Navaswara.com — Di tengah ritme kehidupan yang semakin cepat, banyak keluarga memilih berhenti sejenak, menengok kembali nilai yang selama ini menjadi fondasi kehidupan bersama. Dalam obrolan rumah, ruang pendidikan, hingga forum keagamaan, satu pesan kembali menguat: menghormati ibu bukan sekadar tradisi, melainkan nilai utama yang membentuk karakter dan ketahanan sosial.
Pemaknaan tersebut kembali mengemuka melalui berbagai kajian dan diskusi publik yang menegaskan ajaran tentang tingginya derajat ibu dalam kehidupan manusia. Salah satu pesan yang kerap disampaikan adalah makna ungkapan bahwa surga berada di telapak kaki ibu, yang dipahami sebagai simbol pentingnya bakti, penghormatan, dan tanggung jawab anak kepada orang tua, khususnya ibu.
Para penceramah dan pemerhati sosial menilai, pesan tersebut relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Di tengah tekanan ekonomi, perubahan gaya hidup, hingga meningkatnya tantangan sosial, peran ibu tetap menjadi poros pembentukan karakter keluarga dan penopang stabilitas emosional anak.
Peran ibu tidak hanya mendidik, tetapi membentuk cara anak memandang dunia. Dari ibu, nilai empati, ketahanan, dan tanggung jawab sosial pertama kali tumbuh. Dari sudut pandang sosial dan kebangsaan, nilai bakti kepada ibu dinilai berkelindan dengan semangat gotong royong dan kepedulian antargenerasi. Keluarga yang kuat dipandang sebagai fondasi lahirnya masyarakat yang berdaya dan bangsa yang tangguh menghadapi krisis.
Pengamat menyebutkan, bakti kepada ibu juga memiliki dimensi keberlanjutan. Ketika orang tua menua atau telah wafat, bakti diwujudkan melalui doa, menjaga nama baik keluarga, serta meneruskan nilai-nilai kebaikan yang diwariskan.
Menguatnya kembali narasi bakti kepada ibu menunjukkan bahwa di tengah modernisasi dan perubahan sosial, nilai-nilai dasar kemanusiaan tetap memiliki tempat penting. Penghormatan kepada ibu tidak hanya membentuk individu yang beradab, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dalam kehidupan berbangsa.
