Navaswara.com – Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, nama Daendels hampir selalu identik dengan satu hal, Jalan Raya Pos. Jalan panjang dari Anyer hingga Panarukan itu kerap disebut sebagai warisan terbesar sekaligus paling kelam dari pemerintahan kolonial di awal abad ke-19.
Namun, cerita tentang Daendels ternyata tidak berhenti di jalur utara Pulau Jawa. Di selatan, ada jalan lain yang juga menyandang nama serupa. Meski sama-sama disebut “Jalan Daendels”, keduanya lahir dari niat, konteks, dan sejarah yang nyaris bertolak belakang.
Tahun 1808 menjadi titik penting dalam sejarah Jawa. Herman Willem Daendels, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang dikenal masyarakat sebagai “Mas Galak”, memerintahkan pembangunan jalan darat sepanjang lebih dari 1.000 kilometer hanya dalam tempo sekitar satu tahun.
Tujuannya, mempercepat mobilisasi pasukan untuk menghadapi ancaman Inggris, sekaligus melancarkan distribusi komoditas ekspor seperti kopi dan rempah-rempah.
Jalan Raya Pos kemudian menjadi tulang punggung logistik kolonial. Tetapi di balik kemudahan konektivitas itu, ada harga yang sangat mahal. Ribuan pekerja pribumi dipaksa bekerja dalam sistem rodi, banyak di antaranya tak pernah kembali ke kampung halaman.
Pantura, yang kini kita kenal sebagai jalur ekonomi utama nasional, sejatinya dibangun di atas lapisan penderitaan yang jarang dibicarakan.
Jalur Selatan yang Lebih Tua dari Kolonialisme
Berbeda dengan Pantura yang lahir dari ambisi kolonial, jalur Pantai Selatan atau Pansela sudah berdenyut jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Sejak berabad-abad lalu, jalur ini menjadi penghubung penting antarwilayah di Jawa bagian selatan.
Pada masa kerajaan-kerajaan Jawa, rute ini dikenal sebagai Jalur Upeti. Dari sinilah hasil bumi, pajak, dan persembahan dari daerah-daerah pesisir dibawa menuju pusat kekuasaan raja.
Memasuki abad ke-19, jalur ini kembali memainkan peran penting, kali ini dalam konteks perlawanan. Saat Perang Jawa meletus pada 1825–1830, Pangeran Diponegoro memanfaatkan jalur selatan sebagai rute gerilya. Hutan lebat dan kontur alam yang berat menjadikannya medan ideal untuk menghindari kejaran pasukan Hindia Belanda.
Dua Daendels, Dua Orang Berbeda
Banyak orang mengira jalan Daendels di utara dan selatan dibangun oleh sosok yang sama. Padahal, keduanya dipisahkan oleh waktu dan figur yang berbeda.
Herman Willem Daendels membangun Jalan Raya Pos di Pantura pada periode 1808–1811. Sementara jalan di pesisir selatan baru dibangun hampir tiga dekade kemudian, tepatnya pada 1838, oleh Augustus Dirk Daendels, Asisten Residen Ambal.
Ada dugaan kuat bahwa penggunaan nama “Daendels” di jalur selatan bukanlah kebetulan. Penamaan ini diyakini sebagai strategi politis untuk meredupkan ingatan kolektif rakyat terhadap jalur perjuangan Diponegoro, sekaligus menggantinya dengan simbol kekuasaan kolonial.
Jalan, Ingatan, dan Kekuasaan
Hari ini, Pansela menjelma menjadi rute alternatif sepanjang lebih dari 1.400 kilometer dengan panorama samudra yang memesona. Sementara, Pantura tetap menjadi nadi utama pergerakan barang dan manusia di Pulau Jawa.
Namun, kedua jalan ini sejatinya bukan sebatas hamparan aspal, melainkan artefak kekuasaan, penanda bagaimana infrastruktur bisa menjadi alat dominasi, perlawanan, sekaligus pembentukan ingatan sejarah.
Mungkin kita melintasinya tanpa berpikir panjang. Tapi di balik setiap kilometer jalan itu, tersimpan cerita tentang siapa yang berkuasa, siapa yang dilupakan, dan bagaimana sejarah memilih untuk diingat.
