Eksklusif: Navaswara Audiensi dengan Pratikno, Bicara Keluarga, AI, dan Budaya Kerja Humanis

Navaswara.com – Percakapan tentang keluarga, teknologi, dan arah pembangunan manusia mengalir hangat saat Navaswara beraudiensi dengan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, di Jakarta, Rabu 18 Februari 2026, tanpa sekat birokrasi yang kaku.

Suasana pertemuan terasa cair, jauh dari kesan formal. Diskusi tidak berhenti pada agenda resmi, melainkan bergerak pada pertanyaan mendasar tentang bagaimana manusia tetap menjadi pusat ketika arus digital dan kecerdasan buatan bergerak semakin cepat menembus ruang hidup.

Isu kecerdasan buatan langsung mencuat dalam percakapan tersebut. Pratikno memperkenalkan buku Bijak dan Cerdas Ber-AI yang dirilis oleh Kemenko PMK sebagai pengingat bahwa teknologi membuka peluang luas, tetapi tanpa literasi kuat dapat memunculkan tantangan sosial baru.

“Kemampuan memahami teknologi digital kini menjadi keunggulan kompetitif. Namun, teknologi tetap harus dilihat sebagai alat, bukan pengganti manusia. Karena itu, literasi digital dan etika penggunaan AI menjadi perhatian serius pemerintah, terutama bagi generasi muda yang kini akrab dengan layar sejak usia dini,” ungkapnya.

Obrolan kemudian bergeser pada buku kedua, “Membangun Organisasi Cerdas dan Humanis”. Buku ini merangkum 107 kisah nyata dari internal Kemenko PMK sepanjang 2025. Bukan sebatas laporan program, melainkan transformasi organisasi dari menjaga kesehatan mental pegawai, membangun komunitas kerja yang lebih sehat, hingga pemanfaatan teknologi untuk kebijakan publik yang lebih presisi.

Menariknya, buku tersebut ditulis oleh banyak kontributor internal yang disebut “PMK citizen”. Pratikno berharap buku itu menjadi gerakan budaya, bukan dokumentasi semata. Menurutnya, ketika cerita datang dari banyak orang, nilai organisasi lebih mudah hidup dan berkelanjutan.

Ia menyebut ada tiga prinsip utama dalam membangun organisasi cerdas sekaligus humanis. Pertama, human first dan work-life balance. Lingkungan kerja yang sehat secara mental, menurutnya, adalah prasyarat inovasi. Organisasi yang mengabaikan keseimbangan hidup pegawai justru berisiko kehilangan produktivitas.

Kedua, pemanfaatan teknologi dan pengelolaan waktu. Semua orang memiliki waktu yang sama, 24 jam sehari. Perbedaannya terletak pada bagaimana pekerjaan dipilih dan diselesaikan. Di sinilah teknologi, termasuk AI, bisa membantu menyederhanakan proses kerja dan meningkatkan efektivitas birokrasi.

Ketiga, kolaborasi lintas peran. Tantangan pembangunan manusia semakin kompleks dari isu keluarga, kesehatan mental, hingga dampak disrupsi digital.

“Karena itu, birokrasi tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dengan masyarakat, komunitas, hingga sektor swasta menjadi kunci adaptasi,” tuturnya.

Konsep smart ministry yang ia dorong juga berangkat dari kesadaran tersebut. Teknologi digital dan AI dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi, transparansi, serta akurasi kebijakan publik, yang ia sebut sebagai precision policy. Namun ia mengingatkan, teknologi juga berpotensi memperlebar kesenjangan jika aksesnya tidak merata.

“Oleh karena itu, negara harus hadir memastikan teknologi justru menutup jarak sosial, bukan memperlebar. Teknologi harus membuka akses bagi yang tertinggal,” ia menegaskan.

Di sela audiensi, Navaswara juga merekam podcast “Bincang” bersama Pratikno. Topiknya tak jauh dari fondasi pembangunan manusia, yaitu keluarga. Ia melihat keluarga sebagai titik awal pembentukan karakter, kesehatan mental, hingga kesiapan generasi menghadapi masa depan digital.

Tantangan keluarga modern, kata dia, bukan hanya ekonomi, tetapi juga keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata. Karena itu, muncul gagasan mendorong migrasi dari screen time ke green time, lebih banyak aktivitas fisik, interaksi sosial langsung, dan kegiatan luar ruang sebagai penyeimbang kesehatan mental.

Dalam kesempatan itu, Pratikno juga mengapresiasi Navaswara sebagai media yang konsisten mengangkat isu keluarga dan budaya dengan gaya ringan, namun tetap substansial. Menurutnya, pendekatan komunikasi seperti itu penting agar isu pembangunan manusia terasa dekat dan relevan bagi publik.

Percakapan Navaswara bersama Pratikno akhirnya kembali pada satu benang merah bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan pusatnya. Pembangunan manusia, pada akhirnya, selalu bermula dari keluarga, keseimbangan hidup, dan kemampuan menjaga sisi humanis di tengah disrupsi digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *