Maduro Ditangkap AS, Menkeu Purbaya Nilai Rupiah dan Saham RI Justru Berpeluang Menguat

Navaswara.com – Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat (AS) mengguncang perhatian dunia internasional. Namun bagi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dinamika geopolitik tersebut justru berpotensi membawa sentimen positif bagi perekonomian Indonesia.

Alih-alih memicu kekhawatiran, Purbaya menilai ketegangan antara AS dan Venezuela tidak akan berdampak signifikan terhadap Indonesia. Bahkan, ia melihat peluang penguatan di pasar keuangan domestik, mulai dari nilai tukar Rupiah hingga pergerakan saham.

Menurutnya, respons pasar sejauh ini justru menunjukkan sinyal yang berlawanan dari dugaan awal. Ketika ketegangan geopolitik meningkat, indeks saham di dalam negeri malah bergerak menguat.

“Kalau Anda lihat pasar saham kan malah naik, kan? Jadi mereka melihat justru sedikit positif. Agak aneh sebenarnya, tapi itu yang dilihat pasar,” ujar Purbaya saat ditemui di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.

Tak hanya pasar saham, Purbaya juga optimistis nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS akan bergerak ke arah yang lebih positif. Ia menilai sentimen global dari peristiwa tersebut justru membuka ruang penguatan bagi mata uang domestik. “(Nilai tukar rupiah) harusnya positif,” katanya singkat.

Gejolak Politik dan Babak Baru Minyak Dunia

Gejolak ini bermula ketika militer AS melakukan operasi penangkapan terhadap Nicolas Maduro dan istrinya di Caracas, Venezuela, pada Sabtu (3/1). Setelah peristiwa tersebut, Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih kendali atas sektor minyak Venezuela.

Pernyataan itu langsung menyedot perhatian dunia, mengingat posisi Venezuela sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Berdasarkan OPEC Annual Statistical Bulletin 2025, cadangan terbukti minyak Venezuela mencapai 303,22 miliar barel. Jumlah tersebut setara dengan hampir seperlima dari total cadangan minyak global yang mencapai 1.566,86 miliar barel.

Perubahan kendali atas sumber daya strategis tersebut dipandang dapat mengubah peta pasokan energi global, termasuk arah aliran modal dan sentimen investor di negara-negara berkembang.

Nasib Kerja Sama Migas RI–Venezuela Jadi Sorotan

Di tengah dinamika tersebut, perhatian juga tertuju pada kerja sama energi antara Indonesia dan Venezuela. Sejak 2024, Indonesia telah menjajaki kolaborasi di sektor hulu minyak dan gas bumi dengan negara Amerika Latin tersebut.

Kerja sama itu ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Menteri ESDM periode 2019–2024 Arifin Tasrif dan Menteri Perminyakan Venezuela Pedro Rafael Tellechea. Namun, dengan bergesernya kendali minyak Venezuela ke tangan AS, arah dan kelanjutan kerja sama tersebut kini menjadi tanda tanya.

Situasi ini membuat perkembangan hubungan energi Indonesia dan Venezuela menarik untuk terus dicermati, seiring perubahan besar dalam lanskap geopolitik dan industri minyak global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *