Herman Suryatman Ajak Anak Mendongeng dengan Hati untuk Jadi Pemimpin Masa Depan

Navaswara.com — Mendukung penyelenggaraan Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara 2026 Jawa Barat, Sekretaris Daerah (Sekda) Jawa Barat, Herman Suryatman menilai dongeng memiliki peran penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia (SDM) sejak usia dini.

Menurutnya, kemajuan sebuah negara tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam maupun perkembangan teknologi, tapi juga oleh kualitas manusia yang memiliki karakter unggul. Herman mengatakan, pembangunan SDM merupakan salah satu perhatian penting bagi Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Untuk mewujudkan generasi emas, menurutnya, ada banyak cara sederhana yang dapat dilakukan mulai dari lingkungan keluarga. Salah satunya adalah menghidupkan kembali kebiasaan mendongeng dan mendengarkan cerita.

“Salah satu concern kami adalah SDM dan salah satu cara meningkatkan SDM agar menjadi generasi emas, cara paling mudah dan murah ya dengan mendongeng yang sayangnya hari ini sudah mulai jauh dari kehidupan keluarga kita,” ujar Herman.

Ia menilai tradisi mendongeng yang dahulu begitu dekat dengan kehidupan keluarga kini mulai ditinggalkan. Padahal, aktivitas tersebut bukan sekadar hiburan bagi anak sebelum tidur, melainkan dapat menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai kehidupan, membangun imajinasi, sekaligus memperkuat kemampuan berbahasa.

Menurut Herman, bahasa Sunda dan bahasa Indonesia juga semestinya tidak dipandang sebagai sesuatu yang biasa. Kedua bahasa tersebut merupakan bagian dari kekuatan budaya yang dapat menjadi fondasi pembentukan karakter generasi muda.

“Selama ini pelajaran bahasa Sunda dan bahasa Indonesia kita anggap sesuatu yang biasa, padahal tidak, itu adalah kekuatan kita. Kunci dari sebuah negara maju adalah SDM yang berkarakter unggul dan itu merupakan salah satu bagian dari visi kami.”

Ia menjelaskan, dongeng dan storytelling memberikan ruang bagi anak untuk membangun imajinasi. Ketika sebuah cerita disampaikan dengan baik, anak tidak hanya mendengar rangkaian kata, tapi juga membentuk gambaran, emosi, dan nilai dari cerita tersebut di dalam pikirannya.

“Dari dongeng dan storytelling anak-anak akan berimajinasi sebelum tidur yang nantinya akan masuk ke alam bawah sadar mereka,” lanjut Herman.

Oleh karena itu, ia memberikan apresiasi kepada Cahaya Manthovani dan PT Navaswara Buana Kencana bersama Navaswara Media Nusantara yang telah menggagas Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara 2026 Jawa Barat. Herman menilai kegiatan ini mungkin terlihat sederhana, tapi sesungguhnya memiliki makna yang besar bagi pelestarian budaya sekaligus pembentukan karakter anak.

“Terima kasih untuk Cahaya dan Navaswara yang telah menggagas acara ini. Mungkin Cahaya menganggap ini sederhana saja, padahal tidak. Ini powerful, ini meaningful,” tuturnya.

Herman juga berpesan kepada para peserta agar tidak sekadar mengandalkan kemampuan logika ketika tampil mendongeng. Menurutnya, seorang pendongeng perlu menghadirkan hati agar pesan dalam cerita dapat tersampaikan dan dirasakan oleh penonton.

Ia bahkan mengajak para peserta untuk menjadikan panggung festival sebagai ruang belajar untuk mempersiapkan diri menjadi generasi pemimpin di masa depan. “Maka ikuti dengan baik anak-anakku sekalian. Silakan mendongeng bukan hanya dengan logika tapi juga mendongeng dengan hati. Hadirkan hati di panggung ini dan kalian harus percaya bahwa kalian akan menjadi seorang pemimpin di masa depan,” katanya.

Pesan tersebut disampaikan Herman dalam momentum puncak Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara 2026 Jawa Barat yang digelar di Auditorium Sekretariat Daerah Kabupaten Bogor, Jalan Tegar Beriman, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Minggu (23/8/2026).

Berakhirnya babak grand final sekaligus menandai selesainya rangkaian kompetisi. Namun, festival ini diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah perlombaan untuk mencari pendongeng terbaik. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga cerita rakyat agar tetap hidup dan memiliki ruang di tengah perubahan zaman.

Melalui suara para pendongeng muda yang tampil di atas panggung, kisah-kisah dan legenda Jawa Barat diharapkan terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Dongeng bukan hanya cerita dari masa lalu, tetapi juga jembatan yang menghubungkan budaya, bahasa, imajinasi, dan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak yang kelak menjadi generasi penerus bangsa.

Dengan demikian, Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara 2026 Jawa Barat menjadi pengingat bahwa membangun generasi emas dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana, yakni sebuah cerita yang disampaikan dengan bahasa, imajinasi, dan hati.