Siapkah Indonesia Menuju Net Zero? Tantangan yang Harus Kita Tahu

Ketidakseragaman istilah seperti carbon neutral dan net zero tetap menjadi hambatan yang perlu diatasi kini semakin mendesak seiring target 2030 yang kian dekat.

Navaswara.com – Industri di Indonesia semakin menyadari pentingnya mengurangi emisi gas rumah kaca dalam upaya mencapai target net zero emission atau emisi netto nol. Kesadaran ini terus tumbuh seiring meningkatnya pemahaman tentang dampak nyata perubahan iklim, cuaca ekstrem yang makin intens, kenaikan permukaan air laut yang mengancam wilayah pesisir, dan bencana alam yang frekuensinya meningkat dari tahun ke tahun. Berbagai sektor, mulai dari energi, transportasi, hingga pertanian, kini berlomba beradaptasi dan menerapkan praktik yang lebih ramah lingkungan.

Komitmen NDC (Nationally Determined Contributions) Indonesia telah diperbarui dalam Enhanced NDC 2022, dengan target pengurangan emisi sebesar 31,89% dengan upaya sendiri, atau 43,20% dengan dukungan internasional, pada tahun 2030. Komitmen ini selaras dengan tujuan membatasi kenaikan suhu global di bawah 1,5 derajat Celsius sesuai Perjanjian Paris. Memasuki 2026, tinggal empat tahun menuju batas waktu NDC pertama, membuat urgensi aksi nyata semakin tak bisa ditunda.

Tiga Tantangan Utama yang Masih Menghambat

Perjalanan menuju emisi netto nol tidaklah mudah. Tiga tantangan utama masih menjadi hambatan nyata:

  • Ketidakseragaman istilah, penggunaan carbon neutral dan net zero yang sering dipertukarkan menyulitkan koordinasi lintas sektor dan memperlambat perumusan kebijakan yang koheren.
  • Strategi yang tersebar tanpa fokus, tanpa target yang jelas dan terukur, penetapan prioritas menjadi sulit dan inisiatif dekarbonisasi kerap berjalan sendiri-sendiri.
  • Kebingungan konsep dekarbonisasi, termasuk penghitungan emisi langsung (scope 1), tidak langsung (scope 2), dan dari rantai pasokan (scope 3) yang pendekatannya masih beragam antarpelaku industri.

Empat Tahapan Dekarbonisasi yang Terbukti Efektif

Dalam menjalankan dekarbonisasi, perusahaan dapat mengikuti empat tahapan utama:

  • Hitung emisi — mengacu pada GHG Protocol secara global untuk memahami besaran dan sumber emisi dari seluruh operasional perusahaan.
  • Tetapkan target berbasis sains — menggunakan kerangka SBTi (Science Based Targets initiative) dengan target ambisius yang terukur dan sesuai jalur 1,5°C.
  • Rumuskan strategi komprehensif — mencakup langkah konkret mulai dari efisiensi energi, elektrifikasi armada, hingga investasi dalam teknologi rendah karbon.
  • Implementasi dan pengungkapan transparan — publikasi berkala kemajuan dekarbonisasi kepada publik, mengikuti standar pelaporan seperti TCFD atau GRI.

Salah satu perkembangan penting pada 2025–2026 adalah semakin kuatnya dorongan regulasi pelaporan keberlanjutan. Di tingkat global, standar ISSB (International Sustainability Standards Board) mulai diadopsi secara luas, sementara Indonesia melalui OJK sedang memfinalisasi peta jalan taksonomi keuangan berkelanjutan yang mengharuskan emiten untuk mengungkapkan risiko dan peluang iklim secara terstruktur. Format pelaporan yang terstandardisasi ini memungkinkan perbandingan dan benchmarking yang lebih akurat antarpelaku industri.

Hirarki Prioritas Reduksi Emisi

Upaya pengurangan emisi perlu dilakukan secara sistematis, mengikuti hirarki berikut:

  • Hindari — cegah emisi sejak awal melalui desain produk dan layanan yang ramah lingkungan.
  • Kurangi — tingkatkan efisiensi penggunaan energi dan sumber daya di seluruh rantai nilai.
  • Ganti — beralih ke sumber energi dan bahan baku yang lebih bersih dan berkelanjutan.
  • Kompensasi — sebagai langkah terakhir, gunakan kredit karbon berkualitas tinggi atau proyek penyerapan karbon untuk emisi yang belum bisa dihilangkan.

Inisiatif seperti CEIA (Clean Energy Investment Accelerator) telah membantu mempercepat transisi menuju energi bersih di Indonesia. Namun, dengan milestone 2030 yang kian dekat, laju transisi perlu dipercepat secara signifikan. Kerja sama erat antara pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan masyarakat sipil menjadi kunci untuk memastikan Indonesia tidak hanya memenuhi komitmen NDC-nya, tetapi juga memanfaatkan peluang ekonomi besar dari transisi menuju net zero.

Dengan mengikuti langkah-langkah ini secara konsisten, perusahaan dapat mengambil jalur konkret menuju net zero emission, berkontribusi pada upaya global mengatasi krisis iklim, sekaligus membangun ketahanan bisnis jangka panjang di era dekarbonisasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *