Navaswara.com – Lonjakan aktivitas memasak dan belanja bahan makanan selama Ramadan berdampak pada meningkatnya volume sampah rumah tangga. Sisa makanan, kemasan plastik, hingga barang tak terpakai mudah menumpuk bila tidak dikelola sejak awal. Di tengah tren hidup sehat dan mindful living, kebiasaan memilah sampah terasa semakin relevan sebagai bagian dari gaya hidup sadar lingkungan.
Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional 2026 pada 21 Februari mempertegas urgensi pengelolaan limbah dari rumah. Tanpa pemilahan, beban tempat pembuangan akhir terus bertambah dan risiko pencemaran makin nyata. Momentum Ramadan dinilai tepat untuk menata ulang kebiasaan domestik agar lebih bertanggung jawab.
Produsen bahan bangunan Semen Merah Putih mengajak masyarakat menjadikan kebiasaan memilah sampah sebagai langkah kecil yang konsisten. “Peduli bukan hanya tentang program, tetapi tentang kebiasaan. Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan bersama,” ujar Nyiayu Chairunnikma, Head of Marketing Semen Merah Putih.
Kebiasaan tersebut dapat dimulai dari hal-hal berikut di rumah.
1. Terapkan tiga kategori dasar
Pisahkan sampah organik, anorganik, dan residu sejak dari dapur. Sisa makanan dan sayur masuk kategori organik, sementara plastik, kertas, kaca, serta logam termasuk anorganik. Residu seperti popok sekali pakai dan kemasan multilapis perlu dipisahkan karena sulit didaur ulang.
2. Tetapkan jadwal mingguan
Alih alih menunggu menumpuk, tentukan satu hari khusus untuk memilah dan merapikan sampah. Ritme yang konsisten membuat aktivitas ini terasa ringan. Kebiasaan kecil yang berulang lebih mudah bertahan dibanding gerakan sesaat.
3. Olah sampah organik di rumah
Sisa dapur bisa diolah menjadi kompos sederhana atau pupuk cair. Selain mengurangi limbah, kegiatan ini memberi pengalaman belajar bagi anak tentang siklus alam. Rumah pun menjadi ruang praktik kepedulian yang nyata.
4. Gunakan prinsip sebelum membuang
Tanyakan pada diri sendiri apakah barang bisa dipakai ulang atau didonasikan. Kardus dapat menjadi wadah penyimpanan dan pakaian layak pakai bisa diberikan kepada yang membutuhkan. Pola pikir ini membantu menekan konsumsi berlebihan.
5. Setor ke bank sampah
Menyetor sampah terpilah ke bank sampah kini semakin mudah di kota besar. Komunitas seperti Bank Sampah Induk Rumah Harum dan Pilah Sampah aktif menggerakkan warga agar konsisten memilah dari rumah. Langkah ini membantu mengurangi volume sampah ke TPA sekaligus memberi nilai ekonomi.
Industri juga mulai terlibat melalui inisiatif pengelolaan limbah terstruktur. Program SIRKULA C dari PT Cemindo Gemilang Tbk mengolah sampah organik menjadi kompos dan maggot serta memanfaatkan limbah anorganik berkalori tinggi sebagai bahan bakar alternatif RDF. Skema ini memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah dapat memberi manfaat lingkungan sekaligus peluang ekonomi.
Kebiasaan memilah sampah mungkin terlihat sederhana namun dampaknya berlapis. Ketika dilakukan bersama dan konsisten, langkah kecil di rumah dapat menjaga ruang hidup tetap sehat sepanjang Ramadan dan setelahnya.
