Navaswara.com – Sejarah memang banyak tersimpan dalam buku dan arsip, tetapi ingatan tentang suatu peristiwa juga hidup melalui gambar dan tafsir visual. Lukisan menjadi medium untuk menangkap suasana zamannya, memperlihatkan relasi kuasa, serta menyampaikan sikap tanpa harus berujar lantang. Cara inilah yang kemudian terlihat jelas dalam karya-karya Raden Saleh Syarif Bustaman, pelukis berdarah bangsawan Jawa yang menjadikan kanvas sebagai ruang untuk membaca kolonialisme dari sudut pandang yang berbeda.
Raden Saleh, yang lahir sekitar 1811 di Semarang, menempati posisi istimewa dalam sejarah seni Indonesia. Ia dikenal sebagai perintis seni lukis modern di Nusantara, sekaligus figur langka yang berhasil masuk ke lingkaran seni Eropa pada abad ke-19, saat Hindia Belanda berada di bawah kekuasaan kolonial. Keberhasilannya menembus istana-istana Eropa mencerminkan kepekaan membaca zaman dan kecerdikan membangun posisi di tengah relasi kuasa yang timpang. Melalui kanvas, Raden Saleh menyisipkan sikap yang tidak selalu sejalan dengan narasi kolonial. Karya-karyanya memadukan Romantisme Eropa dengan identitas Jawa, menghadirkan kritik halus terhadap hubungan penjajah dan yang dijajah, terutama terlihat dalam lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro.
Masa Awal dan Perjumpaan dengan Kekuasaan Kolonial
Lahir dari keluarga ningrat sebagai putra Raden Syarief Husein, Raden Saleh tumbuh dalam lingkungan yang membuatnya akrab dengan struktur kekuasaan sejak usia dini. Bakat menggambarnya mulai terlihat ketika ia bersekolah di Volks-School di Batavia. Pada usia sekitar sepuluh tahun, pamannya menyerahkannya kepada otoritas kolonial, sebuah keputusan yang membuka jalannya bergaul dengan elite Belanda. Di bawah bimbingan pelukis Belgia A.A.J. Payen, ia mempelajari teknik cat minyak dan menggambar lanskap. Pada tahap ini, Raden Saleh menyerap teknik Barat sambil mempertahankan sensibilitas lokal lewat figur manusia Nusantara dan alam tropis yang kelak menjadi ciri penting karyanya.
Tahun 1829 menjadi titik krusial. Bersamaan dengan meredanya Perang Jawa dan kekalahan Pangeran Diponegoro, Gubernur Jenderal van der Capellen mengirim Raden Saleh ke Belanda. Keberangkatan ini dimaksudkan sebagai bagian dari proyek kolonial membentuk elite terdidik, namun justru memperluas pandangannya tentang kebebasan, identitas, dan ketimpangan yang mengiringi kolonialisme.
Eropa, Romantisme, dan Kehidupan di Lingkaran Istana
Di Eropa, Raden Saleh menjalani fase pembentukan yang menentukan. Ia mempelajari bahasa Belanda, seni potret dari Cornelis Kruseman, serta lanskap dari Andreas Schelfhout. Karyanya mulai dipamerkan di Den Haag dan Amsterdam hingga menarik perhatian Raja Willem I yang memberinya kesempatan tinggal lebih lama. Kariernya mencapai puncak ketika ia menjadi pelukis istana dan hidup di lingkungan bangsawan Jerman selama hampir dua dekade.
Pengaruh Romantisme Eropa, terutama dari Eugene Delacroix, tampak kuat dalam karyanya. Adegan hewan liar, ketegangan manusia, dan suasana dramatik hadir sebagai metafora konflik dan dominasi. Pengalamannya menyaksikan Revolusi 1848 di Paris serta perjalanannya ke Aljazair memperkaya sudut pandang artistik dan politisnya. Meski menerima berbagai gelar kehormatan dari kerajaan Eropa, ikatan Raden Saleh dengan identitas Jawanya tetap terjaga dan terus memengaruhi pilihan temanya.
Sekembalinya ke Hindia Belanda pada 1851 bersama istrinya, pengalaman panjang di Eropa membentuk sikap yang lebih reflektif terhadap kolonialisme dan posisi pribumi di dalam sistem tersebut.

Lukisan sebagai Sikap dan Ingatan Sejarah
Lukisan-lukisan Raden Saleh kerap dibaca sebagai ekspresi kegelisahan terhadap kekuasaan dan kekerasan, meski disampaikan melalui simbol dan dramatika visual. Karya seperti Perburuan Rusa dan Hutan Terbakar memperlihatkan relasi manusia dan alam yang penuh ketegangan, sering dimaknai sebagai alegori keserakahan dan penindasan.
Penangkapan Pangeran Diponegoro menjadi pernyataan paling tegas. Dilukis pada 1857, karya ini merespons versi Belanda karya Nicolaas Pieneman yang menampilkan Diponegoro sebagai sosok pasrah. Raden Saleh memilih sudut pandang berbeda. Diponegoro digambarkan tegar dan berwibawa, sementara figur-figur Belanda tampil dengan gestur kaku dan proporsi yang terasa mengintimidasi. Pilihan visual ini memperlihatkan sikap kritis terhadap peristiwa penangkapan yang sarat pengkhianatan.
Meski lukisan tersebut dipersembahkan kepada Raja Willem III, maknanya tidak tunduk pada narasi kolonial. Ketika dikembalikan ke Indonesia pada 1978, karya ini menegaskan peran seni sebagai medium penyimpan ingatan dan sikap sejarah.

Warisan yang Terus Dibaca Ulang
Perjalanan Raden Saleh berakhir di Bogor pada 23 April 1880, setelah ia melewati kehidupan panjang di persimpangan berbagai dunia. Pengalaman bersentuhan dengan tradisi Jawa dan sistem kolonial membentuk kepekaannya dalam membaca ketimpangan zamannya, lalu menerjemahkannya ke dalam bahasa visual yang bertahan lintas generasi. Pengakuan atas perannya baru datang kemudian melalui penetapan sebagai Perintis Seni Lukis Indonesia dan pemugaran makamnya atas perintah Presiden Soekarno. Jejak Raden Saleh pun tinggal sebagai pengingat bahwa seni mampu menyimpan sikap bertahan melintasi waktu.
