Science ini melangkah ke tahap selanjutnya. Para ilmuwan meneliti bagaimana ikan terpaksa berevolusi menghadapi iklim ekstrem di masa depan.
Profesor Craig White selaku Kepala School of Biological Sciences Monash University memaparkan bahwa pemanasan global memaksa ikan tumbuh lebih cepat dan dewasa sebelum waktunya. Imbasnya, ukuran ikan saat dewasa menjadi jauh lebih kecil dibandingkan ukuran normal.
Perubahan evolusioner ini memang menjadi kabar baik bagi kelangsungan hidup ikan itu sendiri. Namun, fenomena ini justru menjadi mimpi buruk bagi nelayan dan industri perikanan. Evolusi membuat ikan mampu bertahan dari dampak pemanasan global, tetapi secara bersamaan mengancam kelestarian volume tangkapan.
Pukulan Berat bagi Industri Perikanan Indonesia
Ancaman lingkungan ini menjadi sangat relevan bagi Nusantara. Sebagai negara kepulauan raksasa, sektor kelautan memegang peran ekonomi yang sangat vital dengan sumbangsih mencapai triliunan rupiah setiap tahun. Roda ekonomi ini digerakkan oleh perikanan tangkap, pariwisata bahari, transportasi laut, hingga budidaya perairan.
Meski berstatus sebagai produsen utama hasil laut dunia, laju perikanan tangkap di Indonesia belakangan ini mulai melambat. Angka tangkapan nelayan rupanya sudah merayap mendekati batas maksimal yang dianggap aman bagi pelestarian ekosistem, yakni di kisaran 6,5 juta ton per tahun. Di tengah kondisi ini, cuaca yang tidak menentu dan suhu laut yang memanas membuat beberapa spesies ikan berkembang biak lebih sedikit atau bahkan lenyap sama sekali dari perairan.
Risiko Besar Layanan Ekosistem
Penelitian mendalam yang turut melibatkan Profesor Jan Kozłowski dari Universitas Jagiellonian Polandia ini menggunakan model sejarah hidup yang baru. Mereka menguji data dari hampir 3.000 spesies ikan untuk memprediksi dampak evolusi terhadap puluhan kawasan perikanan terbesar dunia.
Profesor Dustin Marshall yang memimpin Marine Evolutionary Ecology Research Group di Monash University menegaskan bahwa evolusi spesies memang menyelamatkan ikan dari kepunahan. Kendati demikian, adaptasi tersebut justru berisiko memperburuk kondisi layanan ekosistem laut yang selama ini menghidupi manusia.
Riset ini menegaskan urgensi kebijakan iklim global yang jauh lebih ketat. Menahan laju pemanasan global agar tidak melebihi angka 1,5 derajat Celsius menjadi satu-satunya jalan keluar untuk menyelamatkan jutaan ton potensi perikanan yang saat ini rawan menghilang dari piring makan kita.
