Transformasi di laboratorium ParagonCorp dilakukan secara bertahap. Jika dulu proses dokumentasi dimulai dari sistem berbasis kertas dan logbook manual, kemudian beralih ke platform digital Smart Lab 1.0, kini perusahaan yang menaungi lebih dari 17 brand ini mulai mengadopsi AI di fase Smart Lab 2.0.
Rencana besar ke depan bahkan mencakup Smart Lab 3.0 yang akan melibatkan formulasi robotik hingga gudang otomatis. “Kami tidak lagi berada pada tahap digitalisasi dasar, tetapi mulai membangun lapisan AI di atas infrastruktur R&D yang telah terintegrasi,” ungkap dr. Sari.
Salah satu keunggulan nyata dari penerapan AI ini adalah fitur AI Color Matching. Dengan bantuan teknologi ini, penentuan warna atau shade kosmetik menjadi jauh lebih efisien. Tak hanya soal estetika, AI juga mendalami sisi biologis kulit. Melalui pengolahan data besar seperti genomik kulit dan mikrobioma, peneliti dapat menemukan bahan aktif yang paling tepat untuk masalah kulit tertentu, seperti jerawat, pencerah wajah, maupun perlindungan skin barrier.
Inovasi yang Lebih Inklusif untuk Kulit Indonesia
Guna menjawab tantangan keberagaman, ParagonCorp telah membangun basis data warna kulit dari lebih dari 1.000 perempuan Indonesia. Data ini digunakan untuk menciptakan pilihan warna cushion hingga foundation yang lebih representatif bagi masyarakat lokal.
Meski teknologi memegang peran besar, dr. Sari menegaskan bahwa AI diposisikan sebagai pendamping, bukan pengganti manusia.
“AI bagi kami adalah co-pilot, bukan autopilot. AI membantu mempercepat proses dan membuka kemungkinan baru, tetapi sentuhan manusia tetap menjadi penentu utama dalam menghadirkan inovasi yang bertanggung jawab,” tambahnya.
Melalui langkah ini, ParagonCorp berharap dapat mendorong industri kosmetik nasional menjadi lebih inklusif, minim limbah produksi, dan mampu bersaing secara global dengan tetap mengedepankan keamanan serta etika.

