Navaswara.com – Berapa banyak uang yang Anda tabung di rekening bank? Meskipun Anda merasa aman karena saldo nominalnya tidak berkurang, tahukah Anda bahwa nilai tukar uang tersebut perlahan menguap? Ini adalah fenomena mengkhawatirkan yang mungkin tak disadari oleh nasabah bank.
Ada kebiasaan rutin untuk menyisihkan sebagian gaji ke rekening tabungan setiap bulan. Angka di layar ATM yang terus bertambah memberikan rasa aman bagi pemiliknya. Namun, ada kenyataan yang sering terlebihi di balik saldo tersebut.
Ilusi Uang yang “Aman”
Bayangkan ada dana sebesar Rp10.000.000 di rekening tabungan biasa. Bank memberikan bunga rata-rata 2% per tahun. Setahun berlalu, saldo menjadi Rp10.200.000 dan sepintas ini terlihat seperti sebuah keuntungan.
Realitanya tidak sesederhana itu bagi para penabung.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada 2024 berada di kisaran 2,5–3%. Artinya, harga barang dan jasa naik lebih cepat daripada bunga yang diterima dari bank. Nilai riil uang tersebut justru menyusut seiring berjalannya waktu.
Kondisi ini disebut sebagai real return negatif, situasi saat keuntungan nominal lebih kecil dari laju inflasi. Dalam kasus ini, daya beli uang berkurang sekitar 0,5–1% per tahun. Angka ini mungkin terasa kecil, namun akumulasi selama sepuluh tahun akan berdampak signifikan.
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bunga tabungan reguler di bank besar mayoritas berada di kisaran 0,5%–2% per tahun. Angka tersebut berada di bawah rata-rata inflasi tahunan yang secara historis mencapai 3–5% dalam dekade terakhir.
Prita Hapsari Ghozie, CEO ZAP Finance, menekankan pentingnya memahami fungsi rekening bank. “Tabungan adalah tempat untuk menyimpan dana darurat, bukan untuk menumbuhkan kekayaan. Membiarkan uang mengendap terlalu lama di rekening biasa tanpa strategi investasi hanya akan membuat nilai aset kita kalah telak oleh kenaikan harga barang,” ujarnya.
Jika menyimpan Rp50 juta selama 10 tahun di rekening biasa, secara daya beli, uang tersebut setara hanya dengan Rp40-an juta dalam nilai hari ini. Uang memang tidak hilang secara angka, namun secara nyata terjadi kerugian daya beli.
Apa Solusinya?
Menabung di rekening biasa bukanlah sebuah kesalahan fatal. Langkah ini tetap penting untuk dana darurat yang sifatnya harus cair seketika atau likuid. Namun, menjadikannya satu-satunya tempat menyimpan kekayaan adalah pilihan yang terhitung mahal.
Beberapa alternatif yang patut dipertimbangkan antara lain deposito dengan bunga kisaran 4–6%, reksa dana pasar uang, atau Surat Berharga Negara (SBN) ritel. Kuncinya adalah memastikan imbal hasil investasi mampu mengalahkan laju inflasi tahunan.
Uang seharusnya bekerja optimal bagi pemiliknya. Pertanyaannya bukan lagi sekadar “apakah sudah menabung?”, melainkan “apakah nilai tabungan tersebut benar-benar bertumbuh?”
Menjaga daya beli adalah langkah krusial dalam pengelolaan keuangan jangka panjang. Membiarkan aset tidak berkembang di tengah inflasi justru akan mengurangi nilai manfaatnya secara perlahan.
