Pendekatan Berbasis Pengalaman Mengantar OVALE Raih Creative Sales Campaign

Navaswara.com – Bagi banyak perempuan, rutinitas membersihkan wajah bukan sekadar langkah awal skincare, melainkan momen krusial untuk memastikan kulit tetap sehat. Menariknya, kita sering kali tidak butuh klaim yang muluk-muluk. Cukup melihat kapas yang berubah warna menjadi gelap setelah diusap ke wajah, rasanya sudah ada kepuasan tersendiri, bukan?

Sensasi segar dan bukti visual itulah yang menjadi penentu apakah sebuah produk layak jadi holy grail kita atau tidak. Berangkat dari pemahaman ini, OVALE hadir dengan pendekatan yang unik dan jujur dalam menyampaikan ceritanya.

Brand ini memilih menggunakan kapas kotor yang muncul setelah pemakaian produk sebagai bahasa komunikasi utama. Dari sini, kampanye #OVALEBeliKapasKotor lahir. Kapas kotor diposisikan sebagai bukti visual bahwa produk OVALE mampu membersihkan wajah sekaligus memberikan sensasi segar setelah digunakan. Rangkaian Face Care OVALE sendiri dirancang praktis dengan formulasi berbahan alami untuk mendukung kulit terasa bersih dan nyaman dalam rutinitas sehari-hari.

Pendekatan ini terasa selaras dengan kebiasaan perempuan muda saat ini. Banyak konsumen tidak lagi menjadikan iklan sebagai referensi utama. Mereka lebih percaya pada pengalaman yang bisa dilihat secara langsung dan dibuktikan sendiri. Hasil di kapas, rasa di kulit, dan respons setelah pemakaian menjadi pertimbangan yang jauh lebih bermakna.

Perubahan ini juga sejalan dengan pergeseran karakter Generasi Z di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik tahun 2025 mencatat kelompok usia kelahiran 1997 hingga 2012 sebagai populasi terbesar, dengan jumlah sekitar 74,93 juta jiwa atau hampir 28 persen dari total penduduk. Generasi ini dikenal kritis, rasional, dan terbiasa membagikan pengalaman personal. Cara mereka menilai brand sangat dipengaruhi oleh kejujuran pengalaman dan bukti yang bisa diverifikasi.

Melalui kampanye #OVALEBeliKapasKotor, OVALE mengajak audiens untuk terlibat langsung. Konsumen diberi ruang untuk menukar kapas kotor hasil membersihkan wajah menggunakan produk OVALE, baik melalui aktivitas offline maupun online. Kapas kotor menjadi medium untuk membangun kepercayaan yang lahir dari pengalaman nyata, bukan narasi sepihak dari brand.

Rangkaian aktivasi dilakukan secara menyeluruh di berbagai titik temu dengan konsumen. Secara offline, OVALE menyapa audiens di enam kota lewat roadshow yang mengajak konsumen mencoba produk dan menukar kapas kotor mereka dengan uang tunai. Di ranah digital, audiens berpartisipasi dalam tantangan #OVALEBeliKapasKotor di Instagram dengan mengunggah video kapas kotor melalui fitur Add Yours. Pengalaman personal pun menyebar secara organik dan saling menguatkan.

Pendekatan berbasis pengalaman ini menunjukkan hasil yang terukur. Selama periode kampanye, OVALE mencatat peningkatan brand recall dan brand trust, pertumbuhan pengikut media sosial, serta lonjakan organic reach. Dampak tersebut juga diikuti peningkatan penjualan di berbagai wilayah Indonesia berdasarkan data internal perusahaan.

Respons positif tersebut mengantarkan OVALE kembali mencatatkan capaian penting melalui penghargaan Creative Sales Campaign pada ajang Marketeers Youth Choice Award YCA 2026. Penghargaan ini diberikan langsung oleh Generasi Z melalui survei independen yang melibatkan lebih dari 1.500 responden di lebih dari 20 kota di Indonesia. Di tengah persaingan industri kecantikan, apresiasi ini menandai bahwa cara OVALE berkomunikasi masih sejalan dengan ekspektasi audiens muda.

Group Brand Manager OVALE, Olga Yandiguna, menekankan pentingnya membangun relevansi secara konsisten. “Penghargaan ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan tumbuh ketika brand mau mendengar dan melibatkan audiens secara nyata. Ini menjadi langkah awal bagi OVALE untuk terus berkembang bersama Gen Z,” ujarnya.

Sepanjang tahun ini, OVALE menyiapkan berbagai kegiatan kolaboratif bersama komunitas dan kreator, sekaligus memperkuat interaksi langsung dengan konsumen di berbagai touchpoint. Fokusnya tetap pada pengalaman nyata yang bisa dirasakan, agar hubungan antara brand dan audiens terus terbangun secara alami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *