Navaswara.com — Pertamina mengerahkan seluruh subholding dan anak usahanya untuk menjaga pasokan BBM dan LPG ke wilayah yang terdampak banjir di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan sejumlah area sekitar sejak pekan ketiga November 2025. Perusahaan energi pelat merah itu memastikan distribusi tetap berjalan di tengah hambatan cuaca, logistik, serta akses darat dan laut yang terbatas.
Upaya ini selaras dengan komitmen operasi Satuan Tugas Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Satgas Nataru) yang bertugas memastikan energi tersedia bagi masyarakat dalam kondisi darurat. Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) memperkuat pola suplai menggunakan berbagai moda transportasi, termasuk jalur laut dan udara, untuk menjamin keterjangkauan energi hingga ke daerah paling terdampak.
“Pertamina menyampaikan rasa prihatin atas musibah yang terjadi dan fokus pada distribusi energi agar tetap menjangkau masyarakat. Seluruh subholding bergerak bersama untuk memastikan suplai tidak terputus sekaligus menyalurkan bantuan kemanusiaan,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron.
Pertamina mengonfirmasi sarana dan fasilitas operasional di wilayah banjir dalam kondisi aman. Sejumlah pekerja yang terdampak telah mendapatkan dukungan internal, dan sebagian tetap bertugas melayani masyarakat. Pada sisi distribusi, kapal pengangkut BBM sempat terkendala gelombang tinggi di area Single Point Mooring (SPM) Belawan, namun dua kapal berhasil sandar dan melakukan bongkar muat.
Dukungan juga datang melalui pengiriman Helikopter Bell 412 EP milik Pelita Air Service dari Bandara Pondok Cabe menuju Kualanamu untuk mengangkut BBM serta logistik kemanusiaan. Armada udara tersebut disiagakan untuk misi penerbangan darurat ke Rantau, Lhokseumawe, Pangkalan Susu, dan wilayah kritis lainnya.
PT Elnusa Petrofin mengoperasikan armada tangki BBM ke sejumlah lokasi dengan medan sulit sekalipun. Perusahaan juga memastikan SPPBE Gunung Sitoli serta DPPU Sibolga dan Silangit tetap aman dan operasional.
Sebagai mitigasi pasokan, Pertamina menerapkan Regional Adjustment of Energy (RAE) dengan alih suplai Pertalite dan Biosolar dari Lhokseumawe, Siantar, dan Dumai, serta memprioritaskan SPBU berstatus stok kritis. Produk alternatif seperti Pertamax dan Pertamina Dex turut dimaksimalkan untuk menjaga kebutuhan energi harian warga hingga pasokan pulih normal. “Kami melakukan pemantauan intensif dan penyesuaian pola suplai di lapangan, termasuk koordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak penanganan bencana,” jelas Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun.
Melalui program Pertamina Peduli, bantuan darurat disalurkan berupa 600 dus mi instan, 50 karung beras, 120 kardus air mineral, hingga paket pangan serta perlengkapan bayi dan lansia. Sejumlah rumah sakit Pertamina di Langkat dan Aceh Tamiang dibuka sebagai lokasi pengungsian sementara dan tetap melayani kebutuhan medis warga.
Pertamina juga memperluas koordinasi dengan BPBD dan Pemprov Sumatera Utara untuk memetakan kebutuhan prioritas dan membuka opsi bantuan lanjutan mengikuti perkembangan situasi lapangan.
Sejak 13 November 2025, Satgas Nataru Pertamina aktif memonitor pasokan nasional guna mengantisipasi lonjakan kebutuhan energi di musim libur keagamaan. Di balik operasi tanggap darurat, Pertamina menegaskan agenda keberlanjutan sebagai fondasi bisnis, sejalan dengan target transisi energi dan komitmen Net Zero Emission 2060.
Masyarakat diimbau tetap tenang, membeli BBM dan LPG sesuai kebutuhan, serta melapor ke Pertamina Contact Center 135 bila menemukan kendala layanan di lapangan.

