Navaswara.com – Status “Green Card” tiga geopark Indonesia dari UNESCO diperpanjang untuk periode 2026–2029. Geopark Rinjani-Lombok, Kaldera Toba, dan Ciletuh-Palabuhanratu menjadi warisan keindahan alam yang memesona.
Tiga Geopark itu menjadi tempat pengetahuan geologi, budaya, dan kehidupan masyarakat. Status “Green Card” sebagai bukti keseimbangan terjaga.
UNESCO dalam keterangan resminya menilai ketiga kawasan tersebut mempertahankan standar tinggi dalam konservasi, edukasi, dan pembangunan berbasis masyarakat.
Bagi Indonesia, keberhasilan ini membuka peluang yang lebih luas. Dari peningkatan daya tarik wisata hingga kolaborasi internasional di bidang riset dan konservasi. Geopark, dalam konteks ini, bukan lagi sekadar destinasi, melainkan instrumen diplomasi.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Prancis, Mohamad Oemar, menilai pencapaian ini sebagai refleksi dari sesuatu yang mendalam.
“Pengakuan ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya memiliki kekayaan geologi yang luar biasa, tetapi juga mampu mengelolanya secara bertanggung jawab dan berkelanjutan,”kata Dubes Mohamad Oemar dalam pernyataan di Paris.
UNESCO tidak hanya memberi pengakuan, tetapi menyodorkan rekomendasi yang harus ditindaklanjuti. Rinjani-Lombok, diminta memperbaiki kualitas informasi publik serta meningkatkan akurasi edukasi mitigasi bencana.
Lebih dari itu, ancaman overtourism mulai mengintai. Ketika jumlah wisatawan meningkat, tekanan terhadap lingkungan ikut bertambah. Ini menjadi dilema klasik, antara membuka akses ekonomi dan menjaga kelestarian.
Kaldera Toba menghadapi tantangan yang berbeda. UNESCO menyoroti penyederhanaan tata kelola dan penguatan strategi edukasi. Danau yang terbentuk dari letusan dahsyat itu bukan sekadar tujuan wisata, tetapi juga laboratorium yang menyimpan cerita geologi dunia.
Keterlibatan masyarakat adat menjadi kunci. UNESCO menekankan bahwa pembangunan tidak boleh mengabaikan suara lokal. Pariwisata berkelanjutan, dalam konteks ini, bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga keadilan sosial.
Geopark Ciletuh-Palabuhanratu didorong untuk berinovasi. Teknologi seperti augmented reality dipandang dapat menjadi jembatan antara sains dan publik. Di sisi lain, aspek keselamatan infrastruktur wisata juga menjadi perhatian serius.
UNESCO juga menyoroti pentingnya peran perempuan dalam pengelolaan geopark. Sebuah pengingat bahwa keberlanjutan tidak hanya berbicara tentang alam, tetapi juga inklusivitas.
