Navaswara.com – Bicara soal kuliner Cirebon memang tak pernah ada habisnya. Di antara popularitas nasi jamblang, empal gentong, atau tahu gejrot, ada satu hidangan sarapan yang kerap luput dari sorotan, tetapi menyimpan cerita panjang: docang.
Bagi masyarakat Cirebon, docang bukan hanya pengganjal perut di pagi hari. Kuliner sederhana ini memiliki unsur historis yang kuat dan telah bertahan dari generasi ke generasi, menjadikannya salah satu makanan legendaris yang sarat makna budaya.
Sejarah docang erat kaitannya dengan legenda penyebaran Islam di Cirebon. Cerita rakyat menyebut hidangan ini lahir dari kisah percobaan racun terhadap Wali Songo. Dalam legenda tersebut, seorang pangeran bernama Rengganis menentang dakwah para wali yang menyebarkan ajaran Islam di wilayah Cirebon. Ia kemudian merancang siasat jahat dengan menyajikan makanan yang dibuat dari sisa-sisa hidangan istana dengan tujuan meracuni para wali.
Namun, kisah itu berujung di luar dugaan. Ketika disajikan di Masjid Sang Cipta Rasa, para wali justru menyantap hidangan tersebut dengan lahap. Alih-alih menimbulkan celaka, makanan itu malah disukai dan dinikmati. Dari peristiwa inilah, docang dipercaya lahir dan kemudian dikenal sebagai hidangan yang “selamat dari niat buruk”, sekaligus menjadi simbol keberkahan dan penerimaan.
Sejak saat itu, docang berkembang menjadi makanan khas Cirebon yang lekat dengan cerita spiritual dan sejarah dakwah Islam. Hidangan yang awalnya dibuat dari bahan sederhana justru mendapat tempat istimewa dan menjadi favorit para wali, hingga diwariskan sebagai kuliner rakyat yang bertahan hingga kini.
Nama docang sendiri menyimpan beragam tafsir. Salah satu versi menyebutkan istilah ini berasal dari kata “bodo” atau baceman, merujuk pada oncom atau dage, serta “kacang” yang merujuk pada kacang hijau yang diolah menjadi tauge. Versi lain menyebut docang berasal dari istilah “godogan kacang”, yakni rebusan kacang yang dihaluskan. Apa pun asal-usulnya, nama docang merepresentasikan kesederhanaan bahan yang diolah dengan kearifan lokal.
Dalam satu porsi docang, potongan lontong disajikan bersama tauge, daun singkong atau daun pepaya, parutan kelapa, dan kerupuk. Semua bahan tersebut kemudian disiram kuah khas dari fermentasi oncom atau tempe yang disebut dage. Kuah ini memberi cita rasa gurih, sedikit pedas, segar, dan samar asam. Keunikan lainnya terletak pada penggunaan kerupuk putih yang dihancurkan, menciptakan tekstur dan sensasi rasa yang berbeda di setiap suapan.
Mengutip buku Jalan-jalan ke Cirebon karya Nieza (2009), docang memiliki hubungan erat dengan tradisi Mauludan. Pada perayaan Maulid Nabi, ratusan pedagang docang musiman memenuhi kawasan Lapangan Keraton Kasepuhan dan sekitarnya. Pemandangan serupa juga kerap ditemukan di sekitar Keraton Kanoman, menandakan posisi docang sebagai bagian dari ritual budaya masyarakat.
Meski begitu, tak perlu menunggu momen Mauludan untuk mencicipi docang. Hingga kini, kuliner ini masih mudah ditemui di berbagai sudut kota, seperti Jalan Tentara Pelajar, Pasar Kanoman, hingga kawasan sekitar Stasiun Cirebon. Keberadaannya menjadi bukti bahwa docang tetap hidup di tengah arus modernisasi.
Docang bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang cerita, ingatan, dan identitas. Di balik kuah oncom yang sederhana, tersimpan jejak sejarah, legenda Wali Songo, serta warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Cirebon hingga hari ini.
Foto: Indonesia Kaya
