Navaswara.com – Di tepian Kapuas Hulu, deru alat tenun kembali terdengar lebih hidup. Lewat program Aram Bekelala Tenun Iban, Yayasan Kawan Lama ikut menguatkan langkah para perempuan Dayak Iban agar tradisi tetap terjaga sekaligus dapur terus mengepul.
Program ini berjalan di empat dusun dengan fokus pada peningkatan kapasitas penenun. Mereka mendapat pelatihan teknik tenun dan pewarnaan alami, belajar mengatur keuangan, sekaligus memahami cara membawa karya ke pasar yang lebih luas.
Hasilnya pun sudah terlihat dalam waktu satu tahun. Rata-rata pendapatan penenun meningkat hingga 360 persen, angka yang lahir dari proses belajar yang konsisten dan pendampingan yang rutin.
Ketua Yayasan Kawan Lama, Tasya Widyakrisnadi, menyebut program ini disiapkan sebagai langkah jangka panjang. “Kami ingin pelestarian budaya berjalan seiring dengan penguatan ekonomi masyarakat, sehingga manfaatnya bisa dirasakan terus menerus,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari pemerintah daerah. Wakil Bupati Kapuas Hulu, Sukardi, mengapresiasi ruang yang dibuka bagi perempuan penenun untuk berkembang dan mandiri secara ekonomi. Ia menilai tenun Dayak Iban punya nilai budaya sekaligus potensi penghidupan yang perlu terus didorong.
Bagi Kristina Anyun, salah satu penenun binaan, perubahan itu terasa dekat. “Kami jadi lebih percaya diri mengelola dan memasarkan hasil tenun. Sekarang kami merasa punya bekal untuk mengembangkan usaha sendiri,” katanya.
Dari sisi produk, inovasi ikut bergerak. Ada lima motif baru yang dikembangkan dan 58 motif lama yang didokumentasikan sebagai arsip budaya. Teknik pewarnaan alami pun meluas dari enam menjadi 69 variasi warna berbahan tanaman lokal seperti ketapang, daun kratom, hingga kayu tebelian.
Karya para penenun ini bahkan tampil di panggung nasional dan internasional seperti Jakarta Fashion Week 2026 dan World Expo Osaka 2025. Kolaborasi dengan Cita Tenun Indonesia dan desainer Wilsen Willim ikut membuka jalan baru agar tenun Iban makin dikenal.
Tahun 2026, program ini akan memperkuat kualitas desain, eksplorasi pewarna alam, serta kemampuan bisnis para penenun. Harapannya sederhana namun kuat, tradisi tetap hidup dan perempuan Dayak Iban berdiri lebih tegap dengan karya mereka sendiri.
Menutup pernyataannya, Tasya kembali menegaskan komitmen yayasan untuk terus mendampingi para penenun. “Kami percaya ketika perempuan diberi ruang untuk bertumbuh, dampaknya terasa sampai ke keluarga dan komunitas. Tenun Iban bukan hanya warisan budaya, tetapi juga jalan untuk masa depan yang lebih kuat,” tutupnya.
