Navaswara.com – Setiap kali Sherly Tjoanda berbicara, caranya menyusun kalimat terasa tenang dan terukur. Nada suaranya lembut, tapi setiap kata membawa keyakinan. Ia bisa berbicara panjang soal angka pertumbuhan ekonomi, lalu tanpa terasa beralih membahas laut, matahari sore, atau keluarganya dengan tatapan hangat.
Mungkin di situlah pesonanya. Perpaduan antara ketegasan seorang pemimpin dan kelembutan seorang perempuan yang tahu caranya menjaga keseimbangan.
Sherly, yang dulu dikenal sebagai Sherly Laos, kini memimpin Maluku Utara untuk periode 2025–2030. Di bawah kepemimpinannya, ekonomi daerah tumbuh cepat. Namun kisahnya tak berhenti di ruang rapat. Di balik jadwal padat dan keputusan-keputusan besar, ada sisi hidup yang hangat dan sederhana, tempat ia menemukan kembali dirinya sendiri.
Menggerakkan Maluku Utara lewat hilirisasi
Sherly memilih langkah berani, dalam mempercepat hilirisasi nikel dan kelapa agar Maluku Utara tak lagi berhenti di level bahan mentah. Ia ingin industri lokal tumbuh, membuka lapangan kerja, dan memberi manfaat langsung bagi masyarakatnya.
Usahanya mulai terlihat hasilnya. Pada kuartal pertama 2025, pertumbuhan ekonomi Maluku Utara mencapai 34,6 persen, angka yang jauh di atas rata-rata nasional. Namun bagi Sherly, angka hanyalah awal dari perjalanan panjang menuju pemerataan kesejahteraan.

Tak tinggal diam saat dana daerah dipangkas
Ketika dana transfer dari pusat berkurang, Sherly langsung bertindak. Ia mengajukan keberatan karena tahu betul dampaknya terhadap pembangunan di daerah.
Langkah itu memperlihatkan sisi lain dirinya: disiplin, tapi juga peka terhadap kebutuhan masyarakat. Ia percaya kepemimpinan bukan sekadar soal kebijakan, tapi tentang tanggung jawab menjaga kehidupan banyak orang.

Menemukan ruang tenang di laut
Di sela kesibukan, Sherly selalu menyisihkan waktu untuk berolahraga. Ia memilih kegiatan bersepeda, snorkeling, dan menyelam, sebagai aktivitas yang membuat pikirannya jernih dan tubuhnya tetap bugar. Di bawah permukaan air yang tenang, ia menemukan ruang sunyi yang memberinya tenaga untuk kembali menghadapi hari berikutnya.
Sherly menikah dengan Benny Laos di usia 21 tahun dan kini dikaruniai tiga anak. Masing-masing tumbuh dengan karakter yang kuat. Anak keduanya, Benneisha Edelyn Laos, menekuni dunia drifting dan pernah ikut Women Drift Challenge serta Indonesia Drift Series, bidang yang jarang digeluti perempuan.
Anak sulungnya, Bennet Edbert Laos, kini melanjutkan studi di Amerika Serikat. Meski jadwal Sherly padat, ia berusaha hadir di setiap momen penting anak-anaknya. Baginya, waktu bersama keluarga adalah energi yang menjaga keseimbangannya sebagai pemimpin dan ibu.

Hangat di tengah kesibukan publik
Lewat media sosial, Sherly kerap membagikan potongan kehidupannya sehari-hari. Ada foto keluarga di tepi pantai, ada pula momen senja yang diambil tanpa rencana. Semua terlihat apa adanya, sederhana tapi penuh makna.
Sisi inilah yang membuatnya terasa dekat. Di tengah tanggung jawab besar, Sherly tetap memberi ruang bagi hal-hal kecil yang membuat hidup terasa lebih utuh.
Sherly Tjoanda mengingatkan bahwa kekuatan perempuan tak selalu hadir lewat panggung besar. Kadang, kekuatan itu tumbuh dari keseimbangan: antara ambisi dan kasih, antara tanggung jawab dan waktu untuk diri sendiri, antara tegas memimpin dan lembut mencintai hidup.
