McKinsey: Bahan Bakar Fosil Masih Akan Dominan di Atas 2050

Navaswara.com – Dunia tengah berpacu dengan waktu untuk menekan emisi karbon, namun kenyataannya bahan bakar fosil belum juga kehilangan cengkeramannya. Di tengah gencarnya investasi energi hijau dan komitmen berbagai negara menuju emisi nol bersih, minyak, gas, dan batu bara masih menjadi penopang utama kebutuhan energi global.

Laporan terbaru lembaga konsultan McKinsey memperkirakan bahan bakar fosil seperti minyak, gas, dan batu bara masih akan mendominasi bauran energi global bahkan setelah 2050. Proyeksi ini berangkat dari asumsi bahwa pertumbuhan permintaan energi akan lebih cepat dibandingkan transisi menuju energi terbarukan.

Berlanjutnya penggunaan energi fosil menjadi tantangan utama dalam upaya mencapai target emisi nol bersih. Selain menjadi penyumbang emisi terbesar, bahan bakar tersebut juga memicu kerusakan lingkungan di lokasi eksplorasi dan eksploitasi.

Dalam laporan bertajuk Global Energy Perspective 2025, McKinsey memperkirakan permintaan listrik global akan naik antara 20–40 persen hingga 2050, terutama didorong konsumsi dari sektor industri dan infrastruktur. Kawasan Amerika Utara disebut sebagai kontributor terbesar lonjakan tersebut. Pemakaian gas alam untuk pembangkit listrik juga diproyeksikan meningkat signifikan, dari sekitar 4.000 miliar meter kubik menjadi 5.020 miliar meter kubik dalam skenario Slow Evolution.

Sementara itu, penggunaan batu bara diperkirakan tetap tinggi, khususnya di negara-negara ASEAN dan China yang masih mengandalkan industri berat. McKinsey menaksir bauran energi fosil dalam konsumsi global pada 2050 berada di kisaran 41–55 persen—lebih rendah dari kondisi saat ini di angka 64 persen, tetapi lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Permintaan energi dari pusat data di Amerika Serikat diprediksi naik hampir 25 persen per tahun hingga 2030. Secara global, konsumsi listrik dari pusat data tumbuh sekitar 17 persen per tahun antara 2022–2030, terutama di negara-negara OECD.

McKinsey menyebut bahan bakar alternatif seperti hidrogen hijau kemungkinan belum diadopsi secara luas sebelum 2040, kecuali ada kebijakan wajib. Namun, energi terbarukan berpotensi memasok 61–67 persen konsumsi energi dunia pada 2050.

“Ini mungkin pergeseran terbesar dalam cara kita memahami sistem energi global. Jika digabungkan dengan penggunaan bahan bakar fosil di berbagai wilayah ekonomi, kontribusinya bisa mencapai 55 persen pada 2050,” kata Partner McKinsey, Diego Hernandez Diaz, kepada Reuters (17/10/2025).

Dia menambahkan, permintaan minyak diperkirakan belum akan melandai hingga dekade 2030-an. Ketidakpastian geopolitik dan kebijakan energi nasional yang lebih menekankan pada keterjangkauan serta keamanan pasokan disebut menjadi faktor utama yang menahan laju transisi.

Laporan tersebut juga menyinggung potensi “resesi energi”, kebijakan tarif, serta perlambatan inovasi teknologi sebagai faktor lain yang dapat memperpanjang ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *