Luhut Sebut Nasib Ekonomi Indonesia Tergantung Mazhab Purbaya

Navaswara.com – Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan, menilai arah dan nasib ekonomi Indonesia ke depan sangat ditentukan oleh “mazhab” kebijakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Menurut Luhut, wajar jika tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto masih diwarnai kekurangan di berbagai sektor, sebagaimana terjadi pada awal pemerintahan Joko Widodo satu dekade lalu. Namun, ia optimistis pertumbuhan ekonomi tahun ini bisa bertahan di kisaran 5,1–5,2 persen secara tahunan (year on year).

“Saya pikir Menteri Keuangan sudah mengatakan dengan 5,2 persen, mudah-mudahan 5,1–5,2 persen bisa didapat. Ini tergantung sekarang dengan mazhab Menteri Keuangan,” ujar Luhut dalam acara 1 Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran: Optimism on 8% Economic Growth di Jakarta, belum lama ini.

Luhut mengatakan dirinya mengenal baik cara kerja Purbaya sejak keduanya sama-sama berada di Kantor Staf Presiden (KSP). Ia menilai Purbaya adalah sosok yang peka terhadap dinamika pasar. Salah satu langkah yang diapresiasinya adalah keputusan Kementerian Keuangan untuk menggeser Rp200 triliun dana pemerintah dari Bank Indonesia ke bank-bank BUMN.

Menurut Luhut, langkah tersebut merupakan koreksi terhadap kebijakan lama yang dianggap terlalu berhati-hati dan justru menahan laju ekonomi.

“Selama ini gas dan rem jalan bersamaan. Pemerintah belanja, tapi BI menyerap kembali uangnya. Itu membuat base money kering. Sekarang Purbaya dorong supaya uang berputar,” katanya.

Ia menilai “mazhab Purbaya” yang berorientasi pada likuiditas pasar akan memperluas peredaran uang dan menggerakkan ekonomi hingga ke daerah-daerah.

“Langkah ini sudah mulai terlihat hasilnya. Tapi ini bukan cabai, yang langsung terasa begitu digigit. Butuh waktu, proses,” ucap Luhut.

Luhut juga menegaskan agar perbankan tidak hanya menempatkan dana di bank sentral untuk mengejar keamanan. “Kalau cuma simpan uang di BI, saya juga bisa jadi CEO bank,” ujarnya sambil berkelakar.

Menurutnya, perbankan harus berani mengambil risiko agar ekonomi bisa tumbuh. “Kalau NPL (Non-Perfoming Loan) naik, itu bagian dari bisnis. Karena tugas bank itu berdagang uang,” tambahnya.

Bagi Luhut, kunci keberhasilan kebijakan fiskal dan moneter terletak pada kerja tim. “Kita tidak bisa bekerja sendiri. Kalau kerja tim solid, ekonomi akan bergerak lebih cepat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *