Naik MRT, KRL, Hingga TransJakarta, Mana yang Benar-Benar Ramah Kursi Roda?

Navaswara.com – Transportasi publik sering dipandang sebagai ukuran kemajuan sebuah kota. Jakarta memiliki tiga moda utama yang setiap hari membawa jutaan penumpang, yaitu KRL Jabodetabek, MRT Jakarta, dan TransJakarta. Ketiganya menyatakan diri ramah bagi penyandang disabilitas. Pengalaman pengguna kursi roda menunjukkan kenyataan yang tidak selalu sama di setiap sistem.

Perjalanan pengguna kursi roda sering dimulai dengan serangkaian pertimbangan tambahan. Lift harus dipastikan berfungsi. Petugas perlu tersedia di peron tertentu. Posisi gerbong juga perlu diperhatikan karena tidak semua memiliki ramp yang siap digunakan. Tanpa kepastian itu perjalanan sederhana bisa berubah menjadi proses yang memakan waktu.

MRT Jakarta Paling Mendekati Standar Aksesibilitas

MRT Jakarta dirancang dengan sistem aksesibilitas yang relatif konsisten sejak awal pembangunan. Setiap stasiun memiliki lift, gate lebar, serta peron yang hampir rata dengan lantai kereta. Area khusus kursi roda tersedia di kereta tertentu sehingga mobilitas pengguna lebih mudah.

Seorang pengguna kursi roda bernama Hendra mengatakan ia cukup percaya menggunakan MRT karena dapat bepergian sendiri tanpa harus meminta bantuan petugas di setiap titik. Namun ia mengaku kendala muncul setelah keluar dari stasiun. Trotoar yang terputus dan parkir kendaraan di jalur kursi roda sering membuat perjalanan terhambat.

Kondisi ini menunjukkan bahwa aksesibilitas tidak berhenti pada sistem transportasi saja. Infrastruktur kota di sekitarnya ikut menentukan apakah perjalanan benar benar dapat dilakukan secara mandiri.

KRL Jabodetabek Sudah Meningkat Tetapi Masih Bergantung pada Petugas

Jaringan KRL Jabodetabek telah menambah sejumlah fasilitas aksesibilitas. Beberapa stasiun memiliki lift, ramp kursi roda, serta toilet khusus disabilitas. Data fasilitas tersebut tercantum dalam laporan KAI Commuter pada periode 2023 hingga 2024.

Walau begitu penggunaan fasilitas sering bergantung pada kehadiran petugas. Ramp portabel biasanya dibawa oleh staf ketika kereta tiba di peron. Jika petugas tidak berada di tempat, pengguna kursi roda harus menunggu kereta berikutnya.

Situasi ini membuat perjalanan tidak selalu dapat direncanakan dengan pasti. Sistem yang masih bergantung pada bantuan manual menyisakan celah bagi pengguna yang ingin bergerak secara mandiri.

TransJakarta Belum Merata di Seluruh Jalur

TransJakarta juga menyediakan armada dengan ramp dan area khusus kursi roda. Laporan Institute for Transportation and Development Policy Indonesia pada 2022 mencatat adanya sejumlah bus yang dilengkapi fasilitas tersebut.

Masalah muncul karena tidak semua bus memiliki fitur yang sama. Akses menuju halte juga sering terhambat oleh kondisi trotoar yang tidak ramah kursi roda. Pengguna perlu mengetahui lebih dulu rute mana yang memiliki bus aksesibel serta halte yang dapat digunakan dengan aman.

Ketika perjalanan membutuhkan perencanaan tambahan seperti itu, transportasi publik belum sepenuhnya memberikan rasa bebas bergerak bagi semua orang.

Aksesibilitas Seharusnya Mendukung Kemandirian

Perbedaan penting dalam transportasi inklusif terletak pada kemampuan pengguna untuk bepergian tanpa bergantung pada bantuan orang lain. Prinsip ini juga ditekankan dalam Convention on the Rights of Persons with Disabilities yang telah diratifikasi Indonesia pada 2011.

Kesenjangan antara infrastruktur dan pengalaman pengguna sebenarnya juga tercermin dalam evaluasi pemerintah daerah. Pramono Anung, Gubernur Daerah Khusus Jakarta, pada 20 Januari 2026 mengatakan, “Konektivitas transportasi di Jakarta itu hampir 92 persen, tetapi pemanfaatannya belum maksimum.”

Pernyataan tersebut menandakan bahwa persoalan transportasi tidak berhenti pada pembangunan jaringan. Akses yang benar benar dapat digunakan secara mandiri oleh semua kelompok warga masih menjadi pekerjaan besar.

Data fasilitas dalam artikel ini merujuk pada laporan dan publikasi periode 2022 hingga 2024 dari Institute for Transportation and Development Policy Indonesia, laporan aksesibilitas KAI Commuter, situs resmi MRT Jakarta, serta informasi dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta. Hingga awal 2026 belum ada audit lapangan komprehensif yang memperbarui angka tersebut. Situasi di lapangan dapat berubah dari waktu ke waktu.

Ketika seseorang harus mencari petugas, menunggu ramp portabel, atau memastikan bantuan terlebih dahulu sebelum berangkat, layanan tersebut belum sepenuhnya setara. Jakarta terus memperluas integrasi transportasi. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap orang dapat bergerak dengan aman dan mandiri di dalamnya. Pertanyaan yang penting diajukan setiap kali proyek baru dirancang adalah sederhana. Apakah sistem itu benar benar memikirkan pengalaman pengguna kursi roda sejak awal. Jika iya, transportasi publik dapat menjadi ruang mobilitas yang adil bagi seluruh warga kota.