Navaswara.com – Pemahaman tentang kecantikan sedang bergerak. Kulit tidak lagi dipandang sebagai permukaan yang dirawat dengan formula seragam, melainkan sebagai sistem biologis yang bekerja unik pada setiap orang. Riset biometrik, genomik, dan mikrobioma membuka cara baru membaca kebutuhan kulit secara lebih presisi dan bertanggung jawab.
Gagasan ini disampaikan dr. Sari Chairunnisa, Deputy CEO dan Chief R and D Officer ParagonCorp, dalam Beauty Science Tech 2026 yang berlangsung pada 21–25 Januari 2026 di City Hall Pondok Indah Mall 3, Jakarta. Memasuki usia 40 tahun, ParagonCorp menegaskan arah barunya sebagai Purposeful Beauty Tech Company melalui tema Beauty Rewired Where Science Technology and Soul Transform Life, yang menandai integrasi sains, teknologi, dan nilai dalam inovasi kecantikan.
Ajang ini menampilkan capaian global ParagonCorp, termasuk sebelas penghargaan C and T Allē Awards 2025, serta berbagai teknologi berbasis artificial intelligence hasil kolaborasi dengan lebih dari 20 mitra global. Pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga merasakan langsung bagaimana sains dan teknologi bekerja melalui berbagai pengalaman interaktif.
“The future of beauty akan sangat personalized,” ujar dr. Sari. Ia menjelaskan bahwa teknologi membantu manusia membaca kompleksitas kulit dengan lebih cermat. “AI akan sangat menolong,” katanya. Teknologi, menurutnya, hadir sebagai sarana pendukung agar proses menjadi lebih tepat. Namun sejak awal ia menegaskan bahwa teknologi tidak dimaksudkan untuk menggantikan manusia. “Kami sering diskusi, AI akan mereplace manusia atau tidak. Kami percaya tidak,” ucapnya. “Kita tetap butuh manusia. Kita tetap butuh percakapan itu.”

Pendekatan ini menjadi dasar ketika Paragon menegaskan dirinya sebagai Purposeful Beauty Tech Company. Bagi dr. Sari, ini bukan sekadar pernyataan arah bisnis. “Purpose ini penting untuk Indonesia dan juga global,” katanya. Paragon ingin menciptakan ruang yang menghubungkan orang, membuka dialog, dan memberi akses yang setara terhadap pengetahuan. “Kami ingin menciptakan space untuk saling menghubungkan orang dan mendemokratisasi the right information,” sambungnya.
Ruang tersebut terasa nyata di Beauty Science Tech 2026. Berbagai diskusi dirancang lebih terbuka, menghadirkan lebih banyak expert, dan dikemas dalam format talkshow yang engaging. “Kami ingin cowok juga merasa ini ruang buat mereka,” ujar dr. Sari. Kesadaran bahwa kebutuhan konsultasi tidak mengenal gender menjadi bagian dari perubahan cara Paragon berkomunikasi dengan publik.
Teknologi kemudian bekerja di balik layar untuk menjawab kebutuhan yang sangat spesifik. Salah satunya melalui pengembangan perangkat pencocokan warna lipstik dengan busana berbasis data lebih dari 500 skintone orang Indonesia. “Di Indonesia rupanya ada olive tone khas Asia Tenggara,” kata dr. Sari. “Kalau pakai standar global, seringnya jatuhnya terlalu kuning.” Pendekatan berbasis data lokal ini diperkuat dengan riset microbiome untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di kulit.
Di area pameran, pengalaman visual memainkan peran penting. Pengunjung diajak masuk ke animasi imersif yang membantu menjelaskan sains di balik kulit, cara kerja teknologi, serta hubungan antara data, tubuh, dan keseharian. Informasi yang kompleks diterjemahkan ke dalam pengalaman yang lebih intuitif, tanpa kehilangan kedalaman.

Di dalam ekosistem ParagonCorp, setiap brand menerjemahkan sains dan teknologi sesuai karakter masing-masing. “Di Kahf, ada AI yang mengenali bentuk wajah dan merekomendasikan model rambut yang pas,” ujar dr. Sari. Make Over mengembangkan analisis face ratio untuk mendukung presisi riasan. Sementara di kategori fragrance, Paragon mengeksplorasi pendekatan sinestesia untuk memperkaya cara orang merasakan aroma, dengan menghubungkan penciuman, visual, dan emosi dalam satu pengalaman.
Perubahan gaya hidup turut memengaruhi perhatian pada skincare laki-laki. Perawatan kulit kini tidak lagi dilekatkan pada satu gender. Perubahan gaya hidup membuat semakin banyak orang menyadari bahwa kondisi kulit berkaitan langsung dengan aktivitas, paparan lingkungan, dan kepercayaan diri di ruang publik. Kesadaran ini ikut mendorong perhatian pada perawatan kulit laki-laki yang kian berkembang.
“Aktivitas pria sekarang lebih banyak, aktivitas sosialnya tinggi, kulit lebih terpapar,” ujar dr. Sari. Menurutnya, kebutuhan merawat kulit berangkat dari keinginan tampil percaya diri saat bertemu kolega atau berinteraksi di berbagai situasi. Tipe kulit sendiri tidak sesederhana berminyak atau kering. “Ada 16 kategori tipe kulit,” kata dr. Sari, yang dimulai dari oily atau tidak, sensitif atau resistan, berpigmen atau tidak, hingga apakah ada wrinkle. “Kulit pria itu cenderung lebih resistan,” sambungnya.

Isu sosial dan lingkungan juga masuk ke dalam percakapan. “Concern tentang konservasi hutan pun kami harapkan dapat dijadikan awal obrolan untuk membangun movement,” kata dr. Sari. Di sisi lain, Emina menatap 2025 dengan fokus pada remaja. “Emina ingin mendemokratisasi layanan mental health untuk remaja,” ujarnya, menyinggung kenyataan bahwa tidak semua remaja memiliki ruang aman untuk berdiskusi.
Sejalan dengan pandangan tersebut, dalam sambutannya Harman Subakat, Group CEO ParagonCorp, turut menyebutkan prinsip perusahaan. “Kebermanfaatan selalu menjadi tujuan utama pertumbuhan Paragon,” ujarnya. Melalui Beauty Science Tech 2026, ParagonCorp membuka ruang kolaborasi lintas sektor, termasuk dengan Shopee, untuk memperluas dampak inovasi kecantikan dari Indonesia ke tingkat global.
Dalam kerangka ini, teknologi tidak ditempatkan sebagai pusat cerita. Teknologi digunakan untuk memperdalam pemahaman, memperluas akses, dan membantu manusia mengenali kebutuhannya sendiri dengan lebih jernih. Nilai, relasi, dan percakapan tetap menjadi fondasi agar inovasi kecantikan bergerak selaras dengan kehidupan nyata.
