Repong Damar Bukti Hutan Bisa Hidup Bersama Manusia

Navaswara.com – Ketika krisis lingkungan makin sering dibicarakan, solusi kerap dicari dari teknologi baru dan kebijakan besar. Padahal, di sejumlah wilayah Indonesia, praktik menjaga hutan sekaligus menghidupi manusia sudah berlangsung lama dan bekerja dengan baik. Salah satunya hidup tenang di Pesisir Barat Lampung.

Repong damar adalah sistem agroforestri tradisional masyarakat Krui di Pesisir Barat, Lampung. Selama puluhan generasi, kawasan ini dikelola sebagai hutan produktif tanpa menanggalkan keseimbangan ekologisnya. Pohon damar menjadi tulang punggung, tumbuh berdampingan dengan aneka tanaman lain yang menopang kehidupan warga.

Hamparan repong damar membentang sekitar 29.000 hektar dan membentuk lanskap hutan buatan yang nyaris tak terbedakan dari hutan alami. Tajuk pohon menjulang rapat, cahaya matahari tersaring lembut, dan suara burung mengisi ruang udara. Relasi antara manusia, tradisi, dan alam terasa menyatu, bukan sebagai konsep, melainkan praktik sehari-hari.

Sekitar 80 persen penduduk Krui menggantungkan hidup dari kawasan ini. Getah damar disadap secara rutin, pohon baru terus ditanam, dan damar yang jatuh dikumpulkan sebagai tambahan hasil. Hutan tidak ditebang untuk diganti komoditas tunggal. Ia dirawat agar tetap hidup dan terus memberi.

Dari kejauhan, repong damar tampak seperti rimba biasa. Barisan pohon tinggi berdiri rapat, kanopi saling bertaut, dan suasana terasa liar. Ketika melangkah lebih dekat, tanda-tanda pengelolaan mulai terlihat. Torehan rapi pada batang damar, ember kecil penampung getah, serta bilah bambu penanda batas lahan muncul tanpa merusak lanskap.

Kawasan ini bukan hutan lindung. Tidak juga bisa disamakan dengan perkebunan modern. Repong damar berdiri di antara keduanya, menghadirkan sistem yang jarang ditemukan di tengah krisis lingkungan Indonesia.

Masyarakat Pesisir Barat telah lama mempraktikkan cara mengambil hasil hutan tanpa menghabisi hutannya. Pohon-pohon besar dibiarkan berdiri, sementara damar ditanam di sela vegetasi yang sudah ada, bersama durian, petai, duku, dan tanaman produktif lain. Pola ini menjaga struktur hutan sekaligus memastikan hasil ekonomi tetap mengalir.

Dari sisi ekologis, dampaknya signifikan. Riset Institut Pertanian Bogor menunjukkan repong damar mampu menyimpan karbon setara hutan alami, sekitar 200 hingga 300 ton per hektar. Keanekaragaman hayatinya juga terjaga. Tercatat sedikitnya 92 spesies burung dan 46 spesies mamalia hidup di kawasan ini, termasuk gibbon dan siamang dengan kepadatan yang sebanding dengan hutan primer.

Struktur ekonominya pun relatif stabil. Getah damar dapat disadap setiap dua minggu dan menjadi sumber pendapatan rutin. Ketika musim buah datang, durian dan duku menambah pemasukan. Satu lahan memberi banyak sumber penghidupan tanpa harus dikuras habis.

Ironinya, sistem yang terbukti lestari ini justru berada dalam tekanan. Dua dekade terakhir, hampir sepertiga luas repong damar di Lampung beralih fungsi. Banyak lahan berubah menjadi perkebunan kelapa sawit yang menawarkan hasil lebih cepat. Menunggu dua puluh tahun hingga damar produktif terasa berat saat sawit bisa dipanen dalam hitungan tahun.

Tekanan ekonomi semakin kuat ketika insentif bagi petani repong nyaris tidak ada. Generasi muda pun memilih pergi ke kota, meninggalkan lahan warisan orangtua. Tanpa penerus, banyak repong terbengkalai atau berpindah tangan ke perusahaan perkebunan.

Upaya perlindungan sebenarnya pernah ditempuh. Tahun 1998, pemerintah menetapkan repong damar sebagai Kawasan Dengan Tujuan Istimewa seluas 29.900 hektar. Setahun sebelumnya, sistem ini menerima penghargaan Kalpataru. Sayangnya, perlindungan administratif belum cukup kuat menahan arus konversi lahan di lapangan.

Ketertarikan justru datang dari luar negeri. Sejak 1990-an, CIFOR menjadikan repong damar sebagai studi kasus agroforestri berkelanjutan. Getah damar dari Lampung diekspor ke Jerman, Jepang, dan sejumlah negara Asia untuk industri kosmetik dan pernis. Dunia mempelajari dan memanfaatkan sistem ini, sementara keberadaannya di rumah sendiri kian terdesak.

Repong damar menunjukkan bahwa kearifan lokal mampu menjawab persoalan global. Praktik ini lahir dari pengalaman panjang, bukan dari jargon keberlanjutan yang baru populer belakangan. Pertanyaannya kini tinggal satu, apakah sistem ini akan dijaga sebagai masa depan, atau dibiarkan menyusut hingga tinggal catatan sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *