LPEM FEB UI: Subsidi Transjakarta Dorong Ekonomi Nasional, Pelanggan Disabilitas Hemat hingga 10% Pendapatan

Navaswara.com — Transportasi publik bukan sekadar alat mobilitas, tetapi fondasi penting pergerakan ekonomi kota. Hal itu ditegaskan dalam studi terbaru yang dirilis oleh Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) bertajuk “Dampak Ekonomi Subsidi Transjakarta” pada (11/2/2026).

Dalam forum diseminasi yang digelar di Kampus UI Salemba, kajian tersebut menunjukkan bahwa layanan Transjakarta tidak hanya memberikan manfaat sosial, tetapi juga berdampak nyata terhadap perekonomian nasional dan kualitas lingkungan.

Salah satu temuan penting studi ini adalah dampak langsung terhadap kelompok disabilitas dan kelompok rentan. David Tjahyana, panelis yang mewakili komunitas tersebut, menyampaikan bahwa penggunaan Transjakarta memungkinkan pelanggan disabilitas dan kelompok rentan menghemat sekitar 10 persen dari total pendapatan bulanan mereka. Penghematan ini memberi ruang fiskal rumah tangga untuk kebutuhan lain seperti pangan, pendidikan, atau kesehatan.

Dari sisi rumah tangga secara umum, warga DKI Jakarta dapat menghemat biaya transportasi hingga Rp174 ribu per bulan—angka yang setara dengan konsumsi buah-buahan bulanan atau sekitar setengah kebutuhan beras keluarga. Sementara bagi warga non-DKI yang beraktivitas di Jakarta, potensi penghematan bahkan mencapai sekitar Rp275 ribu per bulan.

Dampaknya tak berhenti pada level individu. Studi LPEM FEB UI mencatat bahwa setiap Rp1 triliun subsidi operasional Transjakarta mampu menghasilkan Rp3,2 triliun output ekonomi nasional. Selain itu, kebijakan ini berkontribusi pada penciptaan sekitar 32 ribu lapangan kerja per tahun serta menghasilkan manfaat ekonomi dari penurunan polusi udara yang diperkirakan mencapai Rp3,79 triliun setiap tahun.

Bambang Arianto dari Bank Indonesia dalam diskusi tersebut menekankan bahwa transportasi publik adalah infrastruktur ekonomi kota. Tanpa sistem transportasi yang efisien, biaya logistik meningkat, produktivitas menurun, dan daya saing kota melemah.

Sementara itu, Fariz Egia Gamal, content creator urbanisme, menyoroti pentingnya aksesibilitas dan kualitas layanan. Ia menilai tarif bukanlah hambatan utama karena kelompok rentan telah difasilitasi melalui Kartu Layanan Gratis (KLG), sehingga tantangan berikutnya adalah memastikan layanan tetap nyaman, aman, dan inklusif.

Halley Yudhistira, Project Leader LPEM FEB UI, merangkum esensi temuan studi tersebut dengan analogi sederhana: transportasi adalah tulang punggung sekaligus urat nadi perekonomian. Semakin baik sistem transportasi, semakin sehat denyut ekonomi kota.

Kajian ini memperkuat argumen bahwa subsidi transportasi publik bukan sekadar beban fiskal, melainkan investasi sosial-ekonomi jangka panjang. Dengan sistem yang inklusif dan berkelanjutan, Transjakarta dinilai tidak hanya menggerakkan warga Jakarta, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *