Navaswara.com — Bali selalu punya cara untuk memperkenalkan dirinya kepada wisatawan. Selain pantai, pura, dan destinasi populer, ada cerita tentang alam, seni, serta tradisi yang hidup dalam keseharian masyarakat setempat.
Sejak Mei 2026, semakin banyak Airbnb Experiences hadir di Bali dengan beragam pilihan kegiatan, mulai dari alam dan aktivitas luar ruang, sejarah dan budaya, makanan dan minuman, seni dan desain, hingga kebugaran dan wellness. Pengalaman tersebut dipandu tuan rumah lokal yang mengajak wisatawan mengenal Bali melalui sudut pandang yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Dua di antaranya adalah Wayan Wardika dan Ida Bagus Rekha. Keduanya memiliki cara berbeda dalam memperkenalkan Bali, sekaligus membawa cerita personal tentang alam dan seni yang mereka rawat.
Merawat kunang-kunang dan ekosistem Taro
Sekitar 20 kilometer di utara Ubud, tepatnya di Desa Taro, Wayan Wardika mengembangkan upaya konservasi untuk mengembalikan populasi kunang-kunang yang semakin sulit ditemukan.
Latar belakang Wayan sebenarnya berada di bidang pariwisata. Ketika kembali ke Taro, ia melihat perubahan lingkungan di desa yang pernah menjadi bagian dari masa kecilnya. Penggunaan pestisida, polusi, dan kerusakan habitat turut membuat kunang-kunang semakin berkurang.
Kekhawatiran tersebut kemudian mendorong lahirnya Bring Back The Light. Inisiatif ini melibatkan petani lokal, peneliti, dan ilmuwan muda untuk memulihkan populasi kunang-kunang sekaligus menjaga ekosistem tempat mereka berkembang.
“Kunang-kunang memiliki hubungan yang sangat erat dengan kearifan lokal, spiritualitas, budaya, dan tradisi Bali. Saat kita melindungi kunang-kunang, kita juga sedang melindungi bagian kecil dari identitas budaya dan kearifan yang telah diwariskan secara turun-temurun,” ujar Wayan.

Melalui Airbnb Experiences, Wayan mengajak wisatawan menyusuri area persawahan untuk melihat kunang-kunang sekaligus memahami kehidupan serangga tersebut. Tamu juga dapat mengunjungi laboratorium, bertemu anak-anak muda yang terlibat dalam penelitian dan pembiakan, serta menikmati waktu bersama keluarga Wayan.
Pengalaman tersebut memberi ruang bagi wisatawan untuk memahami bahwa konservasi tidak berhenti pada aktivitas melihat kunang-kunang. Ada habitat yang perlu dijaga, penelitian yang terus berjalan, serta masyarakat lokal yang ikut terlibat.
“Banyak tamu Airbnb yang merekomendasikan pengalaman kami kepada wisatawan lain, bahkan beberapa mengatakan ingin kembali,” kata Wayan.
Mengenal seni Kamasan dari tangan seniman lokal
Cerita berbeda datang dari Ida Bagus Rekha yang memperkenalkan seni lukis Kamasan kepada wisatawan. Seni tradisional asal Klungkung ini memiliki kaitan erat dengan sejarah visual dan kehidupan budaya Bali.
Pengetahuan tentang Kamasan diperoleh Ida Bagus Rekha dari gurunya, Nyoman Mandra, seniman sekaligus praktisi seni Kamasan asal Klungkung. Pengetahuan tersebut kemudian ia teruskan melalui pengalaman yang dapat diikuti wisatawan.
Dalam sesi tersebut, tamu mempelajari proses pewarnaan lukisan Kamasan secara bertahap. Mereka juga diajak memahami asal-usul, fungsi tradisional, serta konteks budaya yang melekat pada karya tersebut.
“Lewat pengalaman ini, saya berharap para wisatawan dapat lebih memahami bagaimana seni Bali telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kami. Seni Bali bercerita dan memberi makna dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari upacara adat, hiasan pura, hingga pakaian,” ujar Ida Bagus Rekha.
Proses melukis berlangsung perlahan. Setiap warna diaplikasikan satu per satu sehingga membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Bagi para tamu, proses selama tiga jam tersebut justru menjadi kesempatan untuk berhenti sejenak dari aktivitas wisata yang serba cepat.
Dua pengalaman ini memperlihatkan sisi Bali yang dapat ditemukan melalui masyarakat yang tinggal dan berkarya di dalamnya. Dari cahaya kunang-kunang di persawahan Taro hingga sapuan warna dalam lukisan Kamasan, wisatawan diajak mengenal cerita lokal melalui pengalaman langsung bersama orang yang menjalaninya.
