Keluarga jadi fondasi utama lahirkan generasi berkualitas

Navaswara.com — Suasana dialog yang hangat terasa dalam pembahasan isu kependudukan dan masa depan generasi. Di tengah tantangan bonus demografi, perhatian kembali diarahkan pada hal paling mendasar dalam kehidupan berbangsa, yakni keluarga sebagai fondasi utama pembentukan kualitas manusia.

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, Wihaji, menegaskan bahwa keluarga merupakan inkubator utama dalam mencetak sumber daya manusia berkualitas. Hal itu disampaikannya dalam Dialog Menuju Kesejahteraan Antar-Generasi di Gedung Bappenas, Senin.

“Unit terkecil dalam sebuah negara adalah keluarga. Jika ingin membangun negara ke depan, maka harus dimulai dari keluarga,” ujarnya.

Bonus Demografi Jadi Momentum Penentu

Berdasarkan data United Nations Department of Economic and Social Affairs, jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan mencapai puncak pada 2054 dengan sekitar 322 juta jiwa sebelum mengalami penurunan. Periode 2020 hingga 2030 menjadi fase krusial karena merupakan puncak bonus demografi.

Dalam lima tahun ke depan, Indonesia dinilai berada pada fase penentu untuk memastikan keberhasilan memanfaatkan bonus demografi. Pemerintah menekankan pentingnya investasi pada tiga sektor utama, yakni ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.

Keluarga Jadi Pusat Intervensi Pembangunan

Data Kemendukbangga menunjukkan terdapat 74,09 juta keluarga di Indonesia. Dari jumlah tersebut, terdapat 3,72 juta keluarga dengan baduta, 10,18 juta keluarga dengan balita, serta 46,73 juta keluarga dengan remaja.

Selain itu, terdapat 46,3 juta pasangan usia subur serta 25,17 juta keluarga dengan anggota lansia. Data ini menunjukkan bahwa intervensi pembangunan harus menyasar seluruh siklus kehidupan dalam keluarga.

Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah mengerahkan sekitar 599 ribu Tim Pendamping Keluarga yang bekerja langsung di masyarakat. Mereka berperan dalam memberikan edukasi, mengubah perilaku, serta melakukan intervensi nyata seperti pencegahan stunting dan pemberdayaan ekonomi keluarga.

“Inilah para pekerja lini lapangan yang menggerakkan perubahan, termasuk dalam investasi sumber daya manusia,” kata Wihaji.

Perkuat Fondasi SDM dan Ekonomi Bangsa

Pendekatan berbasis keluarga dinilai menjadi strategi kunci dalam membangun SDM unggul yang mampu bersaing di era global. Selain berdampak pada kesehatan dan pendidikan, penguatan keluarga juga berkontribusi terhadap ketahanan ekonomi masyarakat.

Dengan intervensi yang tepat, keluarga tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga motor penggerak pertumbuhan ekonomi, termasuk dalam penguatan UMKM dan kemandirian ekonomi rumah tangga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *