Riset YouGov Ungkap 77 Persen Orang Indonesia Ingin Awet Muda tapi Masih Ragu Bertindak

Navaswara.com – Perawatan anti-aging atau antipenuaan kini semakin menjadi prioritas bagi masyarakat Indonesia. Sayangnya masih ada kesenjangan yang cukup besar antara niat dan tindakan nyata. Data terbaru dari laporan Forever Young yang dirilis oleh YouGov mengungkapkan bahwa 77 persen orang Indonesia percaya bahwa mencegah tanda-tanda penuaan itu penting, tetapi hanya 17 persen yang benar-benar mengambil langkah aktif untuk melakukannya.

Laporan ini mengeksplorasi lebih jauh peluang industri perawatan antipenuaan di Indonesia, menyoroti siapa saja yang paling antusias, apa yang mendorong perilaku tersebut, serta bagaimana jenama kecantikan dapat mengubah tingkat kesadaran menjadi sebuah tindakan nyata.

Tentu saja pandangan setiap orang tentang penuaan berbeda-beda. Meskipun mayoritas orang Indonesia atau sekitar 77 persen mengidentifikasi diri sebagai kelompok yang peduli dan menganggap pencegahan penuaan sebagai hal penting, ada 8 persen masyarakat yang bersikap netral dan hanya berfokus pada pemeliharaan. Sementara itu 12 persen lainnya cenderung tidak peduli atau acuh tak acuh terhadap upaya pencegahan tanda penuaan tersebut.

Pergeseran Tren Perawatan Lintas Generasi dan Gender

Fokus utama para pencinta kecantikan saat ini memang perlahan beralih pada langkah pencegahan ketimbang sekadar memperbaiki. Berdasarkan data, 87 persen perempuan menempatkan pencegahan penuaan sebagai prioritas utama mereka. Antusiasme serupa juga sangat kuat di kalangan generasi muda dengan 80 persen Gen Z dan 78 persen milenial menyetujui pentingnya hal tersebut. Hampir separuh dari kelompok Gen Z dan milenial atau tepatnya 49 persen mengaku sudah mulai mencoba bahkan rutin menggunakan produk perawatan anti-aging.

Walaupun perawatan kecantikan masih didominasi perempuan dengan tingkat penggunaan produk mencapai 53 persen, ketertarikan pria terhadap produk serupa ternyata juga mulai mengejar. Sekitar 43 persen pria mengaku turut menggunakan produk anti-aging dalam keseharian. Fakta ini menegaskan bahwa kesadaran merawat diri kini semakin meluas dan perlahan mendobrak batasan gender.

Dari Skincare Tradisional hingga Teknologi AI

Produk perawatan kulit tradisional seperti krim dan serum masih menjadi pilihan paling populer dengan 23 persen masyarakat Indonesia mengaku rutin menggunakannya, sementara 24 persen lainnya sangat tertarik untuk mencoba. Di samping produk oles, minat terhadap perawatan klinik tingkat lanjut juga mulai tumbuh subur khususnya di kalangan perempuan. Berbagai perawatan inovatif kini semakin dilirik, mulai dari suntikan vitamin booster yang diminati oleh 17 persen orang, perawatan tingkat seluler sebesar 16 persen, hingga tren perawatan laser resurfacing yang menarik perhatian 16 persen masyarakat.

Tren teknologi kecantikan berbasis kecerdasan buatan atau AI juga mulai mencuri perhatian publik. Sebanyak 71 persen masyarakat Indonesia menyatakan menaruh kepercayaan pada alat analisis wajah berbasis AI untuk mendapatkan rekomendasi produk yang sangat personal. Tingkat kepercayaan ini bahkan melonjak menyentuh angka 80 persen di kalangan mereka yang sangat fokus pada pencegahan tanda penuaan.

Peran Pakar Medis dan Peluang Industri Kecantikan

Di tengah kemudahan mencari informasi melalui internet, sosok pakar medis tetap memegang kunci kepercayaan tertinggi. Sebanyak 51 persen masyarakat Indonesia ternyata tetap mengandalkan rekomendasi langsung dari dermatolog dan pakar estetika sebelum menentukan rangkaian perawatan. Media sosial menyusul di urutan kedua sebagai sumber penemuan perawatan baru dengan porsi 37 persen, diikuti oleh kekuatan rekomendasi dari mulut ke mulut sebesar 29 persen.

Melihat fenomena kesenjangan antara niat dan tindakan ini, industri kecantikan memiliki peluang besar untuk mengambil peran edukatif.

“Data kami menunjukkan pembagian yang jelas antara mereka yang menganggap penting pencegahan tanda penuaan, mereka yang mengambil pandangan lebih netral dan berorientasi pada pemeliharaan, serta mereka yang sama sekali tidak memprioritaskannya. Perbedaan ini penting bagi jenama. Hal ini tidak hanya membentuk apa yang konsumen katakan ingin mereka coba selanjutnya, tetapi juga apa yang bersedia mereka bayar hari ini dan ke mana mereka mencari tahu tentang solusi baru,” ungkap Edward Hutasoit selaku General Manager YouGov Indonesia.

Sebagai catatan tambahan, wawasan dalam laporan ini bersumber dari Survei YouGov yang melibatkan lebih dari seribu responden representatif Indonesia secara daring pada periode 16 Desember 2025 hingga 12 Januari 2026. Temuan ini menegaskan satu hal penting bahwa walau kesadaran dan niat merawat kulit sudah sangat tinggi, angka konversi pembelian produk masih memiliki ruang besar untuk terus dieksplorasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *