Pemerintah Pastikan Pendampingan Anak Berjalan Selama Masa Pengungsian

Perlindungan Anak Tetap Jadi Prioritas di Tengah Masa Pemulihan Banjir

Navaswara.com – Masa pengungsian mengubah hari-hari anak menjadi serba sementara dan penuh keterbatasan. Ruang bermain berpindah ke tenda darurat, kegiatan belajar berjalan seadanya, dan rasa aman harus dibangun ulang sedikit demi sedikit. Dalam situasi seperti ini, kehadiran orang dewasa yang memberi perhatian dan kepastian menjadi kebutuhan utama.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, saat meninjau lokasi pengungsian korban banjir di Jalan Alur Pakis, Desa Harapan Makmur, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sabtu (3/1), serta Dusun Pengkolan, Kecamatan Sipirok, Kabupaten Tapanuli Selatan, Minggu (4/1). Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan hak anak dan perlindungan khusus tetap berjalan selama masa pemulihan, termasuk melalui pendampingan psikososial hingga keluarga menempati hunian yang disiapkan pemerintah.

“Anak-anak adalah generasi penerus bangsa. Dalam kondisi apa pun, mereka harus tetap merasa aman, bahagia, dan memiliki semangat untuk belajar serta meraih cita-cita,” ujar Arifah Fauzi di sela kunjungan. Ia menambahkan bahwa perempuan dan para ibu penyintas memegang peran penting dalam menjaga daya lenting keluarga selama proses pemulihan.

Di lokasi pengungsian, Menteri PPPA bersama jajaran meninjau langsung kondisi anak-anak dan perempuan terdampak banjir sekaligus menggelar pendampingan psikososial. Kegiatan dilakukan melalui aktivitas ringan dan edukatif, mulai dari bermain, bernyanyi, hingga pertunjukan boneka tangan. Ratusan anak mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias dan tampak menikmati suasana yang lebih hangat dan aman.

Arifah Fauzi mengaku terkesan dengan semangat anak-anak yang ditemuinya. “Saya melihat anak-anak di sini memiliki semangat yang luar biasa. Mereka saya tanya, ada yang ingin jadi tentara, polisi, pengusaha, bahkan presiden,” katanya. Menurutnya, semangat itu perlu dijaga agar anak-anak tetap percaya pada masa depan mereka.

Ia juga memastikan proses belajar tidak terhenti meski berada di pengungsian. “Kami sudah memastikan seluruh proses belajar mengajar tidak ada kendala sehingga hak pendidikan anak-anak tetap terpenuhi,” ujar Arifah. Bersama Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemen PPPA mendorong adanya afirmasi bagi satuan pendidikan agar kegiatan belajar menyesuaikan situasi anak di pengungsian atau penampungan sementara, dengan suasana yang aman dan menyenangkan.

Pendampingan tersebut, lanjut Arifah, sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia yang menempatkan perlindungan anak sebagai prioritas nasional. Melalui Pos SAPA dan Sub-klaster Perlindungan Anak, Kemen PPPA melibatkan berbagai elemen masyarakat lintas organisasi dan agama, termasuk Forum Anak, untuk mendampingi proses pemulihan dan menjaga motivasi anak-anak agar tetap melanjutkan pendidikan.

Wakil Bupati Langkat, Tiorita Br. Surbakti, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Menteri PPPA di wilayahnya. “Kehadiran Ibu Menteri menjadi penyemangat dan motivasi tersendiri bagi anak-anak serta masyarakat kami yang terdampak banjir,” ujarnya.

Selain pendampingan psikososial, bantuan berupa kebutuhan spesifik perempuan dan anak, perlengkapan sekolah, serta sarana edukatif juga disalurkan. Ke depan, Kemen PPPA berencana berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk memastikan perempuan terlibat aktif dalam proses pemulihan, termasuk penguatan kegiatan ekonomi keluarga penyintas yang selaras dengan kebutuhan lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *