El Nino 2026 Picu Ledakan Hama, IPB Tawarkan Cara Murah Cegah Gagal Panen

Navaswara.com – Ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Niño 2026 tidak hanya berdampak pada produksi pangan, tetapi juga berpotensi memicu lonjakan serangan hama di lahan pertanian.

Akademisi dari IPB University menawarkan solusi sederhana dan murah yang dapat dilakukan secara massal oleh petani untuk menekan risiko tersebut.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB Hermanu Triwidodo mengatakan, pentingnya langkah preemtif dalam mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), khususnya hama penggerek batang padi.

“El Nino biasanya diikuti peningkatan OPT. Kalau tidak diantisipasi sejak awal musim tanam, dampaknya bisa luas,” ujarnya di Bogor.

Fenomena yang disebut sebagai “Godzilla El Niño” diperkirakan berlangsung pada April hingga Oktober 2026. Kondisi ini berisiko meningkatkan serangan hama seperti penggerek batang padi dan wereng batang cokelat di berbagai sentra produksi.

Menurut Hermanu, pendekatan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) perlu diperkuat melalui strategi pencegahan sejak awal, sebelum musim tanam dimulai.

Salah satu langkah yang dinilai efektif adalah mengumpulkan kelompok telur penggerek saat fase persemaian. Cara ini dinilai sederhana dan dapat dilakukan tanpa teknologi mahal.

“Bisa menggunakan alat sederhana seperti botol plastik yang dibalik. Ini langkah praktis untuk menekan populasi sejak dini,” jelasnya.

Secara ekonomi, langkah ini juga dinilai efisien. Satu kelompok telur penggerek yang berisi sekitar 50 butir dapat merusak hingga 300 malai padi atau setara 1,2 kilogram gabah kering panen.

Dengan asumsi harga Rp6.500 per kilogram, potensi kerugian bisa mencapai lebih dari Rp8.000 per kelompok telur.

Selain itu, ancaman lain datang dari wereng batang cokelat yang dapat menyebabkan gagal panen dalam waktu singkat. Hama ini juga menjadi vektor virus yang membuat tanaman tidak dapat berproduksi.

Untuk itu, Hermanu mendorong pendekatan partisipatif dengan melibatkan masyarakat, termasuk pelajar. Pengumpulan telur hama bisa dijadikan kegiatan edukatif dengan insentif tertentu.

Menurutnya, langkah sederhana ini tidak hanya membantu petani, tetapi juga dapat meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap sektor pertanian.

“Jika populasi hama bisa ditekan sejak awal, ekosistem sawah tetap seimbang dan penggunaan pestisida bisa dikurangi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *